Jozeph itu Pembenci Islam yang Terang Benderang, Mudah Menghadapinya, Pembenci Islam yang Samar-samar Yang Lebih Sulit

JPZ

By Balyanur*

Jangan terlalu serius lah nanggapin becandaan Pendeta Jozeph Paul Zhang (JPZ ) yang mengaku sebagai nabi yang ke-26. Kalau cuma focus kesitu malah mengaburkan substansi ocehan JPZ. Setelah menonton video berdurasi lebih 4 jam berjudul Bubarkan kementerian Agama, https://www.youtube.com/watch?v=6dvxYF1xz-8 rekaman ngezoomnya dengan rekan-rekannya sesama pendeta, JPZ ini kurang pas dimasukan kategori penista agama Islam, lebih jauh dari itu, dia sebagai pembenci Nabi Muhammad  kelas radikal. Pembenci Nabi tentu saja auto pembenci Islam.

JPZ seperti muncul dari zaman sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. Kaum nasrani yang bukan hanya tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhammad, tapi juga marah karena dianggap Nabi Muhammad membawa agama baru yang melecehkan Agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan keturunannya. Boleh dibilang, JPZ ini pendeta yang belum mupon.

Narasi yang digunakan untuk merendahkan Nabi Muhammad sejak zaman dulu sampai sekarang sama saja. Misalnya soal istri-istri Nabi Muhammad wabil khusus pernikahan Nabi dengan siti Aisyah. Itulah yang mereka sebut sebagai nabi cabul. Dan juga penyergapan kabilah quraisy pasca perang Badr.

Jadi, narasi hinaan JPZ  kepada Nabi Muhammad bukan hal baru. Itu sudah berlangsung lamaaaa dan berulang-ulang. Di Indonesia terasa seperti baru karena JPZ lebih terus terang, padahal yang lebih tertutup atau setengah tertutup mah buanyaaak. Beda juga dengan orang-orang yang tidak suka pada Islam, yang masih belum mupon dengan kerasulan Nabi Muhammad tapi pura-pura berwajah manis walaupun tangannya tetap mengepal geram.

JPZ bukan Cebong. Karena dia nggak punya kepentingan politik atau kekuasaan, maka dia bebas menghantam siapa saja termasuk saudara-saudaranya sesama kristiani yang dianggap terpedaya oleh sikap Banser yang sering menjaga gereja. JPZ malah mengatakan, “FPI nggak pernah membakar gereja!”. Ucapan itu diulang-ulang ulangnya sambil menunggu sanggahan lawan bicaranya. Kemudian dia melanjutkan, “Yang sering membakar gereja malah Banser, orang-orang NU!”. Makanya JPZ minta kaum kristiani jangan mau tertipu oleh Banser yang dianggap musuh dalam selimut. JPZ mengibaratkan, FPI sebagai Srigala liar, sedangkan Banser sebagai nyamuk malaria. Lebih mudah menghadapi Srigala ketimbang nyamuk malaria.

JPZ juga mengkritisi PGI. JPZ memandang PGI seperti oposan memandang NU struktural. JPZ juga mengkritisi Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang dianggap sebagai korup, untuk menutupi kekorupannya, “dewan kemakmuran gerejanya” dari dinasti, turun temurun.

Itulah gambaran JPZ. Dia pembenci Islam yang terang benderang hingga umat Islam mudah menghadapinya. Pembenci Islam yang samar-samar punya cara yang beda. Mereka memainkan isu radikal radikul, memakai strategi rungkal rangkul. Merangkul ormas Islam yang satu, menghantam ormas Islam yang lainnya. Ini cara adu domba yang halus. Cuma masalahnya dombanya malah senang diadu-adu. Apa boleh buat. JPZ nggak mau cara seperti itu. Bagi JPZ, Islam ya Islam yang harus dijadikan musuh bersama, apapun ormasnya.

Meminjam istilah JPZ. Umat Islam menghadapi JPZ sama dengan menghadapi Srigala liar. Lebih sulit menghadapi pembenci Islam yang memainkan isu radikal radikul rungkal rangkul yang ibarat nyamuk malaria. Sengatannya mematikan tanpa tahu serangannya. Tau-tau mati gitu aja.

Usulan JPZ membubarkan Kementerian Agama juga beda dengan usulan yang sama yang pernah digaungkan baik oleh muslim yang geram karena kementerian agama kerjanya cuma radikal radikul doang, dan kaum minoritas yang geram karena Menag dianggap lemah terhadap apa yang mereka sebut sebagai penindasan kaum minoritas.

Bagi JPZ, ucapan Menag yang mengatakan menteri semua Agama sebagai ucapan yang dungu dan berbahaya. Bagi JPZ, ucapan Menag itu seolah Menag berada di atas hirarki semua Agama. Menjadi tuan besar para agamawan. JPZ mengusulkan, Kemenag diganti saja menjadi Kementerian urusan agama Islam, karena menurut JPZ Islam aturan agamanya lebih ribet. Agama lain biar diatur oleh umatnya masing-masing.

Kemunculan JPZ ditanggapi beragam oleh agamawan kristiani. Ada yang bilang JPZ bukan pendeta, JPZ sesat dan sebagainya. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada satupun agamawan kristiani yang meluruskan ucapan hinaan JPZ kepada Nabi Muhammad. 

Kesesatan JPZ -menurut kalangan kristiani- bukan karena dia berkata buruk kepada Islam wabilkhusus Nabi Muhammad, tapi karena JPZ sebagai pendeta mendoakan kaum kristiani dan non kristiani. Pdt. Esra Alfred Soru di chanel youtubenya menyebut “Doa Sesat Paul Zhang.” Jadi, yang sesat doanya. https://www.youtube.com/watch?v=LYpK8HsaviU

Pdt. Esra menyoroti doa JPZ, “Meminta berkat dari Tuhan Yesus, terimalah berkat dari Tuhan Yesus apa pun agamamu.” Pdt. Esra mempertanyakan, apakah mungkin meminta berkat bagi non kristiani yang tidak percaya pada Tuhan Yesus? Kalau Cuma berkat Jasmani, Pdt. Esra tidak mempersoalkan. Tapi kalau berkat rohani, nanti dulu. Karena menurut pdt. Ersa, orang kristiani yang berdosa dan orang non kristiani itu sama-sama terkutuk.

Pdt. Esra mengutip Galatia 3:10. Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Pdt. Esra menafsirkan ada 3 golongan yang terkutuk, salah satunya yang tidak percaya dan mengamalkan Al Kitab yang tentu saja tidak percaya pada ketuhanan Yesus. Jadi kalau muslim menyebut non muslim itu kafir, Kristiani –setidaknya menurut pdt Esra—menyebut non kristiani itu sebagai orang terkutuk.

Inilah dasar hingga pada kesimpulan JPZ itu sesat karena berdoa agar Tuhannya memberkati secara rohani pada non kristiani. Pantesan doa lintas agama idenya Menag nggak laku. Cuma kok masih ada muslim yang berdoa di gereja? Au ah elap…

*sumber: fb penulis (22/4/2021)