APA YANG BARU DARI PEROMBAKAN KABINET YANG BARU?


APA YANG BARU DARI PEROMBAKAN KABINET YANG BARU?

Oleh: Agustinus Edy Kristianto

Ini politik dan kita harus melihatnya dari sudut pandang kepentingan. Apa, bagaimana, melalui siapa, dan kapan kepentingan itu tercapai.

Apa yang mengherankan dari komposisi perombakan kabinet yang terbaru ini? Bagi saya, justru mengherankan kalau komposisinya tidak memasukkan kelompok itu. Bahkan, bisa jadi, jika 02 yang menang pun, susunannya mirip. Tapi mungkin saja Jokowi jadi Menteri Kehutanan dan Ma’ruf Amin Menteri Agama. Siapa yang tahu... 

Karena politik juga, banyak hal yang tidak masuk nalar bisa terjadi. Misalnya, bagaimana menjelaskan posisi Rosan Perkasa Roeslani sebagai Wakil Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf padahal di seberangnya sebagai lawan adalah Sandiaga Uno sebagai cawapres, padahal keduanya adalah karib dan siapa pun tahu mereka punggawa Recapital (perusahaan investasi dan manajemen aset). 

Bagaimana pula menjelaskan Sakti Wahyu Trenggono (Menteri KKP) yang dulu adalah Bendahara TKN ‘melawan’ Sandiaga Uno, yang perusahaan investasinya yaitu Saratoga masuk ke Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG) yang digawangi Trenggono.

Belum lagi posisi Menteri BUMN Erick Thohir. Bagaimana bisa dilihat fakta telanjang bahwa kakaknya (Boy Thohir) ada juga di Adaro, yang beririsan dengan Sandiaga Uno.

Bisa jadi ini seperti main basket 3 on 3. Tiga di dalam (Erick, Sandi, Luthfi), tiga di luar (Rosan, Anindya Bakrie, Gita W). Siapa tahu... 

Siapa juga yang bisa yakin jika eksistensi Lembaga Pengeloaan Investasi (LPI) yang dibentuk menurut UU Cipta Kerja dengan modal awal Rp75 triliun dari negara, tidak jadi incaran bancakan? Itu duit segar!

Lalu, jika ada pasangan yang ingin melawan asing, bagaimana ceritanya jika, contohnya, saat kontestasi terjadi, Hashim Djojohadikusumo adalah sekaligus Komisaris Utama PT Merrill Lynch Indonesia (MLSI), perusahaan broker saham yang kini fokus pada investment banking, yang jelas-jelas Amerika Serikat (80% Merril Lynch International Inc dan 20% PT Persada Kian Pastilestari).

Apa jadinya jika misalnya saat ini, ketika perekonomian Indonesia terpuruk dan membutuhkan banyak uang masuk, ada berita terbaru yang saya baca di Bloomberg dan Arutz Sheva (media online Israel) (23 Desember 2020) bahwa Amerika Serikat menawarkan tambahan pembiayaan sebesar US$1 miliar - US$2 miliar (sekitar Rp14-28 triliun) kepada Indonesia jika Indonesia mau menormalisasi hubungan dengan Israel. Yang bicara adalah CEO US International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler, sebagai bagian dari langkah Donald Trump mendorong negara-negara muslim memperbaiki hubungan dengan Israel. Oman dan Arab Saudi juga diajak.

Mengapa Budi Gunadi Sadikin di posisi Menkes dan sebelumnya menjadi Wakil Menteri BUMN, juga bisa mudah dirunut dari rekam jejak dengan siapa ia bekerja dan siapa yang membesarkannya sehingga sempat menjadi Dirut Bank Mandiri dan Inalum. Posisi strategisnya sebagai ketua Tim Pemulihan Ekonomi yang menurut Perpres 99/2020 tentang Pengadaan Vaksin COVID-19 berwenang memberikan pertimbangan kepada Menkes mengenai jenis dan besaran vaksin juga sekarang semakin lengkap karena ia menjadi Menkesnya langsung. Anggaran Rp64 triliunan!

Sakti Wahyu Trenggono (Menteri KKP baru), yang sebenarnya juga pengusaha media online (Verta) bersama stafsus Menteri BUMN, juga tidak susah-susah amat diraba potensi maunya apa. Selain raja menara, ia juga sempat menjadi komisaris perusahaan ekspor lobster. Sehingga pertanyaannya sekarang adalah ekspor lobster nanti lewat Singapura atau tidak. Jangan bicara masalah pengembangan dunia perikanan/kelautan dulu, ini masalah fee based income bin komisi. 

Lalu ini pikiran selintas saja. Bagaimana bisa Teten Masduki (aktivis anti-korupsi) masih bertahan sebagai Menteri Koperasi dan UMKM, padahal jelas di depan mata, ‘memperjuangkan’ kepentingan UMKM untuk mendapatkan proyek goodie bag bansos sebanyak 10 juta biji saja tidak bisa dan harus jatuh ke tangan Sritex, perusahaan yang asetnya Rp23 triliun menurut laporan keuangan terbaru. 

Lalu apa yang bisa dipercaya dari retorikanya tentang membangun UMKM... Bukankah bisa diduga ini persoalan ada atau tidaknya kickback proyek saja? Bagaimana juga kita bisa yakin kalau Sritex sama sekali tidak membantu Gibran dalam pilkada?

Dengan sejumlah hal yang saya kemukakan di atas itu, lantas kita mau bicara tentang sentimen positif ekonomi? Positif dan negatif itu adalah persepsi yang dibentuk oleh sekelompok pihak juga. Sebab mereka menguasai lapangannya, wasitnya, pemainnya, bandarnya, medianya, hingga bursa taruhannya. Semuanya. 

Jadi yang terbaik, menurut saya, sekarang adalah memohon ampun kepada Tuhan. Saling memaafkan kepada sesama kita yang sempat menjadi ‘musuh’ selama Pilpres berbiaya Rp25 triliun itu. 

Justru pada saat-saat seperti sekarang ini kita memerlukan masyarakat yang terbuka wawasan dan mampu bernalar untuk berteriak ketika para pejabat ingin ambil untung, berkolaborasi dengan kelompok bisnis tertentu. 

Prinsip yang mereka usung adalah siapa pun yang menang pemilu, itu kawan kita. 

Ingat, uang itu seperti air. Ia bisa menyesuaikan diri sesuai wadahnya. Proyek Kartu Prakerja Rp5,6 triliun, UU Cipta Kerja yang berkonsekuensi kemudahan izin tambang dsb, proyek vaksin dan bansos... adalah hal-hal yang sudah dan akan mungkin terbukti menyesuaikan diri dengan wadahnya untuk dikeruk.

Musuh kita sekarang adalah kemunafikan dan korupsi. Mereka yang tampil seperti pahlawan di layar kaca tapi main busuk di bawah tanah.

Salam.

*Sumber: fb penulis