PASUKAN UTSMANI DI TENGAH INKUISISI

PASUKAN UTSMANI DI TENGAH INKUISISI

Kobaran api itu membumbung ke angkasa. Gemuruh takbir bersahut-sahutan dengan teriakan gaduh manusia. Kecamuk perang itu menggetarkan hati siapa saja yang menyaksikannya.

Hari itu, 10 Oktober 1518 menjadi saksi syahidnya Oruc Reis Barbarossa. Sang Admiral dari Daulah Utsmani yang telah menyerahkan jiwa raganya untuk menyelamatkan saudara-saudara kita dari Andalusia yang mengalami penganiayaan dan pembunuhan di bawah undang-undang inkuisisi pasca runtuhnya Daulah Islam di Andalusia.

Dengan kejam pasukan Spanyol merengsek maju. Kepala Sang Mujahid dipenggal. Tubuhnya dibiarkan begitu saja, sementara kepalanya dikirimkan sebagai bukti pada Raja Ferdinand II dan Isabella.

Kapal Oruc Barbarosa adalah salah satu yang berjasa membawa saudara-saudara kita dari Andalusia meninggalkan tanah derita. Sekalipun harus ditebus dengan nyawanya.

Jauh sebelum peristiwa itu, Sultan Beyezid II yang bertahta juga berusaha menyatukan kekuatan dengan daulah Mamluk yang berkedudukan di Mesir melalui sebuah kesepakatan.

Utsmani akan mengirimankan armada laut ke Sisilia yang berada di bawah kekuasaan Spanyol. Adapun Sultan Mamluk berkewajiban menyerang Spanyol dari Afrika Utara.

Dikirimlah Laksamana Kamal Reis yang masyhur di seluruh Mediterania sebagai ahli strategi yang brilian untuk memimpin pertempuran.

Spanyol gentar dan meminta bantuan Prancis serta Venesia di Teluk Lapanto pada 1499. Pertempuran tersebut berakhir dengan gencatan senjata antara kedua kubu.

Persekusi tak hanya dilakukan oleh Ferdinand dan Isabel di wilayah Spanyol, namun juga oleh penguasa Portugal yang bernama Pangeran Henry (Henrique O Navegador).

Ia sangat membenci Islam. Dalam banyak kesempatan ia sampaikan, “Khidmat utama yang kita persembahkan kepada tuhan adalah dengan mengusir orang-orang Arab dari negeri ini (Iberia) dan memadamkan obor api pengikut Muhammad.”

Lebih mengerikan lagi, ia menyimpan rencana jahat untuk mencuri jenazah Rasulullah SAW yang akan digunakan sebagai sandera dalam perundingan dengan Muslimin.

Salah satu ucapannya yang terkenal, “Tujuan utama kita sampai ke tempat-tempat suci orang Islam, memasuki Masjid Nabawi dan mengambil jasad Muhammad. Kita jadikan itu barang gadai dalam perundingan dengan orang Arab untuk merebut Yerusalem.”

Bisa jadi Ferdinand, Isabel dan Pangeran Henry telah lama mati, namun semangat para pembenci agama Islam ini akan terus lestari.

(By Uttiek)