Perumpamaan yang Terang Sekali: Pejabat & Kyai

Perumpamaan yang terang sekali..

Suatu hari, seorang kiyai dan pejabat hendak shalat bersama. Mereka wudhu bersisian. Kiyai membuka keran airnya besar-besar, mengucur deraslah air tersebut, kemana-mana.

"Astagfirullah, Kiyai," Kata pejabat, "Tidakkah keran airnya terlalu besar dibuka? Itu boros sekali. Padahal Nabi menyuruh kita berhemat air saat wudhu."

Kiyai menoleh kepada pejabat, "Itu benar sekali, Pejabat. Tapi jika kau melihat keran air ini saja tahu itu tidak boleh. Lantas bagaimana dengan uang negara yang kalian hambur-hamburkan, boros, bahkan dikorupsi dan sebagainya. Bukankah Nabi jelas-jelas lebih melarang soal itu?"

Kisah ini ada di buku-buku lama. Kitab-kitab lama. Saat seorang ulama mencoba mengingatkan penguasa sebuah negeri. Beruntung sekali negeri itu, punya seseorang yang berani mengingatkan. Dan lebih beruntung lagi, saat penguasanya juga mau diingatkan. Malu, kemudian berubah. Karena sindiran ulama tsb telak.

Negara yang maju, selalu memiliki orang-orang ini. Tokoh, entah itu ulama, pendeta, akademisi, atau apapun, yang memang tulus mau mengkritisi negerinya. Tidak berharap imbalan. Apalagi berharap dikasih jabatan. Wah, repot kalau tokoh tsb diam-diam pengin jabatan, sekali dikasih, dia mingkem. Pun selalu memiliki pejabat-pejabat yang memang mau dikritisi. Bukan bilang silahkan kritik, tapi membiarkan yang mengkritisi dituntut di sana-sini. Bahkan jangan-jangan di dalam hatinya dia bersorak, 'Syukur, masuk penjara yg rese2 ini.'

Sungguh beruntung negara yang punya kombinasi baik tsb. Ada yang berdiri tegak mengkritisi. Ada pejabat yang mau dikritisi, diingatkan.

Karena ada kisah lain terkait kiyai dan pejabat ini.

Di sebuah tempat, ada masjid baru yang megah. Saat pemilihan DKM masjidnya, yang akan mengurusi keuangan, kegiatan, dll, Kiyai mencalonkan anaknya yang masih belia. Karena itu anak kiyai, semua orang setuju, memilihnya jadi ketua DKM. Pejabat datang meresmikan masjid megah tsb. Dan bingung melihat ketua DKMnya yang semua serba masih belajar. Padahal di sana jelas lebih banyak yang lebih luas ilmunya, lebih berpengalaman.

"Kiyai, kenapa anaknya yang dijadikan ketua DKM? Dia bahkan ngaji saja belum lurus. Sy tahu dia dipilih jamaah, tapi kenapa dia yang dicalonkan?"

"Itu benar sekali, Pejabat. Tapi jika kau heran melihatnya, bukankah anak-anakmu juga sengaja sekali menyingkirkan orang lain, dicalonkan juga oleh kelompokmu, lantas dipilih menjadi pejabat. Jika kau heran melihat anakku, maka tidakkah kau heran melihat anakmu bisa jadi pejabat?"

Inilah perumpamaan yang terang sekali. Jika kalian masih punya nurani dan bersedia memikirkannya. 

Tabik.

(By Tere Liye)