APA IYA PAK PRABOWO "SELUGU" ITU?

APA IYA PAK PRABOWO "SELUGU" ITU?

Saya membutuhkan waktu sampai 7 tahun untuk memahami, kenapa di tahun 2014 Pak Prabowo memilih Pak Hatta Radjasa sebagai Cawapresnya.

Padahal masa itu, dari tingkat kepopuleran, Pak Abu Rizal Bakrie atau ARB jauh lebih baik elektabilitasnya. Apalagi ARB masa itu Ketua Partai Golkar. Partai yang suaranya bahkan mengalahkan Partai Gerindra.

Saya masih ingat, mungkin karena rasa bersalah "terpaksa" memilih Pak Hatta Radjasa, Pak Prabowo sampai menyebutkan kelak (kalau menang) jabatan Pak ARB "semacam" Menteri Tinggi. Istilah ini kemudian dijadikan olok-olokan sebagai "Perdana Menteri".

Banyak yang berpikir, alasan terpilihnya Pak Hatta Radjasa karena lobby-an Pak Amien Rais. Ada juga yang menyebutkan Pak ARB tidak dipilih karena Perusahaanya sedang terlilit kasus Lumpur Lapindo.

Semuanya masuk akal kala itu. 

Tapi sekarang setelah saya renungkan. Pemilihan Pak Hatta, adalah bagian dari upaya Pak Prabowo mendapatkan kepercayaan Pak SBY untuk menjadi Presiden selanjutnya. Karena Pak Hatta Radjasa adalah besan Pak SBY (yang masih menjabat presiden RI saat penyelenggaraan pilpres 2014).

Sayangnya Pak SBY sepertinya malah lebih memilih Pak Jokowi. Terbukti dengan sikap "netral" Demokrat dan Pak SBY di Pilpres 2014. 
Maka Pak Jokowilah yang melanjutkan Kursi Kepresidenan.

Di Pilpres 2019, Pak Prabowo masih mencoba bermain "ksatria" dengan memanfaatkan dukungan rakyat yang tulus. Dikomandoi para Ulama. Para Tokoh-tokoh Nasional yang selama ini terkenal lurus dan berintegritas. Sayangnya (menurut saya) sistem Pilpres kita sudah tidak meng-akomodasi permainan yang jujur dan ksatria lagi.

Seperti yang berulangkali saya sampaikan (tapi tentu saja ini cuma teori saya) Sejak Pilpres 2009, Pemenang Pilpres ditentukan oleh Presiden Petahana. 

Jadi sampai kapanpun, Presiden akan menjabat dua periode. Cuma mimpi, Pilpres kita bisa seperti di Amerika, Presiden Petahana (Donald Trump) bisa dikalahkan Penantang (Joe Biden). 

Sorry, kita masih jauh dari Kesempurnaan Penyelenggara Pemilu dan Pilpres seperti di Amerika.

Saya yakin atas dasar ini, akhirnya Pak Prabowo memutuskan "bergabung" dengan Pemerintah saat ini. Walaupun resikonya beliau dihujat dan dicaci-maki mantan pendukung dan pemilihnya.
Saya yakin, walau dengan cara apapun, beliau tetap ingin memperbaiki kesalahan fundamental kita bernegara sekarang ini.

Cara satu-satunya, ya memang wajib jadi Presiden.
Berada diluar Pemerintahan atau menjadi oposisi abadi tidak akan bisa berbuat banyak.
Apalagi mengingat, betapa mudahnya Partai Politik di Negara kita berubah haluan dan merapat kepada kekuasaan. 

Sebut saja di Pemilu 2014. Masa itu Parpol justru dikuasai Oposisi. Tapi belum setahun berlalu, Golkar diintervensi Kekuasaan. Pak ARB sebagai Ketua Umum digoyang dan dijatuhkan. Begitu juga dengan PPP. Akhirnya kedua Partai dengan Ketua Umum hasil "Kudeta" memilih bergabung dengan Kekuasaan. 
Tidak lama kemudian PAN juga merapat masuk Pemerintahan. Tinggal Gerindra dan PKS yang tetap teguh jadi Oposisi. 

Tapi bisa apa dua Partai menghadapi tujuh partai yang menguasai mayoritas Kursi di Gedung DPR RI?

Jadi sudah saatnya merubah Jalan Perjuangan. 

Sebagai seorang Nasionalis, seperti yang bolak-balik disampaikan beliau:

"Dalam perjuangan besar untuk Merah Putih dan Bangsamu, tidak boleh ada ruang untuk perasaan pribadi..." (Prabowo Subianto).

Sampai sekarang, walaupun mungkin hanya kelihatan sedikit, tapi Gerindra berada di Pusaran Kekuasaan jauh lebih bermanfaat daripada sekedar jadi Oposisi. 

Tapi bukan berarti saya tidak menghargai pilihan PKS. Justru pilihan PKS dengan tetap menjadi Oposisi menjadikan Demokrasi kita belum mati. Apa jadinya kalau semua Partai ikut di Gerbong Kekuasaan?

Jadi tolong jangan kita benturkan Gerindra dengan PKS. Bagi saya, kedua Partai ini adalah Partai terbaik yang kita miliki sekarang. Keduanya tetap teguh berjuang dan memperjuangkan nasib dan masa depan bangsa ini dengan cara dan strategi masing-masing.

Jadi mohon maaf, untuk Pilpres 2024, saya masih "ngikut" Pak Prabowo. Selama beliau tidak pernah memenjarakan dan bereaksi untuk orang-orang yang mencaci-makinnya, selama itu juga saya masih percaya beliau tidak memiliki ruang untuk perasaan pribadi demi perjuangan besar untuk Merah Putih dan Negara ini. 

Silahkan dibully, atau ayok diskusi. Yang mau maki-maki tidak akan saya tanggapi. Sorry yang kena tagging. Emang disengaja ....😁

(By Azwar Siregar)