Mengkritik PRABOWO Bukan Berarti GAGAL MOVE ON dari PILPRES

Mengkritik PRABOWO Bukan Berarti GAGAL MOVE ON dari PILPRES

"Prabowo itu pengkhianat!!!"

Memposting satu kalimat seperti ini di wall sosial media pribadi bisa berbuntut panjang. Dampaknya mulai dari menimbulkan keributan antar teman sampai lapor-melapor ke pihak yang tidak bersunah. 'Berwajib' maksudnya. 

Ya begitulah. Baku hantam antar pendukung setia dan mantan pendukung Prabowo kerap mewarnai lini masa saya saat mister crab *eh prab memutuskan untuk berkoalisi dengan pemerintah. Apalagi sekarang ditambah Sandi yang ikut-ikutan masuk kolam *eh kabinet, pertikaian pun semakin tak nampak ujungnya. Perdamaian semakin jauh. Sejauh bancakan bansos mentri yang kabarnya mengalir sampai anak pak lurah.

Herannya, keributan yang seharusnya hanya terjadi di dunia maya bisa diwujudkan dengan saling memperkusi di dunia nyata. Saling maping, mendoxing identitas, mengumbar aib, mencela fisik sampai datang melabrak ke rumah "musuh" yang beda kota pun dilakukan.

Sialnya, yang dulu temenan dan sering curhat-curhatan juga ikut berlomba membongkar skrinsyutan kekurangajaran ghibahan. Memperluas pertempuran dari personal ke keluarga kemudian merembet ke suku bangsa. So, sad! Demi apa coba? Demi "bapak" gituh? Demi Sandi, Jokowi, Partai? Emangnya dapat nafkah dari mereka sampai segitunya?

Saya saksikan sendiri kawan-kawan yang dulu berangkulan mesra ketika berkampanye sampai bekerjasama membuat sebuah grup portal yang menampung ide, opini, dan tulisan mereka kini acapkali terlihat cakar-cakaran. Dimulai dari berbantah-bantahan di kolom komen, adu postingan dan berlanjut tawuran. Timpuk-timpukan kata-kata kasar dan penghinaan yang rasanya tak layak diucapkan sesama teman.

Sebagai salah satu pihak yang ikut jengkel terhadap keputusan politik Prabowo-Sandi tentu saja sekali dua kali saya pernah ikut tawuran. Sampai akhirnya saya mundur karena pembahasan tentang Prabowo Sandi sudah bergeser ke pembahasan personal para pendukung dan mantan pendukungnya. Tapi saya gak mau ikut-ikutan sok jadi malaikat mendamaikan mereka. Paling banter saya hanya melarang mereka tawuran di postingan saya. Memblokir yang memancing kerusuhan personal dan meng-unfriend yang bucinnya keterlaluan sampai bikin mual.

Yang kurang asyem Prabowo Sandi, koq yang diunyeng-unyeng pendukungnya? Yang kena cela dan caci Prabowo Sandi, koq yang sakit hati pendukungnya? Netizen mencela kelakuan Gerindra, koq kamu malah nyalahin PKS? 

Gak masoook, Bang. Bangkotan!

Bagi saya, tetap setia mendukung atau tak lagi mendukung itu satu-satunya hak politik kaum jelata yang tidak boleh diganggu gugat. Ya, iya dunk. Udah duit pajak kita banyak dikorupsi pejabat, bansos kena potong ongkir mensos, pas komplain lewat demonstrasi digebukin dan ditinggal lari sama yang katanya kangen di demo, terus kita masih harus dipaksa buat menentukan sikap politik? Ya, jangan keterlaluan gitu dunk Bung. Bungkusan!

Sementara itu, rasanya kurang pantas jika menyebut orang-orang yang tak lagi sehaluan dengan Prabowo sebagai pihak yang gagal move on dari pilpres. Karena yang namanya move on itu kan bisa ke berbagai arah. Bukan hanya satu arah ke pemerintah yang kini berpelukan mesra dengan Prabowo Sandi bagai Teletubbies, tetapi bisa juga ke arah sebaliknya.

Apa gak pernah berpikir bahwa sebutan Prabowo pengkhianat itu bukan dimaksudkan bahwa Prabowo telah mengkhianati mereka. Melainkan pengkhianatan terhadap rasa kehilangan yang terlanjur ada dan dialami oleh rekan-rekan mereka. Termasuk terhadap mereka yang sudah tidak bisa membela dirinya karena lepasnya nyawa dari raga.

Pilpres memang telah usai. Dan sekarang kontestannya saling berangkulan. Jokowi, Ma'ruf Amin, Prabowo dan Sandi bisa melupakan perseteruan mereka lalu tertawa dan bekerja sama memajukan keluarga *eh bangsa. 

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya hancur karena berkampanye berlebihan? Bercerai karena beda dukungan, di penjara karena termakan hoax dan kebencian yang terus ditiupkan, menjadi pengangguran demi membela hal yang kini rasanya tak layak diperjuangkan. Bagaimana pula dengan nyawa yang terlanjur melayang?

Seingat saya saat berkampanye Prabowo sempat membuat surat wasiat dan bersumpah timbul tenggelam bersama rakyat. Janji seperti itu pastinya menorehkan rasa di hati para pendukung sampai mereka rela mengorbankan harta, waktu, tenaga bahkan jiwa untuk mendukung. Tapi jadinya sekarang seolah Prabowo yang timbul dan rakyat yang tenggelam karena menopangnya.

Ibu-Ibu di pelosok yang tak tersentuh gemerlap kota rela menjual perhiasan untuk membeli bendera. Bapak tukang becak, semir sepatu, penjual gorengan sampai pengangkut sampah menghibahkan penghasilan mereka yang tak seberapa demi ikut berpartisipasi mengisi plastik besar recehan yang diangkat Sandi dengan suka cita di kedua sisi kepalanya.

Lalu ada seorang ayah yang kehilangan putranya. Ada anak yang kehilangan kasih sayang Ibunya. Ada keluarga yang kehilangan pemimpinnya demi mensukseskan perhelatan pemilu yang rupanya berujung dagelan dan bagi-bagi kue kekuasaan.

Seharusnya dari awal saja Prabowo jangan maju lagi melawan Jokowi. Seharusnya dari awal saja mengakui kekalahan dari Jokowi. Atau sekalian saja dari awal menerima tawaran Jokowi untuk jadi menteri. Gak usah pakai drama sujud syukur dan berwasiat segala. Gak usah mengeluarkan pernyataan yang membuat rakyat turun ke jalan yang akhirnya membuat luka dan nyawa melayang.

Lagipula saya heran dengan Prabowo dan timsesnya. Di masa kampanya terlihat begitu bernafsu ingin menang pilpres tapi koq malah melempem pas hari-H penentuan. Minimnya keberadaan saksi pilpres di TPS yang memegang surat mandat dan mengakibatkan kubu Prabowo kekurangan formulir C1 sebagai bukti resmi hasil perhitungan suara itu bisa dianggap sebagai ketidakseriusan mereka untuk memenangkan pilpres. Padahal sudah ikut pemilu berkali-kali tapi koq abai dengan hal-hal seperti ini. 

Gimana mau memperjuangkan suara yang diperoleh jika bukti perhitungan legal formal saja tidak punya? Gimana bisa maju ke MK kalau gak punya senjata utama? Komplain dan nge-klaim menang pemilu itu senjatanya ya form C1, bukan video unboxing kotak suara apalagi foto selfie. Emang dikira lagi komplain beli barang di marketplace? 

Ya tapi kalau ada yang mau tetap setia mendukung Prabowo dan menganggap manuver politiknya adalah sebuah upaya untuk mendobrak dari dalam ya silahkan saja. Boleh-boleh saja. Tapi jangan minta semua orang mesti sama kayak kamu dunk. Harus celalu cetia celamanya. Dih! 

Jangan kelewat baper juga kalau ada yang mengkritik orang yang kalian panggil "bapak" itu. Gak usah sok cerdas dan paling mengerti kalo politik itu dinamis. Dinamis apanya maksudmu? Dihina terus ngemis gituh?

Lagian mendobrak koq dari dalam? Emang siapa yang ngunciin pintunya? 

Lagian kenapa sih bapaknya koq sukanya gebrak-gebrak, ngeplak, terus mendobrak? Padahal kalo joged lebih lucuk! 😉

Ttd. Rara
Ibu Rumah Tangga Biasa Saja 😇
Gapapa kalo kamu anpren tapi tetep intip-intip akun aye 😅

MENGKRITIK PRABOWO BUKAN BERARTI GAGAL MOVE ON DARI PILPRES "Prabowo itu pengkhianat!!!" Memposting satu kalimat...

Dikirim oleh Aisha Rara pada Kamis, 21 Januari 2021