Menyiapkan Puan Maharani sebagai Calon Presiden 2024, Relawan Sudah Bergerak ke Daerah-daerah

[Ringkasan liputan Koran Tempo edisi 26 Mei 2021]

- Sejumlah elite PDIP mendukung Puan Maharani diusung sebagai calon presiden dari partainya dalam Pemilu 2024. 801101

- Manuver kubu Puan Maharani adalah menyingkirkan Ganjar Pranowo sejak dini.

Peluang Puan Maharani menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan semakin terbuka lebar. Sejumlah elite PDIP menyebutkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri memberikan dukungan kepada anak-anaknya, termasuk Puan, untuk bertarung dalam pentas pemilihan presiden 2024.

“Ibu (Megawati) memberi ruang untuk anak-anaknya, tapi tidak pernah memaksakan," kata Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto, kepada Tempo, kemarin.

Bambang membeberkan sejumlah alasan sehingga Puan pantas diusung menjadi calon presiden. Ia mengatakan Puan memiliki sederet prestasi di pentas politik dan pemerintahan. 

Wacana Puan menjadi calon presiden kembali mengemuka dalam rapat pengarahan dan konsolidasi menuju Pemilu 2024 yang digelar DPD PDIP Jawa Tengah, Sabtu pekan lalu. Panitia kegiatan ini mengundang semua legislator dan kepala daerah dari PDIP se-Jawa Tengah, kecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Puan hadir sebagai pembicara utama dalam kegiatan ini.

Bambang Wuryanto, yang juga Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, mengatakan sengaja tak mengundang Ganjar dalam acara itu. Alasannya, langkah tersebut dilakukan sebagai peringatan kepada Ganjar yang dianggapnya sudah sibuk memoles diri di media massa dan media sosial untuk menjadi calon presiden mendatang.

Berbagai pihak menuding upaya mengganjal Ganjar sejak dini dilakukan karena elektabilitas mantan anggota DPR itu berada di atas Puan. Hasil sigi sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas Ganjar jauh di atas Puan. 

Sumber Tempo menceritakan bahwa nama Puan sesungguhnya sudah disebut-sebut sebagai kandidat calon presiden usungan PDIP dalam pemilihan presiden 2014. Tapi ketika itu Megawati lebih memilih Joko Widodo menjadi calon presiden berpasangan dengan M. Jusuf Kalla.

Keputusan Megawati ketika itu juga dianggap sebagai pengingkaran terhadap perjanjian Batu Tulis antara PDIP dan Gerindra. Isi perjanjiannya, kedua partai bersepakat mengusung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden dalam Pemilu 2014. Lalu, calon wakil presiden dari PDIP.

Seusai pemilihan presiden 2019, PDIP dan Gerindra disebut-sebut kembali membuat perjanjian Batu Tulis jilid II. Perjanjian ini merupakan kompensasi Gerindra bergabung ke dalam kabinet pemerintahan Jokowi. Perjanjian jilid II ini hampir serupa dengan perjanjian pertama, yaitu kedua partai akan mengusung Prabowo sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024. Sedangkan calon wakil presiden pendamping Prabowo berasal dari usulan PDIP.

Bambang mengaku tidak mengetahui informasi tentang perjanjian Batu Tulis jilid II itu. Politikus PDIP, Hendrawan Supratikno, juga enggan mengomentari ihwal isi perjanjian Batu Tulis jilid II tersebut. Menurut Hendrawan, ada lapisan informasi di partainya yang hanya diketahui oleh Megawati dan pengurus DPP PDIP. “Apa yang kamu tanyakan di luar dari himpunan pengetahuan yang saya miliki,” kata Hendrawan.

Politikus PDIP lainnya, Herman Hery, juga enggan mengomentari soal ini. Tapi Ketua Komisi III DPR ini pernah membeberkan sikap sebagian besar pengurus partainya yang menghendaki Puan menjadi calon presiden dari PDIP dalam Pemilu 2024.

"Di internal, sangat-sangat serius. Mau jadi nomor satu atau nomor dua, kek, soal nanti. Tapi, di 2024, sangat-sangat serius untuk maju," kata Herman ketika diwawancara Tempo pada 16 Januari lalu.

Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, menilai manuver politik Ganjar untuk berniat maju sebagai calon presiden terlihat agresif. Padahal PDIP sudah terindikasi bakal mengusung Puan sebagai calon presiden. "Alasannya sederhana, Puan sudah masuk usia kematangan dalam fase politik pencapresan," kata Adi.

Menurut Adi, Puan sudah berpengalaman memegang banyak jabatan, baik di pemerintahan maupun politik. Berbagai jabatan Puan itu diduga sudah didesain sejak awal dengan maksud menyiapkan trah Sukarno dalam Pemilu 2024.

Ia mengatakan rencana PDIP mengusung Puan akan relatif lebih mudah diwujudkan lantaran partai berlambang kepala banteng moncong putih itu memperoleh 24 persen kursi di parlemen. Angka tersebut sudah memenuhi syarat untuk mengusung calon presiden. “Satu masalah yang harus dipecahkan oleh Puan adalah menjejakkan kaki ke bumi,” katanya.

Tekad Relawan Mendongkrak Elektabilitas Puan

Gema Perjuangan Maharani Nusantara (GPMN), kelompok relawan pendukung Puan Maharani sebagai calon presiden 2024, menyatakan tekadnya untuk mendongkrak elektabilitas Puan. Ketua Umum GPMN, Dady Palgunadi, mengatakan organisasinya akan berupaya meningkatkan elektabilitas Ketua DPR itu. "Cara kami adalah membentuk kepengurusan daerah agar bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk mensosialisasi program," kata Dady, kemarin.

Menurut dia, upaya mengerek elektabilitas harus dilakukan karena hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan tingkat keterpilihan Puan masih rendah. Bahkan, kata Dady, elektabilitas Puan masih kalah dibandingkan dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang selalu berada di posisi tiga besar dari sejumlah lembaga survei sebagai calon presiden 2024.

Salah seorang pendiri GPMN, Ali Nugroho, mengatakan kelompok relawan ini didirikan pada Agustus 2020. Ali bercerita, GPMN mulanya kepanjangan dari Gema Puan Maharani Nusantara. Karena ada perselisihan antar-pengurus, kepanjangan GPMN diubah. Kata "Puan" diganti dengan "Perjuangan". Perubahan ini didaftarkan melalui akta notaris pada November 2020.

Ali mengatakan, mayoritas pendiri organisasi relawan Puan adalah mantan aktivis 1998 dan pendukung Presiden Joko Widodo. Selain aktif di GPMN, Ali merupakan Ketua Umum Barisan Penggerak Rakyat Jokowi (Barak Join). Menurut dia, sejumlah relawan Jokowi kini beralih menjadi pendukung Puan Maharani. "Pindah gerbong, karena Jokowi sudah tidak mencalonkan lagi pada 2024," kata Ali, kemarin.

👉SELENGKAPNYA BACA DI KORAN TEMPO