JANGAN BIARKAN SUARA AZAN MENGHILANG!

JANGAN BIARKAN SUARA AZAN MENGHILANG!

Oleh: Azwar Siregar

Saya sekarang kebetulan tinggal di Perumahan Multiras di Sepatan. Tetangga Blok saya saja ada beberapa yang Non Muslim.

Depan Rumah bahkan seorang etnis Tionghoa. Agamanya kemungkinan besar Konghuchu.

Persis dibelakang Rumah si Tetangga, hanya dibatasi Rumah dibelakangnya adalah Masjid Komplek.

Otomatis, setiap Subuh, suara Dzikir dan Azan Subuh sangat keras terdengar dari dalam rumahnya.

"Mengganggu?"

Saya kira tidak. Tetangga saya itu baik-baik saja. Justu kami semua termasuk kompak dan sangat harmonis.

Nah. Saya harus jelaskan tambahannya. Perumahan kami tidak terlalu jauh dari Bandara. Sekitar 17 kilometer. Kalau ditarik garis lurus, kemungkinan cuma 7 atau 8 kilometer.

Jadi otomatis, setiap waktu, termasuk disaat Subuh, suara dari atas Langit dari Pesawat yang bolak-balik lewat terdengar bergemuruh. Bisingnya bisa 10 kali lipat dari suara Azan.

"Mengganggu?"

Pertama kami pindah ke sini. Iya!

Saya bahkan sampai terbawa mimpi. Ikut Perang Gerilya bersama Pak Dirman. Keluar-masuk Hutan. Tiba-tiba lewat Pesawat Pembom Belanda. Kami serentak tiarap.

Tiba-tiba terdengar suara Dzikir dari Masjid.

Saya kemudian terbangun. Saya sampai keringat dingin. Tadi bermimpi tiarap sambil menutup telinga. Ketakutan. Bangun-bangun, posisi tangan saya masih di telinga.

(TERIMA KASIH JENDERAL. DAN SEMUA PEJUANG KEMERDEKAAN NEGERI INI).

Nah, pertanyaannya "Apakah karena saya merasa terganggu, saya akan memprotes Bandara Sukarno Hatta dan meminta agar jadwal Penerbangan Pagi apalagi Tengah Malam ditiadakan?".

Tentu saja tidak bisa. Kalau merasa terganggu, saya yang harus pindah. Mencari Perumahan yang jauh dari Bandara.

Saya kira demikian juga. Buat sahabat-sahabat yang merasa terganggu dengan suara Azan, coba dipertimbangkan untuk tinggal di wilayah minoritas Umat Islam.

Saya kira pemaknaan Toleransi kita mengalami degradasi yang cukup memprihatinkan. Seakan-akan Pemaknaan Toleransi hanya menyasar dan dipaksakan kepada Umat Islam. Sama seperti kasus Terorisme.

Padahal di Eropa ada juga "pemaksaan" untuk menerima yang katanya budaya dan nilai-nilai Eropa modern. Misalnya Sekularisme.

Dan kita tidak pernah menuduh orang Eropa sebagai Kelompok Intoleran karena terus memaksakan nilai-nilai mereka kepada "Kelompok Pendatang" atau Imigran.

Sebaliknya, umat Islam di Negeri ini berkali-kali menerima stempel Negatif. Dianggap Intoleran karena tidak mau menyesuaikan diri dengan kepentingan "Pendatang".

Tidak perlu jauh-jauh ke Eropa. Di Bali ada Penutupan Bandara di Hari Raya Nyepi. Dan kita menganggapnya biasa-biasa saja.

Di Manokwari ada upaya memasukkan "Perda Injil". Misalnya melarang aktivitas yang mengganggu Ibadah Minggu, termasuk jual-beli. Saya kira sah-sah saja.

*Note: Tulisan saya ini balasan upaya penggiringan Opini membuat suara Azan hanya terdengar di dalam Masjid.

(fb)