Sengketa Mediterania: Macron akhirnya ajak damai, begini respon Erdogan


[PORTAL-ISLAM.ID] ANKARA - Turki bermaksud untuk memberikan kesempatan terbaik bagi diplomasi, menyelesaikan masalah melalui dialog dengan cara yang menguntungkan semua pihak, kata Presiden Recep Tayyip Erdoğan pada hari Sabtu menanggapi seruan dialog dari Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Setelah baru-baru ini mengancam sanksi terhadap Turki dan meminta Uni Eropa untuk bersatu melawan Ankara, Macron meminta Ankara untuk membuka kembali “dialog yang bertanggung jawab” di Mediterania Timur.

“Di Ajaccio (pulau kecil di Prancis), kami mengirim pesan yang jelas ke Turki: mari kita buka kembali dialog yang bertanggung jawab, dengan itikad baik, tanpa kenaifan. Seruan ini sekarang juga dari Parlemen Eropa. Tampaknya telah didengar. Mari kita lanjutkan,” tulis Macron di Twitter dalam bahasa Turki untuk pertama kalinya.

Dalam serangkaian cuitan Twitter, Erdogan mengatakan bahwa Turki tidak akan memperhatikan provokasi yang terus-menerus. Ia menyatakan bahwa Ankara telah melakukan proses ini dengan cara yang ditentukan dan matang.

“Dengan tujuan ini, kami akan terus mempertahankan setiap tetes air dan setiap jengkal tanah di negara kami sampai tuntas,” ujarnya.

“Mari beri kesempatan pada diplomasi, kemukakan pendekatan positif dalam diplomasi, biarkan Yunani menemui pendekatan kami ke arah yang positif dan kami mengambil langkah yang sesuai,” kata Erdogan sehari sebelumnya usai shalat Jumat di Istanbul.

“Kami juga mengatakan kepada mereka: Kami selalu siap untuk bertemu jika ada niat baik, kami dapat bertemu di negara ketiga atau melalui konferensi video, bahkan kami dapat melakukannya.”

Presiden Erdogan mengatakan bahwa negaranya tidak memiliki “masalah” untuk bertemu dengan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, tetapi yang penting adalah “apa yang harus didiskusikan dan pertemuan itu atas dasar apa.”

Kapal eksplorasi energi Turki Oruc Reis akan kembali ke misi di Mediterania Timur setelah urusan perawatannya selesai, kata Erdogan.

“Jika kami mengembalikan Oruc Reis ke pelabuhan untuk perawatan, itu hal yang penting. Mengapa kami melakukannya? Ini adalah pendekatan yang positif,” ujar Erdogan.

Mengembalikan Oruc Reis ke pelabuhan bukan berarti Turki menghentikan kegiatan survei seismiknya, kata Presiden Turki itu.

Akhir pekan lalu, Turki menarik Oruc Reis, sebuah kapal penelitian yang mengeksplorasi energi di Mediterania Timur, ke pelabuhan di Antalya untuk urusan logistik dan perawatan.

Menteri Pertahanan Turki Jenderal Hulusi Akar pada hari Jumat mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron menuangkan bahan bakar ke dalam api di Mediterania Timur dan mempersulit penyelesaian masalah.

Ketegangan baru-baru ini meningkat karena masalah eksplorasi energi di Mediterania Timur.

Yunani telah mempermasalahkan eksplorasi energi Turki di kawasan itu, mencoba mengotak-atik wilayah maritim Turki berdasarkan kedekatan sejumlah pulau-pulaunya dengan pantai Turki.

Turki – negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania – telah mengirimkan kapal bor disertai pengawalan angkatan laut untuk mengeksplorasi energi di landas kontinennya, dengan mengatakan bahwa baik Ankara dan Republik Turki Siprus Utara memiliki hak di wilayah tersebut.

Untuk mengurangi ketegangan, Turki telah menyerukan dialog untuk memastikan pembagian yang adil dari sumber daya kawasan.

Sementara itu, delegasi militer Turki dan Yunani telah mengadakan pertemuan teknis di markas NATO di Brussels untuk membahas cara-cara mengurangi risiko insiden di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Sumber: Daily Sabah