Petaka Siklon Seroja di Nusa Tenggara

Petaka Siklon Seroja di Nusa Tenggara

Petaka akibat badai siklon Seroja meluas ke 11 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga kemarin, Senin (5/4/2021), sedikitnya 84 orang tewas dan 71 orang dinyatakan hilang akibat banjir bandang, tanah longsor, serta angin kencang. Evakuasi korban dan pengiriman bantuan untuk ribuan pengungsi terhambat cuaca ekstrem serta jalur transportasi yang terputus.

Banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang masih melanda berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur hingga kemarin. Bencana akibat Siklon Seroja itu justru semakin meluas ke sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur hingga Nusa Tenggara Barat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati, mengatakan, berdasarkan data terakhir yang diperoleh lembaganya hingga kemarin malam (5/4/2021), terdapat 11 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur yang terkena dampak banjir bandang dan angin kencang.

Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Flores Timur, Alor, dan Lembata. Daerah lainnya adalah Kota Kupang, Kabupaten Malaka Tengah, Ngada, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, dan Ende.

"Daerah-daerah yang terkena dampak berada di pinggiran sungai yang berbatasan dengan pesisir pantai," ujar Raditya, kemarin.

Sesuai dengan data yang dihimpun BNPB hingga kemarin malam sekitar pukul 21.00 WIB, jumlah korban meninggal mencapai 84 orang dan 71 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 15 orang juga menderita luka-luka serta 2.655 jiwa yang terkena dampak bencana.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada Ahad lalu (4/4/2021) itu juga menghancurkan rumah penduduk. Berdasarkan catatan sementara, 25 unit rumah rusak berat, 114 unit rumah rusak sedang, 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah terendam, dan 743 unit rumah lain terkena dampak. Lalu satu unit fasilitas umum rusak dan satu unit kapal tenggelam. "Ini data terakhir yang kami peroleh. Data ini masih dinamis sekali," ujar Raditya.

Wakil Bupati Flores Timur Agus Boli memastikan jumlah korban meninggal di wilayahnya sebanyak 45 orang, terbanyak berada di Desa Nele Lamadike, Kecamatan Ile Boleng. Wilayah yang paling parah diterjang banjir bandang, Ahad lalu. “Ada 56 orang meninggal di sini, tapi jenazah yang baru ditemukan 37 orang,” kata dia.

Ia mengatakan masih banyak jenazah yang tertimbun tanah longsor. Tim SAR menghentikan pencarian korban kemarin karena cuaca ekstrem masih melanda lokasi bencana.

Kepala BNPB Doni Monardo berjanji akan mengerahkan tiga helikopter untuk mengevakuasi korban banjir bandang dan mendistribusikan bantuan di desa-desa yang terisolasi. Helikopter itu juga akan digunakan untuk mengangkut masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat dan mengangkut tenaga medis. "Kalau masih kurang, BNPB akan siapkan lagi," kata Doni.
Tersebab Siklon Krisis Iklim

Bencana banjir bandang yang terjadi di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat berasal dari siklon tropis yang terbentuk akibat suhu muka laut dan suhu di atmosfer yang semakin hangat. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, mengatakan, menghangatnya suhu di muka laut dan di atmosfer sebagai dampak dari perubahan iklim global yang semakin nyata.

Dwikorita menyampaikan bahwa suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudra Hindia mencapai lebih dari 26,5 derajat Celsius yang merupakan suhu rata-rata, bahkan pernah mencapai 29 derajat Celsius di beberapa hari terakhir. “Ini ada kenaikan sudah lebih dari 2 derajat Celsius. Itu signifikan untuk cuaca,” kata dia di dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Selain itu, suhu di atmosfer lebih dari 7 derajat Celsius. BMKG, kata Dwikorita, sudah mengeluarkan peringatan akan terjadinya bibit siklon sejak 2 April lalu dan kemudian menjadi siklon tropis pada 5 April dinihari sekitar pukul 01.00 WIB.

Dwikorita memprediksi pada hari ini, 6 April 2021, siklon tropis itu sudah mulai melemah dan mulai menjauh dari Indonesia. “Kami berharap pada tanggal 7 siklon ini sudah melemah dan akan punah saat memasuki wilayah Australia,” ujar dia.

Bencana banjir bandang terjadi di 11 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur pada Ahad dinihari lalu. Sebagian wilayah di Nusa Tenggara Barat juga terkena dampak siklon tropis ini. Berdasarkan data per 5 April pukul 14.00 WIB, 68 orang meninggal dan 70 orang dinyatakan hilang akibat banjir bandang ini.

Bencana banjir besar juga pernah terjadi di NTT sebelumnya. Dalam satu dekade terakhir, bencana banjir tercatat pernah terjadi pada 2010 dan 2011. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengatakan, pada 3 November 2010, terjadi banjir di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang mengakibatkan 31 orang meninggal, 7 orang hilang, 27 luka-luka, dan 159 rumah rusak. Sedangkan pada 11 April 2011, banjir terjadi di Kabupaten Belu yang mengakibatkan 3.277 rumah rusak dan 14 fasilitas umum rusak.

Ahli mitigasi bencana dari Charles Darwin University, Jonatan Lassa, mengatakan La Nina masih berlangsung di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan lebih besar dan ekstrem. La Nina juga membuat potensi kejadian siklon lebih tinggi dari masa-masa normal. Siklon, kata dia, memiliki sejumlah wujud utama, yaitu badai dan curah hujan ekstrem.

Menurut Jonatan, badai sebagai ancaman dalam siklon memiliki dua karakter, yakni kecepatan angin dan aliran angin yang memutar (gust wind). Gust wind pada umumnya lebih besar dan lebih merusak. Sedangkan curah hujan ekstrem dapat mengakibatkan banjir rendaman, banjir bandang, dan potensi tanah longsor. “Tanah longsor ini yang kita lihat di wilayah Flores, termasuk Adonara, Larantuka, Lembata, hingga Timor Barat,” kata dia saat dihubungi, kemarin.

Jonatan mengimbuhkan, sejauh ini siklon belum didata secara sistematis oleh BNPB lantaran database bencana Indonesia tidak mengenal istilah siklon. Sementara itu, fenomena siklon—walau dikenal lama oleh BMKG—baru menjadi kosakata yang dipakai dalam satu dekade terakhir.

Bagi Jonatan, ada banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah, termasuk misalnya menyusun building code yang baru untuk pembebanan atap rumah. Building code aturan perihal desain, konstruksi, dan pemeliharaan bangunan. “Pembebanan atap rumah baru mengatur aturan dengan kekuatan angin sekitar 70 kilometer per jam. Ini baru batas siklon kategori 1. Siklon kategori 2 hingga 5 sangat mencekam dan bangunan di Indonesia belum memperhitungkan hal ini,” tutur dia.

Aktivis Greenpeace, Adila Isfandiari, mengatakan, dalam menghadapi siklon tropis, pemerintah harus lebih banyak memperhatikan isu krisis iklim dalam kebijakannya. Ia menilai selama ini pemerintah lebih mengedepankan isu ekonomi dibandingkan dengan lingkungan, akibatnya terjadi banjir besar yang memiliki dampak kerugian yang besar dan memukul perekonomian.

Adila mengungkapkan bahwa pemerintah belum ambisius dalam upaya mengurangi dampak krisis iklim, sementara Indonesia merupakan wilayah pesisir yang sangat rentan terhadap krisis iklim. “Sangat penting komitmen Indonesia dalam isu krisis iklim. Komitmen mengurangi gas rumah kaca masih belum dilihat mendesak dan prioritas,” kata dia, kemarin.

👉Selengkapnya di KORAN TEMPO, Selasa, 6 April 2021