Sri Mulyani Bakal Tambah Utang Lagi Rp515 Triliun, Tere Liye: Utang Menjadi Prestasi

Semester 2 tahun 2021 ini pemerintah akan mencari utang baru sebesar 515 trilyun. Sementara semester 1 tahun 2021 kemarin total utang baru sekitar 443 trilyun. Total jenderal, 2021 ini utang negara diperkirakan bertambah 958 trilyun. Alias Rp 958.000.000.000.000.

Dibanding outlook APBN 2021, angka ini menurun. Awalnya pemerintah berencana utang Rp 1.177 trilyun. Lumayanlah 'berhemat' utang, asumsi tidak berubah pikiran di tengah jalan. Karena namanya ngutang, mendadak pengin punya sofa baru, atau ganti toilet, atau beli kulkas baru, ganti mobil baru mumpung diskon pajak, nambah deh. Eh, itu sih utang keluarga.

Dus, dengan skenario 958 trilyun, per akhir 2021 nanti berapa total utang Indonesia? 7.000 trilyun lebih. Alias 7.000.000.000.000.000. Karena posisi akhir 2020 sendiri sudah 6.074 trilyun.

Periode 2014-2021, alias cukup 7 tahun, utang kita bertambah dari 2.600 trilyun menjadi 7.000 trilyun. Dengan asumsi setiap tahun kita terus nambah utang 1000 trilyun, ganti presiden 2024, siapapun dia, akan terima warisan utang 10.000 trilyun. Mau diwarisi utang sebanyak itu? Well, berebut yg mau jadi pejabat. Toh, kalau susah bayarnya, tinggal nambah utang lagi. Lagian, utang itu prestasi loh. Itu berarti orang percaya dengan kita. Yes.

Eh? Maaf, maaf, hanya bergurau.

Tapi baiklah, mari kita serius sedikit. 

Angka2 ini disajikan bukan karena sy benci sama pemerintah. Sorry, meski mereka cuek bebek buku2 saya dibajak. Meski Harun Masiku masih menghilang padahal dunia sedang membutuhkannya. Saya sajikan di sini, dan sering sy posting, agar generasi penerus tahu soal ini. Merekalah yg akan bayar utang ini. Bukan presiden sekarang, apalagi Menkeu sekarang. Beberapa tahun lagi mereka pensiun ini. Mana ada mereka yg akan bayarnya.

Bisa Indonesia membayar utang ini? Bisa. Apa susahnya. 

Tapi ada satu kunci penting jika kita ingin melakukannya. Apa itu? Berantas korupsi. Tegakkan hukum dengan sebenar2nya. Hanya itu saja. 

Maka anak2ku sekalian, besok lusa, saat kalian akhirnya mewarisi semua utang tsb, semoga kalian tumbuh jadi orang2 yg benci sekali dgn korupsi. Bukan jadi JAKSA, eh malah terima suap dari buronan yg seharusnya dia tangkap. Jadi penyidik KPK, eh malah main mata. Jadi hakim, jadi polisi, penegak hukum, bahkan jadi sipir penjara, eh malah cincai dengan penjahat. Melainkan jadilah orang2 yg jujur. Tegakkan keadilan. Bela kebenaran.

Sekali negeri ini diberkahi dgn generasi penerus yg memang anti korupsi, tidak mau rangkap jabatan komisaris, tidak penjilat, oportunis, tidak ijo matanya pas lihat posisi pejabat, dll, maka utang2 ini kecil saja. Mudah bayarnya. 

Paham?

Sementara itu belum terjadi, catat baik2, tahun 2014, utang Indonesia baru 2.600 trilyun. 69 tahun merdeka, utang kita 2.600 trilyun. Tahun 2024 nanti, estimasi jadi 10.000 trilyun. 

Boleh utang, buat pembangunan. Silahkan. 

Tapi ijinkan saya mengingatkan. Bukankah 7 tahun ini korupsi menggila di mana2. Suap menyuap tidak malu2 dipertontonkan. Hukum cuma jadi lelucon. Entah berapa banyak utang ini yg benar2 efektif bermanfaat bagi masyarakat luas, atau cuma jadi pesta pora ujung ke ujung. Mulai dari elit politik hingga elit kepala desa. Bansos pun tak malu dikorupsi. 

Sementara tidak ada yg benar2 berubah, dinasti politik terus bermunculan. Pilkada jadi pembenaran elit parpol mengunci jabatan utk mereka2 saja. Kemiskinan, pengangguran, pun status negara ini kalaupun berubah, entahlah, apakah garis lurus dgn meroketnya utang negara. 

Tabik.

(By Tere Liye)

*fb