Geisz Chalifah Blak-Blakan Tentang Masjid Apung di Ancol

[PORTAL-ISLAM.ID]  Siang menjelang sore sekitar jam 14.30 WIB, Selasa (31/8/2021) rumah sederhana di kawasan Tebet Utara II berkumpul beberapa orang. Keluar masuk tamu menemui si empunya rumah.

“Masuk saja, sepatu dipakai saja,” begitu kata pria yang terkenal dengan celetukan ‘sekolahannya di mana?’ Dialah Geisz Chalifah.

Dengan gaya santai bercelana jeans dan kaus berkerah, Geisz menawari minuman. “Teh, kopi atau air putih,” kata Geisz. Tak lama, di meja tersedia berbagai minuman yang diminta tamu.

Di tengah kesibukannya Geisz menerima Redaksi Suara Nasional.

Geisz pun memberikan penjelasan masjid apung di Ancol yang dituding perluasan daratan. “Masjid Ancol letaknya pintu gerbang Ancol Timur. Kalau perluasan daratan itu Ancol paling ujung sana. Jauh sekali. Orang lebih berkomentar dulu daripada belajar. Lagi tren. Komentar dulu salah kemudian,” ungkapnya.

Landasan pembangunan masjid apung didasarkan ada penyerapan tenaga baru dengan memperkuat segmen pasar

“Kita buat di sini segmen baru untuk masjid apung berapa orang hadir di Ancol. Orang seluruh Indonesia datang ke Jakarta untuk ke masjid kubah emas. Ancol membangun masjid apung dalam rangka aspek bisnis wisata religi yang trendnya tinggi. Dan dikaitkan wisata halal di Lombok,” jelas pria yang semasa mahasiswa aktif di HMI.

Masjid apung di Ancol dengan arsitek berdasarkan sejarah Islam di Jakarta. Sejarah Islam di Jakarta ditulis secara bagus sejarawan dan intelektual N Syamsuddin Ch Haesy.

“Tulisan diserahkan ke arsitek Andra Matin agar membuat gambar masjid berdasarkan sejarah yang ditulis Bang Syam. Islam Jakarta pengaruh dari Laksamana Cheng Ho dan Turki Usmani. Masjid itu punya sejarah,” paparnya.

Ia mengatakan, pengunjung masjid bukan hanya datang shalat tapu melihat sejarah Islam di Jakarta. Pembangunan masjid apung memperluas pasar di ancol

Geisz mengaku mendapat inspirasi pembangunan masjid apung dari iklan kulkas sertifikasi halal. Perusahaan besar membidik sebuah segmen itu pasti ada sesuatu.

“Ketika ada demo 212 hotel bintang lima dari ujung Thamrin sampai Sudirman penuh. Artinya kelas menengah muslim gemuk dan itu adalah pasar. Semangat spiritualitas muslim meningkat. Kalau kita buat di sini segmen baru untuk masjid apung berapa orang hadir di Ancol,” pungkasnya. [suaranasional]