Pejabat China Akui Vaksin Corona Buatannya Kurang Efektif

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pejabat tinggi pengendalian penyakit China mengakui bahwa vaksin corona yang diproduksi negara mereka punya efektivitas yang rendah. 

China pun saat ini sedang mempertimbangkan untuk mencampurkan vaksin corona buatan mereka untuk mencoba menawarkan perlindungan yang lebih besar terhadap virus corona penyebab penyakit COVID-19.

Pengakuan langka tentang kelemahan vaksin corona bikinan China datang dari direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, yang mengatakan vaksin China "tidak memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi".

“Sekarang dalam pertimbangan resmi apakah kami harus menggunakan vaksin yang berbeda dari jalur teknis yang berbeda untuk proses imunisasi,” katanya pada konferensi pada Sabtu (10/4/2021) di kota barat daya Chengdu.

Sebelumnya, pada uji klinis tahap 3 di Brasil, efektivitas vaksin corona dari Sinovac dalam mencegah infeksi gejala hanya mencapai 50,4 persen. Sebagai perbandingan, vaksin yang dibuat oleh Pfizer ternyata memiliki tingkat kemanjuran 97 persen.

Pengakuan yang disampaikan oleh Gao Fu kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran di banyak negara yang mengandalkan vaksin corona dari China.

Beijing sejauh ini telah mendistribusikan ratusan juta dosis vaksin corona ke luar negeri. Vaksin yang dibuat oleh Sinovac, sebuah perusahaan swasta, dan Sinopharm, sebuah perusahaan milik negara, telah menjadi mayoritas dari vaksin China yang didistribusikan ke beberapa lusin negara termasuk Meksiko, Indonesia, Hungaria, Brasil dan Turki.

Menurut laporan Associated Press, pejabat China pada konferensi pers tidak menanggapi secara langsung pertanyaan tentang komentar Gao. Namun, pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China lainnya mengatakan pengembang saat ini sedang mengerjakan vaksin berbasis mRNA.

“Vaksin mRNA yang dikembangkan di negara kami juga telah memasuki tahap uji klinis,” kata Wang Huaqing, salah seorang pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China. Dia tidak memberikan timeline untuk kemungkinan penggunaan vaksin baru tersebut.[Kumparan]