Jonru: 3 Pengalaman Unik bersama Film SQUID GAME

TIGA PENGALAMAN UNIK bersama Film SQUID GAME

Oleh: Jonru Ginting

Saya aslinya bukan pencinta film dan tak pernah langganan Netflix. Namun film Squid Games bikin saya penasaran luar biasa. Bukan karena film ini sedang viral-viralnya. Tapi karena temanya berhubungan dengan masalah UTANG. Sesuai dengan bisnis saya di PT BEST yang merupakan solusi bebas hutang bebas riba hehehe... (Pembahasan tentang hal ini bisa dibaca di https://www.facebook.com/jonrugintingbaru/posts/405972904430689)

Maka saya pun bela-belain langganan Netflix selama sebulan, hanya agar bisa menonton film Squid Game ini.

Setelah menonton, saya terkejut karena film ini bisa dibahas dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mulai dari sudut pandang kemanusiaan, bisnis, politik, agama, dst. Dan semuanya menarik!

Nah, kali ini saya mencoba membahasnya dari sudut pandang PERSONAL saja, namun semoga bermanfaat bagi kita semua.

SATU:

Inilah film pertama yang membuat saya TRAUMA. Saya benar-benar heran saat membaca berita, di luar sana banyak sekali beredar boneka anak "lampu merah lampu hijau", dan dijadikan objek wisata yang lucu. Saya justru benci banget melihat boneka ini, karena bagi saya tekesan sangat kejam dan sadis.

Barusan saya juga melihat video di sebuah tempat, ada pria berseragam ala staf Squid Game yang berwarna merah itu. Dia pun dikerumuni oleh banyak orang, dan diajak foto bareng. Padahal saya justru trauma dan benci melihat sosok tersebut.

Squid Game hanya film, tapi entah kenapa justru membuat saya trauma dan benci pada sosok-sosok jahat di sana.

Baru kali ini saya bersikap seperti ini setelah menonton sebuah film.

DUA:

Di film ini ada tokoh bernama Ali, seorang imigran dari Pakistan dan beragama Islam. Uniknya, Ali merupakan tokoh di Squid Game yang paling baik hati, paling tulus, paling suka membantu sesama, juga sekaligus paling lugu. Intinya:

Lewat tokoh Ali, Islam digambarkan sangat positif. Berbeda dengan film-film Hollywood yang biasanya menggambarkan Islam dengan citra yang sangat buruk.

Walau pembuat film Squid Game adalah nonmuslim, tapi dugaan kuat saya mereka tidak anti Islam, bahkan mungkin simpati pada Islam. Sebab menghadirkan tokoh Ali pada film ini tentu bukan kebetulan belaka. Pasti ada maksud tertentu.

Jika mau, mereka bisa membuat film yang seluruh tokohnya adalah nonmuslim. Artinya, kehadiran Ali yang muslim di film ini pasti mengandung PESAN tertentu.

TIGA:

Di akhir cerita, tokoh Ki Hoon (Lee Jung Jae) berhasil menjadi pemenang dan berhak membawa pulang uang senilai Rp 500 miliar lebih. Anehnya, hingga setahun kemudian, Ki Hoon tidak mengambil sepeser pun uang tersebut. Sebab dia masih trauma oleh peristiwa-peristiwa buruk pada permainan Squid Game. Mungkin dia merasa bersalah, karena di balik uang sebanyak itu, ada ratusan orang yang telah mati terbunuh.

Saya terkesima pada adegan di bagian ending film ini. Sebab sejujurnya, saya pun pernah mengalami kejadian yang lebih kurang sama, walau jumlah uangnya hanya Rp 1 juta.

Ya, itulah kejadian setelah dulu saya diundang ke acara ILC. Tentu Sahabat semua tahu, peristiwa apa yang terjadi saat saya berdebat dengan seorang tokoh berinisial AF.

Honor Rp 1 juta yang diberikan oleh panitia acara, tetap saya biarkan tersimpan di tas, tidak pernah saya ambil isinya. Entah mengapa, ketika itu saya merasa sangat malas mengambil uang itu.

Barulah ketika benar-benar butuh uang, saya membuka amplopnya dan mengambil isinya.

Saya merasakan bahwa SECARA PSIKOLOGIS, yang saya alami mirip dengan tokoh Ki Hoon, walau dalam nuansa yang jauh berbeda.

Nah, itulah TIGA pengalaman personal saya bersama film Squid Game.

Jangan khawatir. Saya berlangganan Netflix insya Allah sebulan saja kok, itu pun cuma paket yang paling murah. Saya tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan nonton film sesering mungkin. (fb)