Puasa Pertama Dan Terakhir Papa

Puasa Pertama Dan Terakhir Papa

Andai saja aku merasakan firasat yang beliau sampaikan, mungkin dari lepas Isya, kupeluk dirinya sampai pagi.

Namun, inilah takdir.

"Papa, ga makan?" Aku bertanya ketika beliau selesai berbuka dengan air panas, lalu shalat Magrib. Setelahnya, dengan santai beliau meminum es yang sengaja dibeli untuknya sendiri. Sedangkan untukku dan cucunya beliau membawakan es sirop jeruk.

Senja temaram, beliau masih sempat bercanda dengan cucu-cucunya.

Ah, Papa!
Ternyata waktu memang sangat tipis jaraknya dengan kematian.

Sekali lagi, andai aku mau mendengar kalimat yang beliau sampaikan. Aku akan mencium punggung tangannya sampai pagi.

"Papa sakit perut," keluhnya selesai kami berbuka.

"Papa, sih! Seharusnya makan nasi. Aku buatin susu pepti*ol aja, ya? Pengganti makan." Aku berusaha membujuk.

Beliau menggeleng dan tetap mengatakan perutnya tegang dan sakit.

Dengan suara lirih, beliau minta dipanaskan daun jarak dan daun-daunan obat lainnya. Kemudian ditempel di perut.

Namun, tetap saja tidak ada perubahan.
"Kita ke puskesmas aja, Mak." Adik sepupu lelakiku bertanya dengan wajah cemas.

"Tidak, karena sakit ini tak ada obatnya." Begitu jawab papa pada adikku.

Akhirnya, kami putuskan membeli obat saja, karena menyangka Magh papa kambuh.

Di saat adik sepupu membeli obat, papa kembali mengatakan.

"Sakit ini, tidak bisa diobati dokter mana pun. Inilah sakit menjelang kematian."

Papa yang biasa bercanda seperti itu, membuatku tidak percaya. Bahkan membalas kalimatnya dengan candaan.

"Mana mungkin papa tahu sakit menjelang mati," kataku sambil terus menempelkan obat di perut beliau. Setelahnya, papa minta dilap dengan air panas.

Papa hanya mendesah, lalu meminta agar aku dan cucunya tidak meninggalkan beliau.

Ya, semalaman kami tidur berempat. Sampai pagi, papa memang gelisah. Tapi, ketika waktu sahur, beliau tetap membangunkan seisi rumah dengan gaya biasa. Ribut dan mengatakan sudah subuh.

Papa memang sangat mengutamakan sahur. Aku dan suami, juga anak-anak, makan di hadapan beliau yang mungkin sedang melawan rasa sakit, tapi tetap tenang saat kami makan.

Aku meminta beliau minum cairan pengganti nasi. Beliau mengiyakan, tapi ga disentuh.

Hingga pagi menjelang, ba'da Duha. Beliau pergi dengan tenang di pangkuanku. Ah, pedih, seakan isi dada keluar semua. Setelah dengan tenang, tak ubah bayi tidur beliau menutup mata bersama lantunan kalimat toyibah.

Sekarang, papa sudah bersama mama. Tiga tahun setelah Ramadhan pertama kehilangan istri tercinta, papa menyusul dengan senyum merekah.

Inikah, cinta sejati?
Entahlah.
Aku hanya ingin Allah mempertemukan papa dan mama di syurga-Nya yang indah.

(Desi KA)

*fb