CUAN BBM

CUAN BBM

Setahun yang lalu, harga minyak dunia turun ke level terendah sampai dibawah $40/barel. Penurunan itu bertahap mulai dari Februari 2020 hingga puncaknya menyentuh angka 30'an dolar di bulan oktober 2020.

Masa pandemi corona dianggap penyebab penurunan minyak dunia, seiring pembatasan aktifitas manusia.

Tahun 2020 harga BBM kita tidak mengalami penurunan mengikuti turunnya minyak dunia. Padahal menurut para pengamat BBM saat ini sudah tidak ada lagi subsidi kecuali Premium dan Solar. Premium sendiri sudah sangat langka di SPBU, diganti dengan Pertalite yang selalu tersedia pasokannya.

Sedangkan solar, setali tiga uang dengan premium. Diberi subsidi namun pasokannya kok seperti dikurangi. Jalan lintas Sumatera ujung Aceh sampai Lampung adalah saksi bagaimana susahnya mencari solar di SPBU.

Jika pun ada, antrian kendaraan seperti berlomba dengan ribuan jerigen masyarakat yang berjejer menunggu intruksi petugas untuk diisi.

Bicara kenaikan dan penurunan BBM, sebenarnya masyarakat udah pasrah atas bebalnya pejabat atas penguasaan pada sektor hajat hidup orang banyak ini. Para pejabat seperti lintah darat yang benar-benar memanfaatkan masyarakat untuk mengeruk keuntungan.

Kita selalu meninggikan Pancasila sebagai tujuan dengan pengartian 5 silanya. Namun sedikitpun para pejabat tidak pernah aplikasikan bagaimana penerapan 5 sila itu dalam kebijakannya.

Kita meminta keadilan yang seharusnya sangat mudah dilakukan. Ketika minyak dunia turun, maka turunkanlah harga BBM untuk rakyat. Biarkan rakyat menikmati penurunan harga minyak dunia karena janji pemerintah kemarin bahwa harga BBM akan mengikuti harga minyak dunia.

Namun kenyataannya, masyarakat seperti dikerjai habis-habisan oleh para pemangku kebijakan.

Berbagai alasan mereka beberkan kenapa belum menurunkan harga BBM kala minyak dunia turun harga. Dari alasan imiah sampai alasan pongah mereka katakan untuk mencari alibi agar dipercaya bekerja maksimal untuk rakyat. Tapi semuanya itu hanya CULAS.

1 tahun lalu adalah hak rakyat menikmati penurunan harga BBM, namun hak itu dikebiri karena negara lagi berpacu mencari keuntungan. Alih-alih mengejar pendapatan pada sektor lain, malah mengejar rakyat kecil dengan tetap mempertahankan harga BBM tanpa penurunan.

Akhir tahun ini harga minyak dunia merangkak naik sampai $80/barel. Kenaikan ini pastinya sudah membuat pemerintah gak sabar untuk menaikkan harga BBM. Berbagai ilustrasi penghitungan beredar di pemberitaan berapa kira-kira kenaikan BBM.

Pemerintah yang tega dengan Pertamina sebagai alatnya.

Masyarakat pasti gak ada pilihan selain menerima berapa kenaikannya. Mau meminta nurani dan empati, apa daya pemerintah saat ini laksana rentenir yang hanya untungkan cuan semata.

Seperti hidup di jaman kerajaan dengan raja yang tega menerapkan aturan brutal pada rakyatnya. Gak peduli bagaimana susahnya kehidupan, upeti harus bisa ditarik tanpa ada belas kasihan.

Jadi ingat gimana sopir-sopir truk berkisah saat mereka meradang mencari solar di jalanan.

Rakyat di adu dengan rakyat. Solar langka di SPBU karena masyarakat melakukan aksi pembelian dengan jerigen. Lalu jerigen-jerigen itu mereka jual di pinggir jalan dengan harga yang tinggi.

"BBM belum naik, tapi setiap hari kami telah rasakan kenaikan BBM sampai 30% bang. Harga di SPBU dan harga jerigen eceran, bisa beda 2000'an/liter. Masyarakat mengambil keuntungan pada kendaraan yang kehausan, dan ini seperti hukum rimba. Gak beli sama mereka mobil gak bisa jalan, beli sama mereka habis uang jalan.."

Hidup era ini seperti pepatah lama..

"Mati tak mau, hidup pun macam terpaksa.."

Met Pagi Indonesia, kecuali Opung dan Erick Thohir....

(Setiawan Budi)