SKINCARE PRABOWO 2024

SKINCARE PRABOWO 2024

By Setiawan Budi

Pilpres tahun 2019 lalu, banyak pihak yang menyayangkan keputusan Prabowo Subianto (PS) untuk mencalonkan diri kembali. Rentetan kegagalan sebelumnya dan mempertemukan dirinya dengan Jokowi kembali dianggap akan menuju hasil yang sama, kekalahan.

Kata beberapa orang yang saya kenal,

"Melawan Jokowi gak bisa nama PS kembali dinaikkan. Butuh figur baru yang bisa menjadi magnet untuk melawan Jokowi. Jika PS lagi, ya hasilnya akan sama juga."

Jawaban saya pada sang teman, figur baru itu belum ada yang berani maju. Hanya Gerindra yang dijadikan samsak untuk melawan Jokowi. Partai-partai besar seperti Demokrat saja gak ada hadirkan atau sodorkan nama tokoh yang bisa dijadikan pilihan. Bahkan Demokrat terkesan "melepas" pemilu 2019 dengan mengikuti apa tokoh yang ada.

Dan apa boleh buat, nama PS tetap dimajukan dan hebatnya dukungan memang sangat luar biasa. Namun hasil berkata lain.

Penilaian lainnya adalah..

Kemunculan nama PS di 2019 hanya beken pada pemilih di kubu oposisi. PS belum mampu menarik dukungan dari pemilih Jokowi yang kecewa pada kepemimpinan periode pertama.

Pemilu 2024

Pada pemilu esok, situasi jelas sangat berbeda. Ketokohan PS bukan hanya dikenal lewat nama seorang pemimpin partai saja, namun ada bukti kerja yang telah ia torehkan yang membuat namanya semakin melambung dikenal.

Jabatan menhan benar-benar sukses menaikkan nama PS untuk dikenal secara luas. Publik yang awalnya cenderung ragu saat nama PS dikemukakan, saat ini telah mengenal figurnya secara dekat. Mereka yang dulu termakan isu kasus 98, mulai terbuka pemikirannya bahwa PS tidaklah seburuk apa yang dituduhkan.

Perubahan sikap ini yang membuat nama PS selalu mengisi rilis lembaga survey dalam urutan teratas.

Publik bukan lagi mengenal PS sebagai tokoh oposisi. Melainkan sebagai tokoh perubahan yang telah membuktikan kerjanya sebagai Menhan.

Jika bicara apa hasil PS sebagai Menhan, maka akan sangat banyak perubahan yang telah beliau lakukan. Keberhasilan ini yang menjadi daya tarik PS Dimata publik dan namanya semakin intens menjadi pemberitaan.

Sebagai tokoh tua dan telah lama, nama PS gak goyah walau disandingkan dengan figur2 baru bentukan opini masyarakat. Ibarat kata, Prabowo saat ini bukanlah Prabowo yang dulu. Boleh kita sebut jika saat ini beliau MAKIN GLOWING. Makin bersinar dan makin dikenal karena Skincare sebagai Menhan.

Disandingkan dengan Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Sandiaga, AHY, dan tokoh-tokoh perubahan lainnya. PS tetap unggul memuncaki hasil jejak pendapat masyarakat. Berbagai rilis lembaga survey seperti gambar saat tiada nama PS sebagai tokoh yang masih berpengaruh kuat dalam pemilu 2024.

Bahkan saya sendiri berpikir, lembaga survey seperti sengaja memasukkan nama PS untuk memperlihatkan ada keseruan dalam polling yang mereka adakan. Ibarat kata, kalau gak ada nama PS maka polling mereka terasa hambar dan garing.

Bagi saya pribadi, nama PS sudah menjadi daya tarik sendiri.

Ada yang berkata pendukung PS dan Gerindra telah turun drastis. Padahal itu tidak benar, simpatisan dan pendukung PS masih solid dan terjaga. Justru semakin bertambah dari mereka yang dulu membenci malah sekarang memberikan apresiasi.

Bukti pilkada Sumbar tahun lalu, bisa dijadikan rujukan dalam menilai bagaimana dukungan publik pada Gerindra dan PS.

Di pilkada Sumbar, mengusung kader sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain. Pasangan Gerindra justru melesat di urutan ke-2 dengan perbedaan 3% dari pasangan koalisi PKS dan PPP. Artinya secara tunggal Gerindra masih mempunyai dukungan, dan jika diambil rata2 dukungan masyarakat ke partai, maka Gerindra tetap nomor 1 menjadi pilihan di basis suara mereka, Sumbar.

Padahal, saat pilkada dilakukan posisi Gerindra adalah partai koalisi pemerintahan Jokowi. Dan disebut pendukungnya telah banyak yang lari. Namun itu gak terbukti dengan hasil pilkada Sumbar sebagai faktanya.

Dibandingkan kandidat lain, hanya PS yang hampir mencapai kesempurnaan untuk modal pencapresan. Punya partai dengan jumlah kursi yang besar, kadernya solid dari hulu ke hilir.

Bandingkan dengan nama-nama lain yang digadangkan sebagai capres potensial. Anies dan Ridwan Kamil belum jelas siapa partai yang akan mengusung mereka. Ganjar Pranowo sampai saat ini seperti menggaruk dinding saat partainya justru berusaha menaikkan nama Puan sebagai unggulan. Demokrat ibarat pedagang asongan yang mencoba menjual nama AHY agar bisa dipasangkan, mencari peminat sembari memoles putra mahkota dengan berbagai cerita.

Harus jujur mengakui, bahwa PS bersama Gerindra memang telah siap menyongsong pemilu 2024 dengan kisah dan semangat baru.

Jadi saat Sekjend Gerindra mengumumkan bahwa PS akan kembali mencalon di pemilu 2024 esok, hal itu sudah melalui perhitungan yang matang dan optimisme bahwa hasilnya akan berbeda.

Kekuatan PS sudah berbeda dengan periode lalu. Jika dulu beliau muncul sebagai tokoh oposisi yang belum bekerja, saat ini beliau hadir dengan kinerja yang bisa menjadi berita.

Tinggal mencari formula lanjutan saja, bagaimana mengemas sebuah nama besar PS dengan kinerjanya sebagai Menhan, untuk dapat menyasar segala lapisan masyarakat tanpa memunculkan politik kebencian dalam kampanyenya.

Jika itu semua terlaksana, bukan mustahil Oktober 2024 kita sudah memiliki presiden baru dengan nama Prabowo Subianto.(*)