Buya Gusrizal: Wahai segenap tumpah darah bangsa Indonesia, berhentilah menjadi PENGUNDANG KEHANCURAN !!!

PENGUNDANG KEHANCURAN

Semua manusia yang hidup di Tanah Air ini menginginkan ketentraman. Keinginan itu sangatlah beralasan karena memang potensi negeri ini begitu hebat dianugerahkan oleh Allah SWT.

Pujian kekaguman terungkap dalam berbagai tamsilan. Bagaikan zamrud khatulistiwa atau sebongkah tanah surga adalah di antaranya. Kemakmurannya bisa terwujud walaupun tanpa sentuhan selama tidak dirusak oleh tangan kezhaliman.

Alangkah ringannya tugas anak-anak negeri ini. Cukup jangan merusak maka kamu sekalian akan hidup dalam kemakmuran, insya Allah.

Namun yang sangat menyedihkan, sekedar menahan diri dari berbuat fasad (kerusakan) pun tak mampu dilakukan oleh anak bangsa ini.

Tangan-tangan jahil menebarkan bencana.

Alam merana, nyawa terancam, harta tak terjaga dan kehormatan ternoda. 

Anehnya….

Para penguasa menimpakan kesalahan semuanya kepada rakyat, khususnya umat.

Sedangkan mereka, bagaikan malaikat tanpa dosa.

Rakyat berteriak, jawabannya, “itu radikal”.

Rakyat bergerak, jawabannya, “itu teroris”.

Rakyat mengkritik, jawabannya, “itu hoaks”.

Ujung jawaban senantiasa dikunci dengan segala “anti” seperti anti kebhinnekaan dan anti Pancasila.

Para ulama dipakai untuk menyampaikan satu pesan yaitu “sabar dan taat” karena mereka adalah ulil amri yang mutlak harus ditaati berdasarkan fatwa ahli lingkaran kekuasaan.

Bagi siapa yang tak mau menjadi corong pesan kekuasaan, pasal demi pasal sedang mengintai.

Apakah ini akan bertahan lama? Apakah semua itu tak akan menjadi pengundang bencana?

Pertanyaan itu sering terlontar sebagai ungkapan kegelisahan dan kekesalan. Andaikan pertanyaan itu dijawab dengan pernyataan Umar Ibn al-Khatthab ra berikut ini, tentu sudah sepatutnya kita lebih waspada.

Umar Ibn al-Khatthab ra berkata: "Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur." Ada yang bertanya, ”Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Beliau‏ menjawab, ”Jika kedudukan orang-orang durjana lebih tinggi dibandingkan orang-‏orang yang baik dan para munafik menjadi tuan kabilah tersebut.”‏ (Kitab al-Jawab al-Kafi)‏

Waspada bukan bermakna menerima dan menunggu pembalasan di akhirat untuk para pelaku kezhaliman karena mereka belum tentu percaya dengan adanya hari itu.

Sikap waspada harus diiringi dengan segenap usaha untuk memperbaiki karena bila kekejian mendominasi suatu masyarakat, keberadaan orang shalih tak akan menjadi penghalang turunnya kebinasaan.

Dari Zainab binti Jahsy ra bahwa Nabi SAW datang kepadanya dengan keadaan‏ kecemasan sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena‏ keburukan yang telah dekat, hari ini telah terbuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti‏ ini”. Beliau memberi Isyarat dengan membuat lingkaran mempergunakan dua jari‏ yaitu ibu jari dan jari telunjuk.‏ Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa‏ sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”. Beliau‏ menjawab: “Iya kita akan binasa jika keburukan telah merajalela”.‏ (HR. al-Bukhari)‏

Mengingat semua itu, wahai segenap tumpah darah bangsa Indonesia, berhentilah menjadi PENGUNDANG KEHANCURAN !!!

Buya Gusrizal 
(Ketua MUI Sumbar)