KISAH NYATA: Saat Hidayah Menghampiri Lelaki Bermata Indah

KISAH NYATA:
SAAT HIDAYAH MENGHAMPIRI LELAKI BERMATA INDAH

By Fissilmi Hamida*

Kisah ini sudah lama, 2016 tepatnya. Saat aku masih menjadi mahasiwi di University of Bristol, tapi  kurasa, aku harus menceritakannya.

🍂

Sebut saja namanya Steve, bukan nama sebenarnya. Dia memang telah menonaktifkan akun media sosialnya. Namun, aku tak bisa menyebutkan nama aslinya karena banyak teman kami yang tak tahu tentang kisahnya ini. 

Steve, lelaki bermata kehijauan, yang kilaunya seringkali membuat degup jantung yang memandangnya mendadak tak karuan. Rambutnya pirang, kulitnya pun putih terang. 

Dia berasal dari Inggris, tepatnya dari kota Brighton. Aku mengenalnya tak sengaja, saat kami tengah sama-sama menghadiri sebuah pesta. Kesan pertama, aku sungguh jijik padanya. 

🍂

Hari itu aku mendapat undangan pesta di Woodland Court. Bukan pesta ulang tahun. Hanya pesta, sekadar melepas lelah setelah ujian menguras tenaga dan pikiran kami semua. 

Ah iya. Aku dan Steve seangkatan di University of Bristol. Namun beda jurusan. Jika kau baca Autumn Leaves, kau pasti ingat tokoh Nafeez, mahasiswa muslim asal Pakistan. Steve sejurusan dengannya.

Sampai di common room di Woodland Court, rupanya sudah banyak yang berdatangan. Aku datang bersama mahasiswi asal Yunani. Ia tinggal di gedung yang sama denganku, namun beda flat. Sebut saja namanya Katerina. 

Aku duduk dekat seorang mahasiswi asal Jepang yang kukenal. Kami lalu mengobrol bersama yang lainnya. Saat kami tengah asik tertawa, Katerina tiba-tiba mendekat dengan seorang lelaki menawan. 

"Hi, Mimi, kenalkan. Pacarku, Steve," begitu katanya. 

Mereka lalu duduk di sebelahku. 

Awalnya tak apa, kami semua mengobrol bersama, sembari melakukan permainan-permainan konyol untuk menyegarkan otak kami semua. Ah, serius. Belajar di kampus ini memang sungguh berat tuntutan akademiknya.

Lama-lama, aku mulai tak nyaman. Sebab Katerina dan Steve mulai berciuman. Ya, tepat di sebelahku. Yang lain melihatnya wajar, namun tidak bagiku. Apalagi saat keduanya semakin panas saja memamerkan gerakan demi gerakan yang mereka sebut sebagai pembuktian cinta. 

"You guys go get a room, please! [Kalian cari kamar, please!]" kataku kemudian, saat tingkah keduanya makin keterlaluan. Apalagi setelah keduanya minum minuman memabukkan. 

"Ah, Mimi. Bilang saja kau iri." 

Begitu kata Katerina. Ia lalu duduk di pangkuan Steve. Saling berhadapan, dan kembali berciuman. 

Kusenggol lengan Nafeez, meminta bantuan untuk menghentikan mereka berdua, atau mereka bisa saja melakukan hal lebih parah. Bisa-bisa mereka bercinta di hadapan kami semua. 

Kulihat mereka berdua pergi setelah Nafeez berbisik dan memberikan mereka sebuah kunci. Mungkin itu kunci kamarnya. Aku tak peduli. Yang penting mereka tak di hadapanku lagi. 

🍂

Ya, itu awal perkenalanku dengan Steve. Menyebalkan. Meninggalkan kesan yang sama sekali tak menyenangkan. 

Berikutnya, sempat beberapa kali bertemu dengannya. Aku sering berkumpul bersama teman-teman dekatku saat weekend tiba. Beberapa dari mereka adalah teman sekelas Steve. Karenanya Steve beberapa kali ikut bertemu juga. 

Hingga suatu hari ....

🍂

21 MARET 2016.

Sebuah pesan masuk melalui aplikasi messengerku. Dari Steve. Isi pesannya membuat mulutku benar-benar menganga tak percaya. 

----------

Hey Fissilmi, I hope you are well! - I wanted to ask you something about the Qu'ran if that is okay? I have recently decided to join the community after much thought, but I have a slight uncertainty over sura 4, sunnah 34 in the Qu'ran... I've found it difficult to understand the true meaning of that sunnah. Please could you explain.

[Hai Fissilmi, kuharap kau baik-baik saja! - Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Alquran. Apakah bisa? Aku baru-baru ini memutuskan untuk bergabung dengan komunitas setelah banyak berpikir, tapi aku sedikit bingung soal Quran surat ke-4, ayat 34. Aku merasa sulit untuk memahami arti sebenarnya dari ayat itu. Bisakah kau jelaskan?]
----------

Begitu isi pesannya. (lihat foto chat di atas)

Steve bertanya padaku tentang Surah An-Nisa ayat 34, bagian "pukullah istrimu." Ia memintaku untuk menjelaskan soal itu, tentang mengapa Qur'an 'semengerikan' itu. 

Kujelaskan padanya jika pukullah di sini tak sembarang pukul. Namun ada tahapan demi tahapannya, dan memukul ini adalah tahapan terakhir. Itupun ada etikanya. Tidak sembarang pukul. 

Lalu kusertakan pula terjemahan ayat tersebut dalam bahasa Inggris agar ia lebih mudah memahaminya. 

----------

“Men are the protectors and maintainers of women, because Allah has made one of them to excel the other, and because they spend (to support them) from their means. Therefore the righteous women are devoutly obedient (to Allah), and guard in the husband's absence what Allah orders them to guard (e.g. their chastity, their husband's property, etc.). Regarding the woman who is guilty of lewd, or indecent behavior, admonish her (if she continues in this indecency then), stop sharing her bed (if she still continues doing this lewd behavior, then), [set forth for her the clear meaning of either straighten up or else we are finished and when she returns to proper behavior take up sharing the bed with her again], but if she returns in obedience (to proper behavior and conduct) then seek not against them means (of annoyance). Surely, Allah is Ever Most High, Most Great.”

[Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.]

----------

Aku berbincang cukup lama dengannya.

Kukatakan padanya jika bahasa Inggris itu terbatas. Kosa katanya tak luas. 

RICE misalnya. Dalam bahasa Jawa, ada gabah, ada beras, ada menir, ada upo, ada sego, ada intip. Semuanya berbeda. Namun dalam bahasa Inggris, semua itu disebut sebagai RICE.

Itu hanya bahasa Jawa. Apalagi bahasa Al-Quran yang tinggi tingkat bahasa dan sastranya, yang seringkali bahasa Inggris tak mampu untuk menerjemahkan makna sebenarnya. Lagipula, ada asbabun nuzul atau sebab musabab diturunkannya suatu ayat. Kita juga harus memerhatikannya. Tak bisa begitu saja menelannya. 

Di akhir, aku bilang, 

"I hope my words are clear enough."
[Semoga penjelasanku cukup jelas]

Steve menjawab,

"They are very, and it is a good thing you have helped to clear up for me."
[Sangat jelas. Dan terimakasih kau telah membantu menjelaskannya untukku.]

Lalu sudah. Obrolanku dengan Steve berakhir. Aku kembali ke peraduan dengan sekelebat tanya. 

"Kenapa Steve yang hidupnya bebas, tiba-tiba tertarik membahas tentang Alqur'an?" 

🍂

29 JULI 2016.

Minggu demi minggu berlalu, hingga tak terasa tinggal 2  bulan lagi deadline pengumpulan disertasiku. 

Aku menulis disertasi berjudul:

POLITENESS IN REQUESTS: A COMPARATIVE STUDY BETWEEN INDONESIAN ESL LEARNERS AND BRITISH ENGLISH NATIVE SPEAKERS.

Disertasiku ini berada di bawah supervisi dr. Helen Woodfield. Ahli pragmatics, bidang riset yang kupilih. 

Disertasiku membutuhkan 10 British Native Speakers (penutur asli bahasa Inggris) yang sedang berkuliah di University of Bristol untuk berpartisipasi. 

Karena Steve adalah British tulen, aku meminta tolong padanya untuk menjadi participant penelitianku. Ia setuju. 

Hari itu, aku janjian dengan Steve untuk bertemu, untuk kuwawancarai terkait questionnaire disertasiku. 

Akhirnya, kami sepakat untuk bertemu di hari Jumat, di kampus. Saat kutanya pukul berapa, Steve menjawab,

"Sounds good, well I'll be at Jumma until 2:30." 

Aku mengerutkan dahi. 

I'll be at Jumma? Apa maksudnya? Steve ... baru bisa bertemu denganku setelah pukul 2.30 siang karena dia akan berada di salat Jumat? 

Sebentar. Apa aku salah tangkap? 

Kuiyakan permintaannya. Sembari menunggu pukul 02.30 tiba, hatiku dipenuhi tanda tanya. 

Jumma? Steve salat Jumat? Apa maksudnya? Ah, demi Allah. Aku sungguh tak tenang. 

Maka ketika ia mengirimkan pesan padaku jika ia sudah berada di Senate Study House, salah satu gedung kampus di Woodland Road, aku segera ke sana. Aku sungguh ingin bertanya padanya apa maksud pesan soal Jumma tadi. 

"Steve, is that you?" sapaku, setelah melihatnya yang tampak berbeda. 

Aku ingat betul. Hari itu ia menggunakan sweater kombinasi warna orange dan hitam. Ia tampak sedikit berbeda. Jelas ia baru saja memangkas rambutnya dan juga mencukur cambangnya. Ia tampak lebih ... segar! 

Ia tersenyum. 

"Kau pangling ya? Aku baru saja memangkas rambut dan mencukur cambang. Bagaimana menurutmu?" tanyanya. 

Aku langsung menggeser kursi dan duduk di sebelahnya. 

"Kau lebih cocok begini. Gaya rambutmu yang sebelumnya memang membuatmu tampak lebih muda. Tapi berantakan. Awut-awutan. Sedang yang ini, kau tampak rapi dan tampak dewasa," jawabku, terlalu jujur. Ia tertawa. 

Sekuat hati kutahan diri untuk bertanya, sampai wawancaraku dengannya benar-benar selesai. 

🍂

"Steve, boleh aku bertanya?" ucapku, sedikit ragu. Ada genderang riuh di jantungku. Steve menganggukkan kepala. 

"Saat kau bilang ... kau baru bisa bertemu denganku setelah  puku 2.30 karena kau akan berada di Jumma, apa maksudnya? Apa maksudnya ... kau salat ... Jum'at?" tanyaku. Sangat hati-hati. Takut ia tersinggung karena ini.

Ia kembali tersenyum. Ia lalu menggeser kursinya hingga posisinya semakin dekat denganku. Setengah berbisik, ia menjawabku. 

"Iya, Mimi. Aku tadi harus salat Jum'at dulu di Ashaba Centre. Karenanya aku baru bisa menemuimu setelahnya," jelasnya. 

Demi Allah. Tubuhku bergetar tiba-tiba. 

"Kau ... kau apa? Kau ... salat Jumat? Steve, jangan bercanda," ucapku. Lagi-lagi ia tersenyum padaku. 

"Salat Juma't adalah kewajiban untuk lelaki muslim, kan?" ucapnya, membuatku kian menganga. 

"Steve, apa kau ...."

Oh, Allah. Aku tak sanggup lagi melanjutkan kalimatku, sebab tiba-tiba ada haru merasuki kalbu, hingga bulir bening memaksa untuk keluar dari mataku. 

"Iya, Mimi. Aku sekarang seorang muslim. Aku sudah mengucapkan syahadatku," jelasnya. 

Allahu Akbar!

Tumpahlah kini airmataku. Di hadapannya aku tersedu. 

"Mimi, terimakasih. Penjelasanmu kala itu benar-benar membuatku berpikir. Sejak itu aku mulai benar-benar belajar tentang Qur'an, tentang Islam, dan rupanya, Islam adalah jawaban dari segala kehampaan yang selama ini aku rasakan," jelasnya, membuat airmataku kian deras saja. 

Ya. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa peduli beberapa pasang mata milik mahasiswa lain mulai mengamati kami berdua. 

"Hey, Mimi, jangan menangis di sini. Bisa-bisa mereka mengira aku berbuat buruk padamu," selorohnya. Aku tak tertawa. Aku terus tergugu karena terharu. 

"Baiklah. Bagaimana kalau kita ke luar saja? Ke Royal Fort Garden? Aku akan menceritakan semuanya dan kau bisa menangis sepuasmu di sana," ajaknya. 

Aku menghapus airmata dan mengekornya. 

Ya, Royal Fort Garden, taman serba hijau di kampusku hari jadi saksi atas keharuanku. 

Steve yang di awal perjumpaan benar-benar menyebalkan, kini telah menjadi saudaraku dalam iman. 

Bagaimana aku tak bahagia? 

🍂

Perubahan sikap Steve cukup drastis. Aku sempat menilik media sosialnya. Banyak komentar-komentar menanyakan apa yang terjadi dengannya, kenapa ia tak mau lagi diajak mabuk-mabukan dan sejenisnya. Bahkan tak sedikit yang mencaci jika ia tak asik lagi. 

Lalu soal Katarina. Aku memang cukup dekat dengannya. Suatu hari ia curhat padaku. Tentang Steve. 

"Steve berubah. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya tapi ia ingin putus dariku. Mimi, kau tahu apa yang terjadi padanya?" 

Katarina menangis. Aku diam saja, meski aku tahu apa sebabnya. Aku hanya bisa menenangkannya. Jangan khawatir. Hingga sekarang, aku masih sering bicara dengan Katarina. Ia sudah pulang ke Yunani dan sudah bertunangan. Katarina sudah move on dan ia bahagia. 

Ah iya. Steve sempat beberapa kali meminta saranku untuk rekomendasi tempat salat Jumat. Sebab beberapa tempat memang khutbahnya menggunakan Bahasa Arab atau bahasa Urdu. Steve meminta rekomendasiku, di mana saja yang memakai bahasa Inggris agar ia paham apa isi khutbahnya. Semangatnya lagi-lagi membuatku gerimis.

🍂

Ya, kisah luar biasa, tentang hidayah yang diterima seorang lelaki bermata indah. 

Setelah lulus dari Inggris, aku masih beberapa kali bicara dengannya, sampai kemudian, media sosialnya tak aktif lagi. Aku lost contact. Aku pernah nekat mengirimkan pesan ke akun LinKedin-nya, tapi nihil. Aku sudah mengira demikian karena akun itu juga tak banyak aktifitas. 

Dear Steve. 

Semoga kau istiqamah dengan islammu. Semoga kelak kita bisa kembali bertemu.

Salam rindu.

Saudari seiman yang sangat merindukanmu. 😭😭

🍂
In frame:
Sebelah gerbang menuju Royal Fort Garden, tempatku bercengkerama dengan Steve.

Beberapa kisah sejenis tentang bagaimana aku menjelaskan soal Islam juga kuabadikan dalam novel AUTUMN LEAVES yang memang terinspirasi dari kisah pribadiku saat aku berada di Inggris. Termasuk saat Bristol Post sampai memuat penjelasanku yang tak terima atas survey yang menyudutkan Islam. 

HOT PROMO hanya 45.000/novel dan FREE ONGKIR ke seluruh Indonesia kecuali Maluku & Papua.


____
*Sumber: fb penulis