2024 Harus Berubah

"Malu Mau Politik Erick". Begitu headline Koran Tempo (15/10/2021): Erick Thohir disebut-sebut sudah membentuk tim persiapan Pilpres 2024; berbagai akun gencar mempromosikan Erick di medsos; sejumlah lembaga sempat mendeklarasikan dukungan.

Yang saya tulis setidaknya setahun terakhir ini mulai terendus, tho. Rumor menjadi berita. Teori trading-nya sih jangan beli. Harga sudah di pucuk. Sebentar lagi ada distribusi massif.

Mau ngakak baca liputan itu. Mereka masih pakai cara zaman batu. Buat akun medsos berdalih kuis berhadiah iPhone terbaru, emas, motor, sepeda, hingga jam tangan. Syarat ikut kuis jadi follower Instagram Erick.

Menurut Tempo, tim digawangi Wishnutama (bekas Menparekraf, kini Komisaris Telkomsel), Prabu Revolusi (bekas anak Kedoya/Metro TV, mantan jubir Wishnutama), dan Yose Rizal.

Seperti mudah diduga, dibantahlah itu semua oleh Ratna Irsana, asisten pribadi Erick dan Arya Sinulingga, stafsus Kementerian BUMN. Tahulah siapa orang-orang ini.

Beberapa hari terakhir, akun-akun hantu juga mulai bangkit. Dipikirnya medan masih sama seperti satu dekade lalu. Ketak-ketik 100-an karakter, caption-caption cantik, tawaran kuis-kuis, status-status influencer berbayar, akun-akun tidak jelas identitasnya, komentar-komentar asal mangap tanpa data...

Sasarannya adalah milenial, pemilih pemula. Milenial silakan saja ha-ha-hi-hi di Tiktok, tapi tetap waspada, seriuslah ketika memilih pemimpin. Itu masa depan Anda dan kita semua. Jangan gampang tergiur dan dibodohi.

Puspoll Indonesia, KedaiKopi, dan Arus Survei Indonesia adalah beberapa lembaga survei yang memasukkan Erick sebagai tokoh yang berpeluang menjadi calon presiden.

Bodoh kuadrat betul kalau masyarakat masih percaya model macam itu sebagai referensi memilih pemimpin. Terbukti batu bara kalori rendah adalah hasil dari suksesi kepemimpinan yang menjadikan negara kacau seperti sekarang.

Contoh kekacauan itu terjadi pada diri orang yang disebut menjadi ketua tim Erick itu, Wishnutama. Dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai menteri parekraf, dilantik, lalu diangkat sebagai Komisaris Tokopedia saat menjabat sebagai menteri aktif. Tak ada pemberhentian secara tidak hormat karena pelanggaran UU Kementerian Negara.

Tapi orang jualan silakan saja. Concern saya adalah pembeli harus naik kelas. Perlu literasi dan kesadaran edukasi yang meningkat supaya tidak memilih pemimpin berdasarkan rekomendasi akun hantu dan gorong-gorong virtual.

Akun hantu, kalau saya pribadi, tak akan saya tanggapi dan tak akan saya block. Bagaimana lagi, mereka dapurnya di situ. Dapat logistiknya berdasarkan kuantitas posting kontraopininya berdasarkan briefing atasan.

Tapi mesti adil juga dikatakan bukan cuma Erick yang mulai muncul. Ganjar Pranowo, Airlangga Hartarto, Puan Maharani, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Ahok... pun mulai muncul.

Sah-sah saja. Silakan berkontestasi, yang membedakan adalah kualitas misi, konten, komitmen antikorupsi, dan fairness-nya. Lebih bagus lagi kalau mau declare, duit untuk logistik perang udara itu dari mana Anda dapat, bagaimana proses billing-nya, pakai bendera badan hukum apa apa, terima tunai atau transfer, pajak fee-nya dibuang ke mana...

Saya berharap akun-akun hantu tidak ada lagi dalam pertarungan 2024. Akun hantu mesti diberantas seperti polisi gencar memberantas pinjol dan debt-collector sekarang ini.

Tunjukkan jati diri yang sebenarnya biar orang bisa mengecek rekam jejak (ini bagus juga menghemat anggaran Pejaten untuk profiling orang), buat argumen dalam tulisan/konten yang utuh agar terlihat kualitas alur berpikir dan wawasan Anda, sampaikan secara jelas supaya masyarakat bisa mencerna dan mendiskusikannya secara sehat...

Apa yang perlu didiskusikan sebagai tantangan bagi calon pemimpin adalah pertanyaan penting semacam: mengapa ada sedikit yang kaya-raya dan sebagian besar miskin; mengapa lapangan pekerjaan yang layak dan banyak tidak terjadi; mengapa yang kaya, kuat, dan berkuasa diistimewakan... dan sejenisnya.

Para pejabat/politisi, institusi, atau pribadi-pribadi yang masih menggantungkan strategi dengan cara-cara hantu digital semacam itu pun sama bodohnya. Keluar uang atas bujuk rayu proposal konsultan demi mendegradasikan kualitasnya sendiri. Keledai saja tidak sedungu itu.

2024 harus berubah. Masyarakat harus melek dan cerdas menilai kualitas orang berikut rekam jejak dan konsistensinya. Ya, masak, masih mudah tergiur gerakan silat burung bangau, memadu kasih dengan ikan cupang, dan slogan-slogan toko kecap macam gercep, geber, kepak sayap kebhinekaan, dsb.

Itu kalau Anda mau perubahan dan tidak mendapat pemimpin ibarat batu bara kalori rendah macam sekarang.

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)