2T DAN SAMPAH PERADABAN

2T DAN SAMPAH PERADABAN

Oleh: Danke Soe Priatna

Buat saya, soal sumbangan 2T dari keluarga Akidi itu, mau nyata ataupun hoax, tidak begitu membuat saya berfikir keras untuk bertanya mengapa.

Yang mengutik nalar dan nurani saya adalah wacana dan narasi yang terus digaungkan oleh Gerombolan Sampah Peradaban, Ade Armagedon, Dense, Abu Gosok... dan Addie PMS.

Mereka akan mengemas apapun dengan terencana, membumbui dengan seksama, disajikan dengan narasi yang pasti: Deskriditkan Islam !! Dan Pecah Belah Persatuan !!

Narasi yang mereka sajikan tetap saja dalam alur yang: Islam harus salah, Islam intolerant, Islam anti Pancasila dan anti Kebhinekaan.

Padahal Gerombolan Sampah Peradaban inilah yang kerap jadi pemicu kericuhan dan perpecahan.

Baik,

Sekarang mari kita lihat dan kita kaji dengan seksama.

Soal donasi 2T itu, yang mereka tekankan bukanlah soal nominal atau kemanusiaan.

Pesan yang mereka sampaikan adalah: 
- Etnis Tionghoa yg selalu "dideskriditkan", ternyata cinta tanah air.
- Beda dengan UAH dkk, yang menyumbang Milyaran rupiah untuk Palestina, sementara untuk Indonesia tidak ada.

Ini yang berbahaya.

Ini adalah penggiringan logika kearah kesesatan agar masyarakat menjadi terpola pemikiranya bahwa UAH dkk, tidak cinta tanah air.

Mereka berusaha mengubur fakta, kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan sumbangan yang dihimpun orang Islam, Pribumi, atau ormas Islam, untuk Indonesia.

Kebencian mereka akan Islam, laksana cacing kremi yg hidup dipantat mereka, sehingga mereka tidak bisa diam.

Begini,

Kita itu masyarakat yang heterogen, humanis dan harmonis. Dari dulu perbedaan soal SARA itu ada dan biasa saja.

Teman teman yg keturunan China, arab, Belanda atau apapun, biasa main bersama. Bercengkrama.

Baru setelah Gerombolan Sampah Peradaban itu ada seiring rezim, semua perbedaan itu mereka kipas agar membara...

Anti China...??
Kita itu masyarakat yang cerdas, tidak pernah ada anti manapun.

Yang kita lakukan adalah mengkritisi kebijakan rezim yang begitu condong ke China, menganak emaskan TKA China, sementara Anak Negeri dikebiri.

Sampah sampah Peradaban itu tidak sadar (karena saking dungunya), sebetulnya, sejak lama, merekalah yang tidak suka dengan perbedaan dan keragaman.

Felix Siauw, keturunan China, kemana mana pake batik nusantara, tidak bercelana cingkrang, tidak ke arab araban. Namun tetap saja kerap dibully dan diserang.

Kenapa kalau benar Abu Gosok dkk, membela kebhinekaan, tidak pernah membela Koh Felix yg keturunan China?? Malahan ikut menghujat??
Karena Ust. Felix Siauw merepresentasikan Islam!
Jadi harus ditumbangkan.

Kwik Kian Gie,
Keturunan China, bahkan namanya saja masih tetap pakai nama china, tidak berganti jadi Hendra Rahardja.
Nasionalismenya kuat.
Namun kenapa Gerombolan Sampah Peradaban itu tidak suka??

Karena Kwik, Nasionalis sejati. 
Dan nasionalis sejati yang tidak disukai oleh PKI.

Kwik adalah Nasionalis sejati, bukan seperti mereka, yang berteriak saya NKRI, saya Pancasila, namun saat Pancasila mau diganti jadi Trisila, mereka diam saja!!

Karena Gerombolan Sampah Peradaban hidup dari kotoran rezim.

Dan kesuksesan mereka diukur dari panjangnya lidah terjulur untuk menjilat pantat penguasa.

BASURA SOLAMENTE !!

Narasi sesat dari Gerombolan Sampah Peradaban ini terus digaungkan.
Mereka mengaku Islam, namun kebencian akan islam lebih dari apapun.
Mereka berusaha menutupi fakta dan memutar  cerita seolah Islam tidak pernah berjasa pada negara.

Padahal Bangsa dan Negara ini ada dengan darah para syuhada.

Addie PMS,
Bernarasi ala musisi, mengolah kata bak pujangga. Seolah membela keturunan Tionghoa, padahal dia tidak tahu apa apa, selain mendapatkan uang dari mereka.
Dia terpenjara. Harga diri tergadai. Demi pundi pundi rupiah sejalan dengan Orkestra yang dipakai sebagai Iklan Meikarta.
Dari sana, sudah jelas berapa harga sang musisi.

Stop bicara seolah humanis, namun kenyataanya kamu hanya seonggok opportunis.

Kamu hanya mencari remah remah diantara tumpukan belatung kehidupan.

Agenda agenda berbahaya pemecah bangsa itu, mereka kemas dengan aneka ragam.

Namun, sampai saat ini target utamanya tetap Islam.
Islam yang harus dihancurkan.
Donasi ummat, harus diaudit..!!

Sementara kucuran dana untuk kampanye dan kegiatan LGBT, mereka amini. Mereka suka suka akan itu.

Padahal berbagai perusahaan besar begitu gencar menggelontorkan dana untuk LGBT.
Mereka diam, karena itu bukan islam.

Beasiswa masuk PTN untuk anak Islam, mereka permasalahkan.

Kalau sampai disini kita masih belum faham dan mengerti bagaimana jahatnya Gerombolan Sampah Peradaban itu.
Berarti, kita tinggal tunggu kehancuran.

Saat dana bansos dikorupsi, mereka diam.
Saat koruptor dipotong masa hukuman, mereka tenang.
Saat Sang Imam didakwa dengan berbagai tuntutan, mereka berpesta besar besaran.
Saat 6 nyawa manusia melayang di tragedi kejahatan kemanusiaan di KM50, mereka terlelap dan terpejam.
Karena Sang Imam merepresentasikan Islam, maka harus dihancurkan !!

Yang jahat itu mereka.
Yang anti kebhinekaan itu mereka.
Yang anti Pancasila itu mereka.
Karena mereka SAMPAH PERADABAN... !!

(fb penulis)