Abiku BUKAN Teroris

Abiku BUKAN Teroris

Masih kuingat jelas suara pintu rumah kami digedor tengah malam oleh segerombolan orang berseragam. Saat itu, Abi tengah melaksanakan salat malam, seperti malam-malam biasanya. Ummi pun baru saja selesai menyusui Hisyam yang sering terbangun di malam hari. 

Aku tidak tahu itu seragam apa, tetapi yang pasti kuingat adalah wajah mereka sangat menakutkan. Mereka semua juga memegang senjata lengkap di tangan.

Mereka masuk tanpa permisi, menendang pintu, dan merusak beberapa benda yang ada di ruang tamu. Mereka sama sekali tidak menggubris, bahkan saat Abi meminta izin kepada mereka untuk menunggu Ummi menggunakan hijab dan cadarnya. Mereka benar-benar tak peduli.

Seseorang kemudian menodongkan senjatanya ke kepala Abi, lalu beberapa orang lainnya mulai mendobrak pintu lemari. Tangan mereka dengan sigap mengeluarkan seluruh pakaian Abi serta kitab-kitab yang selalu dipakai saat mengisi pengajian.

Ya, Abi memang seorang ustaz. Beliau sangat sibuk berdakwah. Setiap bulan, Abi selalu punya agenda keliling Indonesia untuk melakukan safari dakwah bersama para ustaz lain. Aku pernah diajak Abi sewaktu beliau mengisi pengajian di luar pulau. Abi hanya mengajak orang-orang agar kembali pada pemahaman Al-Quran dengan benar dan kaafah, mengajak masyarakat untuk mau berdakwah serta membela agama ini. Hanya itu yang kutahu tentang pengajian Abi.

Namun, beberapa orang selalu menilai keluarga kami aneh. Terutama pakaian Ummi yang serba tertutup. Sering kali teman-teman mengejekku dengan sebutan anak ninja. Aku bahkan sempat dibuat kesal oleh Firzan, anak tetangga sebelah. Dia tidak pernah bosan meledek dengan mengatakan kalau Ummi adalah wanita ninja, sebab Ummi memakai cadar dan pakaian yang sangat tertutup rapat.  

Aku sebenarnya tak lagi peduli dengan ucapan Firzan. Kata Ummi, pakaian muslimah yang dianjurkan Allah, ya memang seperti itu. Biar saja mereka mengejek, asal kami hidup di bawah naungan perintah Allah dengan benar.   

Mereka melempar kitab-kitab tersebut ke lantai. Hanya beberapa judul kitab yang mereka bawa dan sebuah Al-Quran kecil--mushaf yang selalu Abi pegang saat murojaah bersamaku, Ummi, dan Hisyam.

Beberapa pertanyaan diajukan, tetapi Abi tetap menjawab dengan tegas, "Wallahi, saya tidak tahu."

Itu adalah kalimat sumpah tertinggi, tetapi rupanya tidak dipahami oleh mereka. Mereka tetap memukul dan menendang sambil menuduh Abi berbohong.  

"Katakan kalian terlibat!"

"Tidak! Saya tidak mungkin mengakui hal yang tidak saya laku ...."

Belum selesai Abi membela diri, sebuah tendangan menghantam punggungnya. Seketika, Abi jatuh tersungkur. Aku sempat menjerit, tetapi Ummi menghalau agar aku tidak mendekati Abi. Kami berdua hanya bisa berdiri di pojok ruangan. 

Beberapa orang di antara mereka pun lari ke dapur, membuka kulkas, lemari makan, serta menggeser beberapa benda sehingga tak lagi rapi berada di tempatnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka cari.  

Apakah mereka menuduh Abi seorang pencuri? Ingin sekali aku memukul orang orang berseragam itu dan mengatakan abiku bukanlah pencuri. Manalah mungkin, beliau orang yang sholeh. Setiap hari pekerjaannya hanya mengaji dan berdakwah, tak ada yang lain.  

Sampai akhirnya seorang lelaki di antara mereka mengacungkan beberapa benda yang aneh. Benda itu kemudian dilempar kehadapan Abi. Dia lalu meminta Abi memegang benda-benda itu. Awalnya, Abi tak mau menuruti mereka. Namun, sebuah tendangan dan pukulan membuat Abi tersungkur, serta kalimat ancaman yang kudengar saat Abi jatuh.

"Peganglah, ini untuk barang bukti! Jika kamu tidak melakukan apa yang kami perintahkan, maka istri dan kedua anakmu ini sebagai penggantinya". Kata seorang lelaki yang kini kutahu dia berpangkat letnan.

Entah apa maksud ancaman manusia berseragam itu, usiaku baru 7 tahun saat itu. Aku tidak bisa mencerna kalimat-kalimat lain yang mereka lontarkan malam itu. 

Dengan keadaan terpaksa, Abi pun mulai memegang benda yang kini kutahu itu adalah sebuah granat. 
Abi mengucap takbir berulang-ulang saat memegang benda tersebut. Dua orang di antaranya dengan sigap langsung mengambil gambar adegan yang sedang Abi lakukan. 

Malam itu mereka membawa Abi dengan borgol dan senjata yang mereka todongkan di pelipis. Abi sempat memeluk Aku dan Hisyam. Bayi kecil yang masih di gendong Ummi.  

Abi menunduk menatapku dan memegang pundak, sedikit sekali pesan Abi malam itu:
"Yazid, hiduplah mulia atau matilah dalam keadaan syahid."

Kalimat yang selalu Abi ucapkan kepadaku setiap bada sholat subuh. Dan hari itu, kami tak akan melewati subuh berjamaah lagi karena Abi dibawa oleh rombongan berseragam yang kini kutahu mereka adalah pasukan khusus.  

Ummi mencium tangan Abi dan membalas takbir yang Abi teriakan saat melangkah keluar pintu. Baju koko hitam yang selalu ia pakai untuk mengisi pengajian, serta peci putih yang tak pernah ia lepas. Kecuali saat wudhu atau tertidur.  

Aku menarik jilbab Ummi, dan merengek meminta Abi untuk tak pergi. Ummi pun memegang tanganku dengan erat setelah ia merapihkan cadarnya yang sempat tersingkap. Aku yakin Ummi menangis, sedih, dan mungkin lebih hancur saat melihat tangan Abi diborgol seperti penjahat kelas kakap. Tapi Ummi tak menunjukan kelemahan sedikitpun di depan kami. 

Beberapa menit setelah mereka pergi, Ummi segera meraih ponselnya yang sengaja ia sembunyikan di bagian pakaian dalam. Ummi segera menelfon seseorang yang dipanggil dengan sebutan Ustadz Abu.  Melaporkan kejadian yang baru saja kami alami.  

Satu jam kemudian ustadz Abu pun datang dengan dua mobil santrinya. 

Beliau hanya mengajukan pertanyaan singkat pada Ummi.  

"Apa saja yang mereka bawa?"

"Hanya kitab dan mushaf, dua hp Abi masih berada ditempat aman, sehingga tidak diambil. Ini silahkan ustadz amankan."

"Sabar Umm, insya Allah kami bantu. Sudah waktunya kita jihad."

Begitulah kalimat ustdz Abu malam itu. Sangat singkat sekali. Sampai kemudian mereka pergi dan aku tidak pernah melihat ustadz Abu lagi sampai hari ini.

Keesokan harinya, polisi ramai berdatangan ke rumah kami. Ada wartawan dan orang-orang yang entah datang dari mana. Rumah kami dikelilingi garis kuning. Aku, Hisyam dan Ummi sudah lebih dulu dijemput oleh suruhan ustadz Abu. Kini kami berada di tempat yang aman, begitulah mereka bilang.  

Tak sengaja kulihat wajah Abi di televisi, masih lengkap dengan borgolnya. Tulisan dibawah dengan terbata-bata kubaca T E R O R I S. 

Hampir satu minggu tayangan televisi  masih saja tentang keluarga kami, kulihat beberapa benda yang abi pegang malam itu, kini berada di dalam pojok kamar pada sebuah dus besar. Entah dari mana asalnya, padahal aku sangat yakin benda itu tidak pernah berada di rumah kami sebelumnya.  

Beberapa petinggi polisi memberikan tanggapannya terkait penggerebekan teroris tersebut.  

Apa yang mereka sampaikan, tidaklah sama dengan apa yang kulihat dengan mataku sendiri. Mereka tidak menyiarkan saat Abi dipukul, ditendang, dan dihantam senjata mereka. 

Ingin kulempar televisi itu dengan pistol mainan yang kini berada di tanganku. Jika aku dewasa nanti,  akan kubuktikan bahwa Abiku bukanlah seorang teroris.  

Sampai akhirnya Ummi menerima surat hasil proses sidang. Proses sidang yang tak pernah mengizinkan kami bertemu dengan Abi. Bahkan sampai detik terakhir Abi hendak di eksekusi mati. Abi dinyatakan sebagai dalang kejadian Teroris di pulau Sulawesi beberapa bulan lalu yang sempat heboh di televisi. Aku tak tahu, karena kami memang tak punya televisi di rumah. Abi dan Ummi selalu bilang benda itu kurang bermanfaat.  

Waktu kami habiskan untuk tilawah Quran setiap hari. Aku harus menjadi hafidz Quran kata Abi.  Begitupun dengan Hisyam.

Surat terakhir dari Abi yang Ummi bacakan padaku selepas sholat magrib. Kami bahkan hanya diberitahu jam eksekusi Abi yang dilakukan di pulau Nusakambangan. Kemarin Abi menghadap Allah. Surat ini dibawa oleh seorang kawan yang ia dapat dari seorang polisi, surat yang berisi nasihat indah untuk kami semua. Serta foto terakhir Abi saat sudah menjadi jenazah tersungkur jatuh dan berdarah.  

"Duhai istri dan anak-anak ku
Jika kematian ini memisahkan kita sementara, maka berdoalah semoga Allah memepertemukan kita di syurga. 
Tolong jaga anak anak. Tetaplah husnudzan pada Allah atas musibah dan ujian serta fitnah apapun yang menimpa kita. Sesungguhnya orang beriman akan senantiasa diuji keimanannya.  

Jaga sholat kalian, dan jangan lupa jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan."

(Abu Yazid Hisyam Al Asykari)

*Kini, cita-citaku berubah. Aku harus menjadi orang yang mampu mengungkap kematian Abi. Karena aku yakin, Abiku bukanlah Teroris.

[Fb]