RISMA - PAPUA - PELECEHAN

"...Saya pindahkan ke Papua!" kata si ibu dengan lantang. 

Saya jadi inget waktu kecil, saat ibu sudah geram dengan kelakuan kami. Beliau akan berkata..

"Kalau masih lari2an dalam rumah, ntar ibu kurung dalam WC"

Kurung dalam WC itu adalah hukuman yang kami takuti. Membayangkan ruangan sempit dan sedikit bau, dikurung disana..siapa yang mau?

Banyak ruangan, kenapa WC yang dituju? Gak usah mencari jawaban, sudah jelas seperti apa ruangan itu dalam bayangan. 

Saat Risma mengancam akan memindahkan ke Papua bagi ASN yang dianggapnya gak becus, ada indikasi bahwa Risma seperti menganggap Papua adalah tempat pembuangan yang ditakuti oleh ASN. Gak ada bedanya saat dulu saya menganggap WC adalah tempat yang ditakuti, dibandingkan ruangan yang lain.

Bagi sebagian orang mungkin akan menganggap kata "pindahkan ke Papua" dari Risma seperti tindakan kolonialisme yang mengingatkan pengasingan atau pembuangan tokoh-tokoh politik ke Papua, khususnya Boven Digul. 

Gak patut cara-cara kolonial dipraktekan saat sekarang. 

Tapi bagi saya, seperti ada pelecehan bagi Papua saat daerahnya menjadi tujuan pembuangan (pemindahan) ASN yang bermasalah. Muncul pertanyaan,  

"Kenapa harus Papua yang disebutkan? Kenapa gak menyebut mutasi tanpa perlu menyebut nama daerahnya dengan publikasi media?"

Apa yang Risma lakukan ini sebenarnya banyak juga dilakukan oleh pimpinan instansi. Namun perkataan mereka hanya terjadi dalam internal, tanpa dipublikasikan. Pembicaraan dalam internal yang sudah sama-sama diketahui oleh bawahan. 

Terkadang ini salah satu trik buat memberi jera pada bawahan, agar bekerja serius dan disiplin. Kalau gak disiplin, maka bisa kena mutasi ke daerah yang paling jauh. Kita pahami cara-cara ini lumrah terjadi di instansi atau perusahaan. 

Namun alangkah baiknya jangan sampai ke ruang publik. 

Ketika perkataan itu dipublikasikan pada publik, pastinya akan disikapi beragam. Dan yang menjadi salah satu penilaian adalah adanya indikasi merendahkan Papua sebagai daerah buangan. 

Kalau saya jadi masyarakat Papua, pastinya saya gak akan menerima. Kenapa nama daerah saya disebutkan buat menakuti bawahan? Sebegitu seramkah daerah Papua bagi para ASN? 

Apapun alasannya, itu udah gak penting. Apapun pembelaannya itu udah gak bisa dijadikan pembenaran. Yang tersirat sudah bisa dibaca walau tidak tersurat. 

Sebagai pejabat, Risma seharusnya bisa memilah mana kalimat yang bisa dipublikasikan pada semua orang dan mana yang tidak perlu. Agar tidak menjadi kehebohan  atas penggunaan kalimat tersebut. 

Saya memahami gaya kepemimpinan Bu Risma yang suka marah-marah, tapi saya kurang paham apabila dalam kemarahannya ada indikasi merendahkan nama daerah. Karena gak semua orang bisa menyikapi dengan santai. (Setiawan Budi)

[VIDEO]