USILIN ANTEK TIONGKOK SEPANJANG JALAN


USILIN ANTEK TIONGKOK SEPANJANG JALAN

Hi gaes... di senja menjelang malam hari ini gue mau cerita tentang salah satu hobi gue yang sekaligus bikin gue terhibur. Sambil nyantai menikmati suasana malam jalan di Jakarta yang makin hari makin teratur dan nyaman untuk dilalui sepulang dari kantor gue di Sudirman menuju arah pulang ke Hang Lekir. Thanks Gubernur Indonesia Anies Baswedan..!

Seperti yang elu-elu udah pada tau, gue tuh paling demen dan senang lihat antek cina tiongkok kebakaran jenggot, pada tarik urat leher kenceng sampai bejendol demi belain negara leluhurnya di postingan yang gue tulis.

Elu tau dong yang disebut antek cina tiongkok itu siapa? Mereka bukan etnis Cina Indonesia seperti Om Cip, Budi Hartono, Mochtar Riady, Tahir atau Wiliam Suryadjaja, beda jauh.

Antek cina tiongkok itu terbagi dalam dua varitas (jangan pakai istilah spesies lah... terlalu sadis).

Yang pertama apa yang dikenal sebagai 'cina benteng', ini varitas yang ngaku cina tapi nggak diaku oleh etnis tionghoa lainnya lantaran ngaku cina tapi butek, item, geseng, belekan dan nggak ada urat cinanya sama sekali.

Sekalipun cina benteng bersedia ditempatkan dalam kasta sudra (kasta terendah) etnis tionghoa, namun tetap saja tak mendapatkan pengakuan. Jadi mau ngaku pribumi Indonesia nggak bisa, mau ngaku etnis tionghoa Indonesia juga ditolak, kasihan juga sih...😪

Varitas yang kedua adalah etnis pribumi Indonesia, tapi termasuk warga negara kelas ter-marginalkan lantaran strata pendidikannya rendah, ekonominya lemah, agamanya tak jelas, moral dan etikanya minus tiga, anti pancasila, dan menyukai profesi sebagai jongos.

Sampai disitu jelas ya siapa antek cina tiongkok itu..

Lanjuut.....

Padahal kalau dihitung-hitung, durasi untuk memaparkan kelicikan dan kedok tipu muslihat politik neo-candunya tiongkok, paling banter gue butuh waktu 10 menitan ajah untuk menulis, tapi gokilnya... antek tiongkok kejang-kejang dan butuh waktu setengah harian buat pencak jempol bersitegang komentarin postingan gue...

Ada yang ngegas, acting pura-pura pinter, pura-pura ngerti, biar terasa lebih percaya diri, seperti orang yang kebelet be'ol, mereka buru-buru umbar makian, "otak kosong lu.., otak di dengkul lu.., kadrun lu.., antek amerika lu..., agen wahabi lu..., kencing onta lu.., khilafuck lu.." dan beragam caci maki lain yang sebenarnya cuma makin mempertegas kadar dan level intelektual mereka yang serba cekak.

Asyik juga sih... melihat postingan sendiri yang dibuat dengan santai, tapi diserbu ribuan antek tiongkok..😄, rasanya kok seperti melempar remah roti ke empang lele, suara gaduh dan aura kebodohan serentak memenuhi ruang comment room.

Ditambah lagi, kadang ada ajah volunteer intelektual yang punya hobi 'ngusilin' antek Cina, ikut-ikutan ngomporin otak para taihok yang sudah mendidih kepanasan, seperti si Hendro Su cs, mas Aji Deka, bang AS Automation, pak Suyono, dan beberapa lainnya yang ngga sempet gue sebutin satu persatu namanya disini.

Ntuh orang-orang mentang-mentang cerdas, pada paling seneng banget nyundut-nyundut emosi para taihok, padahal suer...gue kagak ngundang mereka loh.. . Alhasil.., suasana  jadi makin tambah seru, meriah, plus panas, tapi menghibur..😂

Soal intelektual para antek tiongkok yang rata-rata mengalami syndrom defisit nalar kronik, indikatornya jelas betul tergambar dari argumennya yang ngawur dan asal njeplak.

Saat merespon mobilisasi TKA Cina ke Indonesia misalnya, mereka bandingkan dengan TKI di arab saudi, hongkong dan malaysia. Mereka bilang, "apa para TKI yang kerja di arab saudi, hongkong dan malaysia berarti akan menguasai arab saudi, hongkong dan malaysia ?".

WekaWekaWeka..🤣, padahal anak kelas 1 SMP pun tau, persamaan itu tidak kedongdong to kedongdong, eh.. aple to aple maksudnya..,  karena etnis Cina di Indonesia nyaris menguasai hampir seluruh mesin penggerak sektor perekonomian.

Lah etnis pribumi Indonesia..? 'nguasai' perekonomian negara mana coba..? Etnis pribumi Indonesia tidak menguasai ekonomi arab saudi, tidak menguasai ekonomi hongkong atau ekonomi malaysia, termasuk menjadi warga negara keturunan Indonesia di kawasan itu. Wong dateng jauh-jauh emang niatnya cuma jadi pekerja non skil..!! (itu bahasa halusnya... bahasa real nya lu pikir aja sendiri yaak..)

Tapi ya mau dibilang gimana lagi.., takaran akalnya antek tiongkok memang jongkok ditempat, jadi susah ya kalo diajak jalan menuju pinteran, apalagi diajak lari mengejar ketertinggalan visi.

Ada lagi yang bilang, "tidak benar Cina mau menjajah Indonesia.., Cina itu berdagang, yang namanya dagang itu tidak ada pemaksaan, menjajahnya dimana ?, sejak kapan berdagang itu diartikan menjajah ?".

Yaaeellaaah... nih dia kalau otak kurang piknik dan mainnya seputar komik doraemon, sincan atau naruto, ya nggak bakalan 'nemu' diksi tentang politik dumping, mana ngerti strategi perang candu, mana paham dengan politik perang dagang, mana paham juga dengan imperialisme modern.

Antek-antek tiongkok yang umumnya berpendidikan rendah itu hanya mengenal perang bar-bar, perang berdarah-darah, letupan mesiu dan deru perangkat artileri. Mereka tertinggal setidaknya separuh abad kemajuan peradaban hidup di planet bumi.

Ehh..jangan ngakak dulu lu.., ini serius, setelah ini masih ada yang lebih lucu lagi.

Coba deh elu amati cara mereka menulis dalam kolom komentar. Ssttt... jangan pernah berharap menemukan cara mereka bertutur kata akan teratur yaa..
Dan jangan pula berharap mereka mampu menata kosa kata terlihat indah.., karena mereka itu tidak pernah terdidik untuk menggunakan semantik sebagaimana ilmu linguistik mengajarkan kaum intelektual menata kata.

Elu perhatiin ajah, paling te op pe, mereka akan komen meme si rijik, si anies, si gatot, si erji atawa si dien yang lagi ngehit. Kalau sampe bisa nulis juga gue jamin seratus persen, isinya pasti bukan argumentasi intelektual, melainkan hanya caci maki, dan seperti biasanya yang jadi korban ha tei atau efpei..

Otak antek tiongkok mirip buatan pabrik, isinya seragam dan takarannya sama. Jadi kita memang cukup senyum-senyum ajah kalau menemukan mereka sedang singit dan berapi-api membela tanah leluhurnya, karena kita tau bahwa mereka sedang menikmati euforia kebebasan berekspresi secara nature alias sesuai keadaan aslinya.

Udah deh... elu nggak usah nanya-nanya harus direspon gimana.., elu nggak nanya ajah gue udah dibilang kejam dan sadis sama antek tiongkok..,  pokoke seperti elu menonton pertunjukan srimulat aja deh...

Ah... elu kayak nggak tau ajah gimana orang bego punya gaya ...🤣🤣

Salam sehat,

(Nazlira Vardha)

*sumber: fb penulis

loading...