NEGARA PURA-PURA

NEGARA PURA-PURA

Di sebuah negara pura-pura, rakyatnya terpesona dengan sosok sederhana. Mengawali citra dengan masuk got di depan kamera.

Terpilih secara jujur dengan kotak suara terbuat dari baja pura-pura. Titik lemah kotak sok baja itu adalah gembok besi yang pura-pura digergaji saat hilang kunci.

Bermodal sebelas ribu trilyun pura-pura, membangun infrastruktur agar nampak seperti adil makmur sentausa. Dari mana dananya? Utang tentu saja.

Di setiap bencana, sosok ratu adil muncul dengan sederhana. Dia datang sendirian, di depan kamera yang dioperasikan oleh seribu manusia.

Negara pura-pura adalah negeri yang adil untuk semua. Hukumnya tak pandang bulu, karena manusia memang bukan mahluk berbulu.

Menembak mati enam orang sipil bukanlah kejahatan, kata mereka yang di hatinya pura-pura tidak ada kebencian.

Para rektor dan profesornya pura-pura akademis dan independen. Nalar kritisnya bersemayam di kursi komisaris dan layar sinetron ikatan cinta.

Para senimanya pura-pura kritis dan kreatif dengan mencium kaki sang raja di atas panggung sandiwara ketoprak.

Ideologinya juga ideologi pura-pura. Faktanya, berideologi kapitalis dalam ekonomi, dan komunis dalam politik.

Rakyatnya dipaksa pura-pura bahagia. Yang jujur bilang tak bahagia, langsung dihujat buzer-buzer istana.

Saat ditawarkan kepada mereka islam sebagai solusi kemelut ekonomi dan pemerintahan, mereka menutup mata dan lebih suka pura-pura bahagia dengan kondisi yang ada.

Jika seorang mati di antara mereka, doanya adalah semoga engkau pura-pura masuk surga.

Jogja 25721

(By ©Doni Riw)