AUMAN SINGA AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

AUMAN SINGA AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Rocky Gerung bilang, pengadilan IB HRS sabagai political excluision alias penyingkiran politik terhadap Islam Politik. Hersubeno Arief mengutip penelitian pengamat politik asal Korsel, Seung Wan Choi yang meneliti penyingkiran politik di 130 negara selama tahun 1981 sampai 2005. Hasil penelitian Seung, political exclusion itu menimbulkan domestic terrorism, terror setempat. 

Rocky Gerung mengamini. Penyingkiran politik terhadap Islam Politik melalui rekayasa hukum IB HRS dimaksudkan agar umat Islam simpatisan IB HRS ngamuk, maka rezim yang selama ini hanya punya modal stigma radikal radikul jadi punya stempel resmi. Islam Politik yang dimaksud Rocky bukan soal Khilafah atau semacamnya, tapi soal rasa Keadilan. Makanya menurut Rocky, bukan hanya muslim yang bersimpati terhadap IB HRS tapi siapa saja yang mendambakan keadilan. Hingga, menurut Rocky kekuasaan punya defisit moral, sebaliknya IB HRS moralnya bertumbuh.

Kalau saja Sueng mengadakan penelitian di Indonesia dia pasti akan mempelajari ulang teorinya. Pembunuhan 6 laskar secara hitung-hitungan pasti akan menimbulkan huru-hara. Seung akan kecele. Simpatisan IB HRS yang distigma sebagai radikal radikul yang gemar dengan kekerasan malah tidak mau masuk perangkap domestic terrorism, mereka menempuh jalan yang disediakan Konstitusi

Walaupun jalan itu tidak menghasilkan seratus persen keadilan, sekurangnya bikin rezim ini kekurangan simpati dan penambahan simpati baru bagi IB HRS. Sebelumnyya polisi yang didampingi Kang Dudung dengan bangga memuji kerja anak buahnya yang telah berhasil mencabut nyawa 6 syuhada, sekarang malah memperisapkan penjara bagi anak buahnya itu. Untung bangsa kita dikenal sebagai bangsa pemaaf (sebagai kata ganti pelupa) sehingga tidak punya imajinasi yang menggambarkan bagaimana meracik ekspresi kebanggaan dengan ekspresi saat komandan memenjarakan anak buahnya yang dibanggakan itu. Juga tidak punya imajinasi bagaimana meracik karangan bunga ucapan selamat dengan bunga duka cita.

Pun ketika IB HRS digelandang masuk tahanan, simpatisannya masih percaya akan keadilan Tuhan yang akan mengalahkan kezaliman. Kesabaran itu mulai menampakan hasil. Ketika IB HRS berorasi soal keadilan terhadap dirinya. Dia mengingatkan Majelis Hakim yang meng-online-kan sidangnya bahwa kasusnya memang termasuk kasus ringan (prokes/kerumunan), tapi dampaknya luar biasa kejam. Menyebabkan 6 pengawalnya dibunuh, rekening diblokir, ormasnya dibubarkan. Maka dia dengan tegas minta dihadirkan di ruang siding!

Auman singa nahi munkar itu menuai simpati baik simpatisannya maupun bukan. Auman itu bikin majelis hakim bulu kuduknya berdiri. Walau pun para Cebong mengingatkan Majelis Hakim agar jangan takut pada IB HRS, tidak cukup membuat Majelis Hakim merasa nyaman. Apa boleh buat. Majelis Hakim yang semula ngotot sengototnya mengonlenkan siding terpaksa mengabulkan permintaan IB HRS, menghadirkan di ruang sidang setelah IB HRS berjanji akan mengimbau simpatisannya agar tidak datang berkerumun.

Auman singa nahi munkar itu pun bikin kriminolog terkenal bergidik. Dia menuduh IB HRS sedang memainkan psikologi masa. Artinya, kriminolog itu yakin akan semakin banyak simpatisan baru terhadap IB HRS. Simpati itu tidak mungkin tumbuh kalau yang diaumkan IB HRS adalah hoax, omong kosong. Simpati hanya mungkin tumbuh kalau yang dijembreng IB HRS adalah fakta yang tak terbantahkan. 

Itulah yang terjadi. Auman itu bikin polisi buka kartu. Polisi mengaku tidak pernah meminta PPATK memblokir rekening FPI. Auman itu sampai ke gedung DPR. DPR dengan tajam mempertanyakan alasan PPATK memblokir rekening FPI dan keluarga IB HRS. Tentu saja PPATK gelagapan. Mereka kan cuma pion yang dimainkan oleh Dewa Blower. 

Saudaraku, besok (Jumat) singa nahi munkar akan hadir di persidangan. Akan kembali mengaum. Auman itu akan menembus dinding ruang sidang. Auman itu akan jelas terdengar jika tidak ada kegaduhan. Tidak ada suara yang malah membuat auman itu kurang jelas terdengar. Headline akan focus terhadap auman itu jika tidak ada kegaduhan besar maupun kecil.

Biarkan auman itu menembus dinding ruang sidang, menembus sekat kezaliman, menembus setiap relung jiwa, menabrak ketidak adilan, membuka mata hati siapa saja yang masih punya kewarasan. 

(By Balyanur)