Kualitas Pertanyaan Jurnalis BBC kepada Presiden Jokowi, Sudah Seharusnya Membuat Malu Jurnalis dan Media di Indonesia

"Kualitas pertanyaan dari jurnalis BBC Karishma sudah seharusnya membuat malu jurnalis dan media di Indonesia. Bagaimana intonasi, mimik dan tentu saja pertanyaan yang berbobot. Sudah seharusnya malu! Karishma menguji kualitas orang yang diwawancarai, bukan menadah ludah narasumber!" (@aji_surabaya)

Banyak orang menyoroti jawaban Jokowi atas pertanyaan wartawan BBC ini. Jawaban yang gak menjawab garis merah pertanyaan si wartawan. 

Kesan yang didapatkan, Jokowi tidak mengakui kesalahannya bahkan berkilah bahwa pemerintahannya sudah melakukan yang terbaik.

Yang menarik dari wawancara ini adalah, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh BBC sangat tajam dan menohok. Pertanyaan ini yang gak kita liat dari wartawan-wartawan Indonesia. Wartawan kita hanya bekerja sebatas kerja, mengutip berita melalui biro informasi pemerintahan dan menyebarkan melalui portal-portal media mereka. 

Gak ada penggalian, gak ada investigasi dan sesi bertanya yang tajam pada narasumber yang dijadikan berita. Kesannya, wartawan kita hanya kerja tanpa jiwa. 

Jiwa wartawan itu seharusnya menggali informasi yang akan menjadi pertanyaan publik atas bahasan yang diangkat. 

Ibarat menyaksikan sesi memasak, yang dilakukan wartawan Indonesia hanya mengcopy selebaran yang dibagikan padanya mengenai apa saja bahan yang dibutuhkan dan bagaimana perlakuan pada bahan-bahan tersebut lengkap dengan berapa kebutuhannya dan bagaimana cara menyajikannya, lengkap karena begitulah yang tertulis dalam selebaran. 

Selesai acara masak memasak, mencicipi hidangan dan selesailah sesi tersebut dengan amplop sebagai uang transport telah berpindah tangan. 

Wartawan luar, ketika membaca kertas yang dibagikan mengenai bahan-bahan masaknya. Dia akan menggali per item bahan, apakah bisa diganti dengan bahan lain? Mengapa harus pakai mentega, apakah gak bisa memakai minyak goreng biasa? Dan kenapa harus direbus, bagaimana jika di kukus saja? 

Dan ketika mencicipi, mereka pun akan jujur menuliskan rasanya.

Kita punya Najwa dan Rosi sebagai presenter dengan pertanyaan yang tajam. Namun dalam prakteknya, saat berhadapan dengan orang ternama dan berpengaruh, ketajaman pertanyaan mereka sedikit meleset. Yang ada hanya canda dan tawa belaka, untuk memberi kesempatan presiden bisa berkilah. 

Yang unik di Indonesia, wartawannya sibuk memperhatikan sosial media dan menjadikan keributannya sebagai bahan berita yang meminta jawaban penguasa. Bukan wartawan yang seharusnya bertanya pada penguasa, melainkan wartawan menunggu kehebohan sosial media, untuk mereka angkat dan menunggu jawaban dari penguasa. 

Dan ketika penguasa menjawab melalui biro pers dan humasnya, maka wartawan seolah sudah bekerja melaksanakan tugasnya. Hanya mendengar tanpa perlu banyak tanya. 

Emejing kan...👍👍

Seperti apa presidennya, seperti itulah jurnalisnya. Setali tiga uang mereka...

(Setiawan Budi)