Prancis, Juara Kebebasan Berekspresi??? Cuihh!!

Prancis, Juara Kebebasan Berekspresi???

Kita mungkin heran kenapa si Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron itu demi prinsip "freedom of speech" (kebebasan berekspresi) nekat melakukan pembelaan bahkan ikut berpartisipasi aktif dalam pelecehan terhadap Baginda Nabî ﷺ sehingga menimbulkan gelombang protes keras dari ummat Islâm sedunia.

Well, kalau kita mengikuti perpolitikan di Prancis, maka kita tahu bahwa dusta saja kalau si Macron melakukan itu demi membela kebebasan berekspresi. Iya, karena pada tahun 2010 Pemerintah Prancis di bawah rezim Nicolas Paul Stéphane Sarközy de Nagy-Bocsa, pernah mengancam akan menuntut seorang seniman yang menampilkan gambar seseorang yang cebok dengan menggunakan bendera Prancis sebagai ganti tissue. 

French government calls for punishment for flag-bottom wiping artist

Jadi Prancis itu hakikatnya "nggak gitu-gitu" juga dalam perkara freedom of speech ini.

Lalu apa sebenarnya alasan Macron bersikap seperti itu?

Untuk memahaminya, maka kita harus tarik mundur ke saat Macron mengikuti kontestasi Pilpres Prancis di tahun 2017 lalu. Macron itu sebagai "new kid on the block" atau "newbie" atau "anak bawang" (ketika itu ia masih berusia 40 tahun) bersaing dengan Marion Anne Perrine "Marine" Le Pen (anak perempuan dari Jean-Marie Le Pen, pendiri dari Rassemblement National, partai ultra kanan garis keras di Prancis) yang usianya hampir 10 tahun lebih senior dari Macron.

*Note: Rule of thumb-nya adalah bahwa golongan "sayap kanan" (right wing) di negara-negara Barat Kapitalis, biasanya bersikap pro-pengusaha, anti-imigran (baca: anti Islâm), tidak peduli terhadap lingkungan hidup (sampai bisa mengatakan bahwa global warming itu tak ada hubungannya dengan industrialisasi). Sebaliknya, golongan "sayap kiri" (left wing) –not necessarily Communist, tetapi biasanya Socialist– itu biasanya pro pekerja (buruh) dan anti Capitalism. Meski demikian, kadang kala terjadi juga anomali pada kedua golongan tersebut, misalnya di Amrik Joe Biden yang Democrat –yang left wing– tapi 11-12 saja dengan Republican –yang right wing–, bahkan bisa jadi si Biden ini akan lebih ganas daripada Trump dalam urusan menyerang negara-negara Muslim atau Timur Tengah.

Pada Pilpres Prancis di 2017, jika lawannya Macron –yaitu: Marine Le Pen– adalah "kanan jauh", maka bukan berarti Macron harus "kiri jauh", tidak. Bahkan Macron "kiri tengah" (moderat) pun tidak, karena Macron itu sejatinya adalah "kanan tengah". Itu terlihat saat sebelum Macron nyapres, banyak politisi golongan "kiri tengah" (Sosialis) yang menyarankan agar Macron nyapres dengan membawa bendera Sosialis. Akan tetapi si Macron ini kelewat sombong untuk menerima tawaran tersebut. Mungkin karena Macron melihat adanya trend di banyak negara di Eropa belakangan, yaitu di mana partai-partai "sayap kanan" menguasai pemerintahan. Lucky for Macron, karena pilihannya itu memang mengantarkannya pada kemenangan.

Lalu apa hubungannya dengan kenekatan Macron membela si andjing Samuel Patty dan media vangkeee Charlie Hebdo?

Begini, dalam 18 bulan ke depan di tahun 2022, Prancis akan melaksanakan Pilpres yang mana diperkirakan calonnya masih itu-itu juga, yaitu: Emmanuel Macron vs Marine Le Pen. Masih neck and neck, ya kira-kira miriplah dengan Wiwi vs Wowo…

Sesuai dengan ideologi partainya, Marine Le Pen tentunya akan mengusung 4 I, yaitu: Immigration (baca: anti imigran), Insecurity, Identity (white French, non-English speaking, Gallic identity), dan… Islâm (baca: anti Islâm!).

Ngeri…???

Well, bisa jadi itu hanya sekedar aksi Le Pen untuk menarik minat dari para pemilih seperti aksi noraknya si Pauline Hanson di Aussie… atau bisa jadi memang hakikatnya benar begitu. Le Pen selama ini selalu mengangkat isu bahwa selama Macron jadi presiden, ia telah membuka pintu bagi (imigran) Muslim untuk masuk ke Eropa. Nah tentu saja Macron setengah mampus membantah tuduhan Le Pen itu, apalagi elektabilitasnya terus menerus anjlok terkait kritik atas ketidakmampuannya menangani Pandemik CoViD-19.

Thus, cara paling mudah untuk mempertahankan elektabilitasnya adalah dengan mempertontonkan sikap sok gahar anti Islâm.

Lalu apakah ummat Islâm kudu senang kalau nanti Macron kalah?

Well, tidak usah gembira dan senang. Bahkan jikalau misalnya Le Pen menang Pilpres dan jadi Presiden Prancis, maka bukan berarti aman karena kekerasan-kekerasan anti Islâm juga akan terjadi bahkan bisa jadi malah lebih intens.

Jadi kita tak perlu khawatir berlebihan apakah Macron yang menang atau malah dia kalah dan digantikan oleh Le Pen. 

Solusinya adalah: BOYCOTT PRODUK PRANCIS, karena itu adalah salah satu cara paling efektif untuk merontokkan kesombongan Prancis - insyâ’Allôh.

Demikian, semoga Allôh ﷻ mempersatukan hati kaum Muslimîn dalam urusan boycott Prancis ini.

نَسْأَلُ اللهَ الْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

(Arsyad Syahrial)