Tesla Pilih India daripada Indonesia, Gimana Nih Opung Luhut?

ALON-ALON KANG ELON

Saya kurang "update" terhadap isu Investasi Tesla yang berencana masuk Indonesia. Apakah investasi tersebut dalam bentuk pabrik Mobil, pabrik Baterai Mobil atau cuma Energy Storage System (ESS/Sistem Penyimpanan Energi).

Sebagai info tambahan, ESS itu konon semacam Power Bank dalam bentuk raksasa dan daya megawatt untuk menyimpan energi.

Cuma agak lucu juga sih, dari yang saya baca di media, para Petinggi Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (ini apaan sih, kok maritim disatukan ke Investasi....) yang sebelumnya berbangga-bangga dengan rencana masuknya Investasi Tesla, tiba-tiba berubah seperti kerupuk kena air. Tanggapan mereka sekarang selalu "Non-disclosure Agreement". Perjanjian yang tidak boleh diungkap ke Publik.

Hayya, anak buah Oppung Luhut ada-ada aja...

Sebelumnya, saya mungkin persepsinya sama dengan sebagian besar masyarakat kita. Yang akan dibangun oleh Tesla adalah Pabrik Mobil. Atau paling tidak, Pabrik Baterai. Karena bahan untuk membuat baterai lithium, nikel dan kobalt sangat melimpah di Indonesia.

Kalau kedepan bentuk kerjasamanya cuma akal-akalan agar Indonesia jadi pemasok bahan baku khususnya untuk Baterai, saya berharap Pemerintah menolak dengan tegas.

Lebih baik kita membangun Industri Mobil Listrik sendiri. Selain sumber untuk membuat Baterai yang melimpah, sumber energinya lewat Tenaga Surya juga melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke.

Di jaman Pak Dahlan, sudah ada Tucuxi dan Selo karya Kang Ricky. Terlepas dari segala kekurangannya, tinggal disempurnakan. Sudah saatnya bangsa kita berubah dari Konsumen ke Produsen. 

Saya jadi teringat orang-orang Indonesia yang bangga membeli Baju di Singapura. Padahal baju tersebut diproduksi di Bandung, kemudian dibuat label made in Singapura. Tentu saja dengan harga puluhan kali lipat. Sebagian malah dikirim lagi ke Indonesia. Di pajang dibutik-butik mewah. 

Atau kisah yang paling dekat. Minyak mentah kita dikirim ke Singapura. Diolah jadi BBM di Kilang mereka dan kemudian dijual lagi ke Indonesia. 

Bangsa kita tidak ubahnya Petani Pisang yang berjalan kaki berkilo-kilo ke Kota. Menjual Pisangnya setandan dengan harga murah. Demi apa...? Demi membeli sebungkus Pisang Goreng!

Jangan sampai ke depan kita "berjalan berkilo-kilo", menjual Nikel dan Kobalt ke Pabrik Tesla di India. Ujung-ujungnya tombak Pemasaran Tesla justru ke Indonesia.

SAYA MENOLAK MEMBELI TESLA...

Selain pabriknya ngga jadi di Indonesia, uangnya juga memang ngga ada 😁

(Azwar Siregar)