Agama ini Ritualnya Minum Darah Manusia, Apa Benar Di Mata Tuhan?

Agama ini Ritualnya Minum Darah Manusia, Apa Benar Di Mata Tuhan?

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Ada satu disertasi doktor tentang agama-agama di satu kampus di Jakarta yang diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul: Satu Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili, (Mizan, 2011). Penulisnya seorang dosen Fakultas Ushuluddin. Ada pengantar dari Rektornya juga.

Sayangnya, banyak pemikiran yang salah dalam disertasi ini. Sebagai contoh, ditulis dalam buku ini: “Dengan kata lain, semua agama adalah sama, dalam arti sama-sama mengandung kebenaran yang terbatas. Tidak ada yang lebih baik atau lebih sempurna antara satu dengan yang lain. Tuhan Yang Mahabenar secara mutlak – meminjam ungkapan Schuon – tidak mungkin kebenaran-Nya secara sempurna dikandung hanya oleh satu agama atau berapa agama, bahkan jutaan agama sekali pun.” (hlm. 380).

Seorang yang menyatakan bahwa, “semua agama adalah …”, pasti orang itu asal bunyi; tidak berpikir saat bicara seperti itu. Sebab, ia tidak mungkin membaca dan memahami semua agama. Jumlah agama di dunia saat ini mencapai 4000 agama. Apa ia sudah membaca semua ajaran agama-agama itu?

Jika seorang mau meneliti dan berpikir sedikit saja, ia tidak akan berani mengatakan, bahwa “semua agama adalah baik”, “semua agama mengajarkan kebaikan”, dan sebagainya. Di sejumlah negara Eropa dan Amerika, misalnya, hingga kini masih ditemukan agama-agama penyembah setan (Christian Church) dan juga agama Kristen Telanjang (Nudic Christian).

Di Indonesia, sebelum kedatangan Islam, ada agama bernama Bhairawatantra. Agama ini memiliki ajaran, bahwa manusia hendaknya jangan menahan hawa nafsu, bahkan sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. (Dr. Prijohutomo. Sedjarah Kebudajaan Indonesia I: Bangsa Hindu. (J.B. Wolter, Jakarta-Groningen, 1953).

Salah satu bentuk ritual yang paling esoterik, adalah pemujaan yang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. (Paul Michel Munoz. Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Terjemahan. (Mitra Abadi, Yogyakarta, 2006). Hal. 253 dan 448). (Lihat lebih jauh tentang aliran ini di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 20 Oktober 2011).

***

Apakah agama Bhairawatantra yang mengajarkan ritual seks bebas dan penyembelihan manusia ini disamakan derajatnya dengan agama Islam? Apakah agama seperti ini juga benar di mata Tuhan?

Tapi, uniknya, dalam buku Satu Tuhan Banyak Agama, ditulis bahwa: “Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi Ilahi ini dan bahwa setiap agama lahir dan terikat pada konteks tertentu menjadi argumen bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi/sempurna atas yang lain. Semua bentuk-bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Mahabenaran dan ke-Mahamutlakan Tuhan.” (hlm. 21).

Lebih aneh lagi, dikatakan: “Semua jalan-jalan itu menuju kepada puncak yang sama. Ibarat ribuan bahkan jutaan aliran air sungai dan anak sungai semuanya mengalir dan sedang meluncur ke samudera yang sama.” (hlm. 379).

Apalagi, dikutipnya pendapat Paul F. Knitter, bahwa kita tidak dapat mengatakan agama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua agama adalah relatif, terbatas, parsial, tidak lengkap, satu cara melihat sesuatu. Saat ini, menganggap bahwa satu agama pada dirinya lebih baik dari agama lain adalah sebuah pandangan keliru, ofensif, dan berpandangan sempit. (hlm. 379-380).

Akhir tahun 2019 lalu, kita dihebohkan oleh satu disertasi doktor yang secara terang-terangan menghalalkan zina. Disertasi “Satu Tuhan Banyak Agama” ini sebenarnya lebih tinggi kadar kesalahannya, sebab ini menyangkut aspek aqidah Islam. Orang yang menyatakan semua agama benar, sejatinya ia sudah tidak beragama dan tidak berpikir sehat. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim, tetapi menyamakan Islam dengan Bhairawa Tantra dan agama pemuja setan?

Meskipun logika “penyamaan agama” sangat lemah, akan tetapi, karena paham semacam ini dikemas dengan indah, banyak juga manusia yang terpengaruh. Apalagi, paham semacam ini dipromosikan oleh orang-orang yang dianggap punya otoritas dalam ilmu agama. Ditambah lagi, promotornya adalah dosen bidang ushuluddin. Masih diperkuat lagi, buku itu diberi kata pengantar oleh rektor kampus besar, yang juga Profesor terkenal.

Karena itu, kita semua, para orang tua perlu sangat berhati-hati dalam menjaga iman dan akhlak keluarga kita. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” (QS 66:6). 

*Sumber: MediaDakwah