Ancang-ancang Ridwan Kamil di Pemilihan Presiden 2024

[PORTAL-ISLAM.ID] Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memberi sinyal kuat bakal mengikuti pemilihan presiden 2024. Mantan Wali Kota Bandung itu kini berancang-ancang menjadi anggota partai politik pada tahun depan. "Sudah saatnya (berpartai), sehingga dinamika-dinamika karena selama ini belum berpartai bisa dikurangi," kata Ridwan di Bandung, Sabtu lalu.

Emil—sapaan akrab Ridwan Kamil—memulai karier politiknya pada 2013. Berangkat dari kalangan profesional, Emil yang berprofesi sebagai arsitek itu diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) maju sebagai Wali Kota Bandung. Pasangannya, Oded Muhammad Danial, berasal dari PKS. Pasangan ini unggul telak atas tujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24 persen suara.

Dalam pemilihan gubernur Jawa Barat 2018, Emil kembali maju meski tak menjadi anggota partai. Berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum, Emil diusung empat partai, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP)—partai asal Uu—dan tiga partai lainnya: Partai Kebangkitan Bangsa, Partai NasDem, serta Partai Hanura. Pasangan ini menang dengan meraup suara 32,88 persen.

Menjelang pemilihan presiden 2024, Emil membuka peluang dirinya mengikuti persaingan perebutan kursi orang nomor satu se-Indonesia. Emil bersikap merendah dengan berujar, "Kalau memang Tuhan takdirkan, tentunya kita jalani. Tapi, kalau tidak ada takdirnya, tidak ada masalah karena hidup itu yang penting bermanfaat, apa pun judul hidup saya."

Emil mengatakan sudah menjajaki sejumlah partai politik. Penjajakan tersebut sekaligus untuk memilih salah satu partai politik yang akan menjadi tempatnya berlabuh. Terakhir, ia menghadiri workshop yang digelar Partai Amanat Nasional (PAN) di Badung, Bali. Dalam kesempatan itu, Emil mengisyaratkan siap diusung PAN untuk pemilu presiden 2024. "Kalau ada sebuah pintu terbuka, misalkan dari PAN, saya bismillah. Tapi, kalau tidak, tidak masalah karena Allah yang akan tentukan," ucap Emil saat menjadi pembicara dalam workshop PAN, tiga pekan lalu.

Setelah menjadi pembicara, Emil menegaskan kembali niatnya untuk maju pada pilpres 2024. Menurut dia, setiap dukungan untuk maju sebagai calon presiden atau wakil presiden yang datang dari partai politik tidak boleh ditolak. "Asal dukungannya baik. Saling menguatkan pastilah itu. Kerja sama politik yang kita tunggu-tunggu," ujarnya.

Tak hanya PAN, Emil mengklaim sudah menjajaki semua partai. Ia mengatakan partai politik yang menjadi kriterianya adalah yang paling kuat kepancasilaannya dan ke-NKRI-annya. "Semua partai sudah ketemuan. Dari ketua umumnya, dewan syuro atau dewan penasihatnya, pendirinya. Kan butuh waktu," ujar dia.

Meski sudah mengambil ancang-ancang untuk menjadi anggota partai, Emil mengatakan prioritasnya saat ini adalah mempertahankan kursi jabatan Gubernur Jawa Barat di periode kedua. Periode pertama jabatan Emil akan berakhir pada 2023. “Saat itu, posisinya insya Allah sudah berpartai,” ucap dia.

Ia menekankan kontestasi pemilihan presiden 2024 masih menunggu ada-tidaknya kesempatan. Menurut Emil, melanjutkan periode kedua jabatan gubernur merupakan hal utama dan lebih mudah dihitung dalam kalkulasi politik. “Kalau 2024, nasional, masih terlalu tidak terbaca. Kita ikut, mengalir saja,” kata dia.

Adapun Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno, mengatakan partainya belum membahas tokoh yang bakal diusung pada pilpres 2024. Pokoknya, kata Eddy, mengusung kader sendiri adalah kebanggaan. Namun PAN bakal bersikap realistis untuk tidak memaksakan jika tidak ada kadernya yang mampu maju sebagai calon. “Kami harus memutuskan lebih dulu di lingkup internal partai,” kata dia.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai keinginan Emil ikut bursa pilpres 2024 besar, tapi tak sebanding dengan peluangnya. Hal tersebut, kata dia, terlihat dari tidak adanya kedekatan antara Emil dan partai politik saat ini. Popularitas Emil juga masih terpusat di Jawa Barat. "Itu pun tidak dominan," ucap Dedi.

Menurut Dedi, setidaknya Emil harus bisa melalui berbagai palagan pertarungan untuk diusung partai. Saat ini, ada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sama-sama berpeluang. "Bahkan bisa saja Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan mantan calon wakil presiden Sandiaga Uno pun berada di kelompok ini," kata Dedi. "Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh itu, Ridwan Kamil jelas kepayahan."

Penilaian senada disampaikan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, bahwa peluang Emil mendapat tiket menuju pilpres 2024 masih berat. Sebab, hampir semua partai sudah memiliki kader untuk diusung. Hal yang paling mungkin, kata dia, melalui Partai NasDem yang mengajukan calon melalui jalur konvensi. "Itu pun belum tentu menang konvensi. Partai lain cenderung ingin agar kader mereka yang maju," katanya.

Adi menyebutkan Emil memiliki tugas besar mencari dukungan partai politik. Untuk mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum, Emil harus diusung partai-partai yang memiliki ambang batas pencalonan presiden 20 persen atau setara dengan tiga partai menengah. Pekerjaan selanjutnya, kata Adi, Emil harus menaikkan elektabilitas. "Karena elektabilitas Ridwan Kamil masih kalah jauh dari Prabowo, Ganjar, Anies, dan lainnya. Kalau dilihat, peluang Ridwan Kamil tentu ada, tapi tak mudah," ucap dia.

Adapun Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting, Sirojudin Abbas, berpendapat bahwa Ridwan Kamil memiliki peluang cukup bagus jika bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia menjelaskan, saat ini partai politik masih bergantung pada kekuatan tokoh sebagai penarik suara. Hal itu, kata dia, yang menyebabkan partai-partai berusaha menciptakan ketokohan dari lingkup internal partainya. Misalnya ketua partainya. "Sebab, jika tokoh tersebut menguat dan diterima pemilih, efeknya akan positif bagi partai keseluruhan," kata dia.

Tapi, menurut Sirojudin, jika tidak memiliki calon dari lingkup internal yang kuat, partai akan mencari tokoh dari luar yang memiliki magnet elektoral kuat. Bahkan, sering kali, partai-partai  berkerumun di sekitar tokoh tersebut. Karena itu, Ridwan Kamil bisa memanfaatkannya untuk membangun reputasi elektoral yang positif sehingga sangat mungkin didekati partai. Apalagi, jika Ridwan Kamil mampu masuk ke kelompok front runner atau pelopor. "Maka nilai tawarnya di hadapan partai politik otomatis akan menguat," ujar dia.

Sirojudin menyarankan Ridwan Kamil memprioritaskan upaya memperbesar basis dukungan. Untuk itu, Ridwan Kamil harus meningkatkan popularitas dan menjaga kualitas kinerjanya agar lebih disukai pemilih. "Target itu bisa dicapai dengan memenangi dukungan mayoritas warga Provinsi Jawa Barat. Provinsi ini memiliki populasi paling besar dan paling beragam," ucap dia.

(Sumber: Koran Tempo)