Bau Masakan Babi Itu Khas

Bau Masakan Babi Itu Khas

By Teguh Suprayogi

Ramainya bipang (babi panggang) membangkitkan nostalgia saya akan masakan berbahan daging babi dan semua bagian dari hewan ini. Masakan dari babi memang enak. Kata yang doyan, sih! Kalau saya sendiri jelas nggak doyan dan nggak pengin.

Tahun '90-an saya bekerja di sebuah restauran. Letaknya cukup elite untuk ukuran waktu itu. Lantai lima Tunjungan Plaza 2 di Surabaya. Saya tak tahu sekarang masih ada atau tidak restorannya. Generasi jadul yang tinggal di Surabaya mungkin banyak yang tahu. Di lantai tersebut ada beberapa resto dengan makanan spesial seperti mie ayam, bebek Peking, masakan olahan dari babi, hingga steak di mana saya bekerja sebagai cook helper.

Nah, soal babi ini, restonya dulu bersebelahan dengan dapur produksi tempat saya bekerja. Sehingga nyaris setiap hari bisa mencium bau masakannya. Kebetulan dapur resto saya dan resto babi ini semi terbuka. Suka atau tidak suka, baunya pasti mampir, meski hanya sekejap, kadang cukup lama.

Begitu seringnya dengan bau masakan dari babi ini, saya sampai hapal baunya. Baunya khas. Ini sangat bermanfaat saat berada di luar mau jajan atau mampir rumah makan. Alam bawah sadar saya seperti mengingatkan jika ada bau masakan seperti yang tercium tiga puluhan tahun silam. 

Memang kalau ditanya soal ini, saya susah jawab. Sulit diungkapkan dengan kata-kata tapi bisa dirasakan. Ya, karena dulu hanya mencium baunya. Ini nyaris sama saja dengan daging lainnya. Seperti daging kambing baunya seperti ini, daging ayam negeri baunya seperti itu, dan seterusnya. Semua bisa karena terbiasa.

Untuk urusan rasa daging babi yang katanya enak. Kita yang nggak doyan, sebaiknya percaya saja. Faktanya memang banyak yang doyan. Resto-resto yang menyediakannya juga laris. Belum lagi pengakuan dari orang-orang yang terkenal di negeri ini. Enak dan maknyus! Tapi yang muslim tetap jangan sampai mengonsumsi. Iya ora, Son?

[fb]