Prof Nidom: Dimusuhi Banyak Pihak, Vaksin Nusantara Justru di Pesan Turki Sebanyak 5,2 Juta Dosis

[PORTAL-ISLAM.ID]  Vaksin Nusantara merupakan vaksin gagasan dari Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K).

Gagasan vaksin Nusantara yang dilakukan mendapatkan pujian dari orang-orang.

Salah satunya Prof drh Chairul Anwar Nidom, yang menyatakan bahwa ia salut terhadap ide yang dibuat oleh Dr Terawan.

Prof Nidom mengatakan hal itu saat diundang menjadi tamu di kanal YouTube Siti Fadilah Supari.

"Saya terus terang salut dengan Pak Terawan yang mencetuskan ide itu," ujarnya, Rabu 18 Agustus 2021.

Bahkan Prof Nidom mengakibatnya bahwa hal ini merupakan hal yang benar-benar hebat.

"Bisa membelokkan dendritik sel yang untuk kanker digunakan untuk infeksi virus. Itu hebat benar," ujarnya.

Vaksin Nusantara ini sudah dilakukan uji coba oleh Dahlan Iskan.

Dan dengan bantuan Ketua Riset Corona dan Formulasi, mereka mengambil serumnya selama 17 hari setelah melakukan vaksin Nusantara di Surabaya.

Hasil mencengangkan pun tak terelakkan lagi, hasilnya pun sangat memuaskan.

"Hasilnya mencengangkan, seluruhnya punya daya protektif walaupun titer antibodi itu berada di garis minim," ujarnya.

"Bisa dibayangkan kalau vaksin konvensional pada 17 hari setelah vaksinasi tidak akan muncul apa-apa, semuanya," lanjutnya.

Vaksin yang lain harus lengkap dosis, namun berbeda dengan vaksin Nusantara yang langsung muncul protektivitasnya.

"Harus lengkap, sementara vaksin Nusantara sudah muncul protektivitas dalam waktu 17 hari," ungkapnya.

Namun, hal itu sangat di sayangkan karena vaksin Nusantara justru dimusuhi oleh beberapa pihak.

Siti Fadilah Supari mengkhawatirkan bahwa vaksin Nusantara ini tidak dapat diterima di Indonesia.

Justru vaksin Nusantara ini diterima oleh negara lain, contohnya Turki.

Prof Nidom menyatakan bahwa Turki bahkan sudah memesan sebangak 5,2 juta dosis Vaksin Nusantara.

"Saya dengar katanya Turki sudah memesan sebanyak 5,2 juta dosis," ucapnya.

Namun, hingga saat ini belum diketahui apakah vaksin Nusantara ini akan digunakan di Indonesia atau tidak.


(Sumber: PikiranRakyat)