Dimanakah JIWA KORSA Itu Sekarang?


Dimanakah JIWA KORSA Itu Sekarang?

Seorang Kopassus tewas di sebuah hiburan malam karena terlibat keributan dengan gerombolan preman. Serka Heru Santoso harus menerima pukulan dan tikaman dari 4 orang begundal Jogjakarta yang nama kelompoknya cukup dikenal.

Berselang 2 minggu, kembali anggota TNI tewas disebuah keramaian. Pelakunya diduga masih gerombolan yang sama.

Disebuah kamp pelatihan Gunung Lawu, seorang prajurit menatap tajam pemberitaan kematian 2 rekannya. Dialah Serda Ucok. Hubungan Sertu Sriyono dengan Serda Ucok sangat dekat. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung.

𝘚𝘦𝘳𝘥𝘢 𝘜𝘤𝘰𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘚𝘦𝘳𝘵𝘶 𝘚𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘪 𝘈𝘤𝘦𝘩.

Begitu mendengar Sertu Sriyono dianiaya dan tewas, emosi Serda Ucok mendidih. Ia mengajak rekan-rekannya dari tempat latihan di Gondosuli, Pegunungan Lawu, Karanganyar untuk melakukan misi pembalasan kepada pengeroyok Serka Triyono.

Gerak cepat dan hanya hitungan satu malam, Serda Ucok sendiri yang eksekusi para pelaku pembunuhan rekannya di sebuah lapas Jogjakarta, dengan berondongan senjata AK-47. 15 menit berada di lapas, dan hanya 5 menit waktunya untuk melakukan esksekusi.

Sedikit pun Serda Ucok tidak menyesali perbuatannya, secara jantan dia mengakui dan berteriak lantang atas alasan yang ia pakai ketika turun gunung.

"JIWA KORSA..!!", begitu lantang perkataan Serda Ucok.

Jiwa korsa dalam militer, sama dengan jiwa kesetiakawanan atau jiwa satu rasa. Tidak menerima atas penghinaan atau perlakuan tidak menyenangkan, membuat seseorang berbuat sesuatu. Mereka yang mempunyai rasa seperti ini adalah mereka yang sudah saling memahami dan LOYALITAS.

***

Dalam sepekan, terjadi 2 kejadian yang menimpa Pak Gatot Nurmantyo. Pertama saat mereka dihadang oleh segerombolan manusia b*s*k di Surabaya. Berselang 2 hari, kembali Pak Gatot dan para purnawirawan dihadang saat hadir dalam peringatan pengkianatan PKI di taman makan pahlawan Kalibata.

Pihak yang menghadang adalah gerombolan pendemo dan ada hadangan dari Dandim didalam makam ketika Pak Gatot dan para Purnawirawan TNI ingin melakukan ceremoni peringatan acara.

Dari 2 kejadian diatas, saya gak melihat Jiwa Korsa yang dijadikan kebanggaan satu rasa oleh prajurit TNI. Bagaimanapun Pak Gatot adalah seseorang yang pernah menjadi pemimpin tertinggi TNI dengan jabatan Panglima. Belum lama dan belum terlalu dingin jabatan itu, namun perlakuan yang beliau terima tidak ada pembelaan atau komentar dari pejabat TNI yang pernah dipimpinnya.

Perlakuan Dandim yang menghadang walau berdialog, tetap saja ada indikasi pelarangan.

Pak Gatot dan para purnawirawan masih Keluarga Besar TNI. Nama purnawirawan masih tersemat dinama mereka, sebagai tanda ikatan Keluarga Besar itu belum terpisahkan.

Tidak ada Jiwa Korsa, tidak ada lengan yang melipat disebelah kepala sebagai penghormatan pada mantan Panglima. Secara implisit terjadi pergeseran dalam memaknai tidak bertugas lagi. Ketika bertugas masih dihormati, ketika pensiun tidak ada hormat bagimu.

Ini bukan budaya kita, jika ini dipraktekkan pada dunia pendidikan. Apa jadinya andai seorang guru dilupakan begitu saja oleh muridnya ketika dia pensiun? Bahkan mengucap dengan kata BEKAS GURU saja, itu sangat tabu.

Dandim berkata hanya menjalankan tugas, terkait protokol covid19. Alasan yang sama ketika kepolisian membubarkan acara deklarasi KAMI di Surabaya. Namun mengapa kerumunan didalam makam saja yang menjalankan protokol? Bagaimana dengan sekumpulan mahasiswa yang memadati area luar pemakaman? Bukankah mereka juga lebih 30 orang?

Jika kita menarik garis lurus, maka akan ketemu siapa yang memberikan perintah.

Dandim dibawah Korem. Korem dibawah Kodam, Kodam dibawah KSAD, dan Ksad dibawah Panglima TNI. Sedangkan Panglima TNI sendiri, langsung dibawah Presiden.

Saya percaya, dalam diri setiap prajurit selalu ada Jiwa Korsa. Namun dalam urusan ini, Jiwa Korsa mereka dipaksa menepi karena PERINTAH yang turun dari atasannya. Dan sebetulnya, penampakan seperti ini sudah terlihat lama. Ketika banyak purnawawirawan tersandung kasus hukum atas kegiatan politiknya, kita gak liat unsur TNI terlihat membela secar Terbuka.

Padahal, jika mau mencari kemurnian dalam menilai situasi bangsa, para purnawirawan lebih terbuka dalam berpikir, karena dia tidak terikat dengan jabatan lagi.

Prajurit akan selalu menjalani sumpahnya. Dia akan tunduk pada perintah komando. Walau tidak suka, tetap dijalankan. Dan itulah yang tersaji dalam 2 kejadian yang menimpa Pak Gatot.

Satu yang menjadi catatan, apakah selama memimpin TNI Pak Gatot tidak mempunyai loyalis yang selalu mendukungnya? Setiap pemimpin pasti mempunyai prajurit yang loyal pada dirinya. Loyalis itu timbul karena hubungan yang dibangun selama bertugas.

Dan sejauh ini, kita gak melihat loyalis itu ada. Hanya Pak Gatot dan prajurit TNI yang tau, mungkin saja ada alasan mengapa belum ada pihak yang terang-terangan membela Pak Gatot. Atau semuanya harus menjalani sumpah prajuritnya?

Yang jelas, Jiwa Korsa itu telah menepi...

(By Aaron Jarvis)

*Sumber: fb
KORSA YANG MENEPI ... Seorang Kopassus tewas di sebuah hiburan malam karena terlibat keributan dengan gerombolan...
Dikirim oleh Aaron Jarvis pada Rabu, 30 September 2020