OPINI – Mengapa Presiden Prancis Macron menyerang Turki?


Mengapa Presiden Prancis Macron menyerang Turki?

Oleh: Mustafa Güldağı | Penulis adalah intelektual Turki, tinggal di Istanbul

Presiden Prancis Emmanuel Macron terlibat dalam banyak krisis regional dengan manuver politiknya yang meningkatkan ketegangan, mengabaikan hukum internasional dan hubungan antar sekutu.

Macron juga dinilai mencoba untuk mengubah keseimbangan di Mediterania dengan menghasut Yunani untuk melawan Turki ketimbang mendorong dialog langsung dengan Ankara untuk menyelesaikan krisis di Mediterania Timur.

Berikut di bawah ini poin-poin analisa penjelasan mengapa Prancis begitu getol menyerang Turki di tengah perselisihan antara Ankara dan Athena atas sengketa di Mediterania Timur.

1. Prancis mendominasi hampir 20 negara di Afrika. Walaupun negara-negara ini tampak merdeka, mereka sudah memiliki bendera, lagu kebangsaan, dan perbatasannya sendiri. Namun Prancis telah mengubah metode kolonialnya dengan memberikan kepada mereka "kemerdekaan bersyarat". Inilah inti masalahnya. Tanpa mengetahui soal kemerdekaan bersyarat ini kita tidak akan memahami tentang apa yang terjadi selama satu abad terakhir.

2. Presiden Prancis De Gaulle berkata seperti berikut saat Prancis menarik diri dari Aljazair:

"Kami akan mundur dari Aljazair, tetapi elite penguasa yang kami tinggalkan akan menggantikan kami dan melindungi kepentingan kami lebih baik dari kami."

Semua rahasianya ada di sini. Mereka mundur, tapi mereka selalu mempertahankan keberadaan. Mereka melakukan ini dengan sangat lihai sehingga jejak mereka tak kelihatan. Bahkan rakyatnya sendiri tidak tahu. Mari kita jelaskan pada poin berikutnya.

3. Prancis mengeksploitasi hampir 20 negara Afrika selama bertahun-tahun dan hidup dalam kemakmuran selama masa itu. Mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mempertahankan koloni-koloni ini setelah Perang Dunia II. Lalu mereka memutuskan untuk beralih ke metode kolonial baru: KEMERDEKAAN BERSYARAT. Ini adalah ilusi.

4. Ketika Prancis menarik diri dari wilayah koloninya mereka menetapkan 3 hal:

- Bahasa resminya adalah bahasa Prancis.

- Sistem pendidikannya akan dibangun oleh Perancis.

- Prancis akan mengatur kebijakan pertambangan, sistem keuangan dan sistem hukum.

Semuanya setuju. Siapa pun yang menolak akan mendapatkan ancaman pembunuhan dan pemerasan.

5. Prancis berusaha keras untuk menyebarkan bahasa Prancis ke negara-negara ini. Mereka menyebarkan budaya dan simpati terhadap Prancis melalui bahasa Prancis. Bahkan mereka mengirimkan buku belajar bahasa Prancis dan memberikan fasilitas pembelajaran bahasa Prancis kepada penduduk desa yang tak dapat menemukan roti untuk makan sehari-hari. Ingat, bahasa adalah alat pertama untuk asimilasi. Bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa ibu di negara-negara ini. Masyarakat yang berbicara dengan bahasa Prancis akan memiliki cara berpikir seperti orang-orang Prancis.

6. Prancis membuat radio, buku, saluran, publikasi, majalah, dan permainan Prancis di negara-negara yang mereka jajah seperti Senegal, Chad, Niger, Guinea, Kamerun, Aljazair, Tunisia, Kongo, dan Pantai Gading. Dunia bawah sadar masyarakat di sana tidak mampu memikirkan apa pun kecuali Prancis. Itu adalah hal penguasaan mental. Bendera tidak akan menipu lagu kemerdekaan. Namun ada sebuah penipuan kemerdekaan. Rakyat hanya disibukkan dengan sebatas perayaan kemerdekaan dan perjuangan kemerdekaan yang luar biasa.

7. Masyarakat di negara-negara ini sangat fasih menggunakan bahasa Prancis ketimbang bahasa daerah negara tersebut. bahkan berbicara bahasa Prancis dianggap sebagai masalah keunggulan dan karisma. Prancis menanamkan persepsi ini dengan sangat baik.

Prancis mendominasi dan mengeksploitasi negara-negara ini dengan mengangkat orang-orang yang terpelajar lulusan dari sistem pendidikan yang mereka dirikan, dan merekrut pejabat birokrasi, militer, dan hukum sesuai kepentingan mereka.

Para pejabat itu adalah orang-orang yang menjadi musuh budaya dan agama mereka. Mereka adalah orang-orang asli Senegal, Guinea, nama Senegal, Guinea yang direkrut. Mereka akan mengendalikan negara atas kepentingan Prancis.

8. Gubernur Prancis yang ditempatkan di Aljazair pernah mengatakan hal berikut:

"Kami tidak bisa mengalahkan orang Aljazair selama mereka membaca Al-Quran dan berbicara bahasa Arab. Kami perlu melenyapkan Al-Quran dari mereka dan menghapus bahasa Arab."

Kebijakan ini diterapkan dengan sangat bagus di Aljazair. Bahasa sangat penting. Orang-orang yang direkrut minoritas mendominasi seluruh bagian negara bagian di Aljazair. Kalangan nasionalis dan pribumi Muslim dicegah mendominasi negara dengan kudeta dan pembunuhan.

9. Perancis membentuk komunitas di Afrika: “francophonie”. Komunitas negara penutur bahasa Prancis sebagai bahasa ibu. Para pemimpin negara tersebut bertemu secara rutin di bawah kepemimpinan Prancis dan menentukan kebijakan yang akan diterapkan. Apakah Anda sudah paham cara menaklukkan negara melalui bahasa? Jadikan bahasa Prancis sebagai bahasa ibu Anda. Kemudian Anda mengumpulkan dan memerintah masyarakat tersebut di bawah payung negara-negara berbahasa Prancis. Sangat licik.

10. Faktor terpenting yang memungkinkan Prancis untuk mengendalikan Afrika secara ekonomi adalah "Communauté Financière Africaine (Komunitas Finansial Afrika)”. Itu adalah sistem moneter Prancis. Lawan sekecil apa pun dari CFA akan dituduh melakukan korupsi dan dipenjara, atau negara mereka akan dikacaukan dan akan ada kudeta. Tidak ada jalan keluar dari CFA.

11. Penerapan sistem CFA ini sangat brutal. CFA, yang diterapkan oleh negara-negara seperti Guinea Bissau, Guinea Ekuatorial, Burkina Faso, Benin, Niger, Mali, Senegal, Togo, Gabon, Chad, Kongo, Kamerun, dan Republik Afrika Tengah, menghancurkan negara-negara ini, dan membuat mereka miskin dan putus asa.

12. Prancis menguasai mata uang dan cadangan nasional dari 14 negara Afrika sejak 1961. Prancis menghasilkan USD500 miliar setiap tahun dari negara-negara ini. Uang yang sangat banyak bukan? Jika negara-negara ini keluar dari kekuasaan Prancis, Prancis akan mengalami masalah. Bank sentral negara-negara ini berada di bawah kendali Prancis. Negara-negara ini tidak dapat mengakses uang mereka. Prancis hanya mengizinkan kepada negara-negara ini dapat mengakses 15 persen darinya.

13. Semua aset ekonomi besar negara-negara ini ada di tangan Prancis. Misalnya, di Pantai Gading, perusahaan Prancis mengontrol semua layanan utama publik seperti air, listrik, telepon, transportasi, pelabuhan, dan bank besar. Hal yang sama berlaku untuk perdagangan, konstruksi, dan pertanian.

14. Negara-negara Afrika ini harus melindungi kepentingan Prancis dalam pengadaan fasilitas publik dan tender serta memprioritaskan perusahaan Prancis. Perusahaan Prancis memiliki prioritas utama dalam seleksi kontrak proyek dari pemerintah. Jika mereka tidak melakukan ini, maka mereka akan dihukum berat. Perhatikan ini!

15. Ketika seseorang yang tinggal di wilayah koloni Prancis ingin pergi ke negara lain, mereka harus pergi melalui Paris. Mereka dilarang pergi dengan cara lain. Dengan penguatan maskapai penerbangan dari berbagai negara, orang-orang Afrika mulai menggunakan rute yang berbeda dan menemukan keberadaan negara selain Prancis.

16. Hari ini, Turkish Airlines terbang ke seluruh Afrika. Sekarang, semua penerbangan transit dilakukan melalui Istanbul. Ini adalah salah satu alasan mengapa Prancis menyerang Turki dengan kuat dari waktu ke waktu. Mereka sangat tidak nyaman dengan Turki. Prancis ingin menjauhkan Turki dari Afrika. Turki adalah satu-satunya negara yang dapat membuat orang-orang Afrika melawan dan memberontak terhadap Prancis.

17. Prancis selalu mengambil tindakan keras untuk mencegah negara-negara Afrika ini keluar dari kekuasaannya. Elit kolonial Prancis di Paris sangat marah dan menghancurkan pemerintahan Prancis di Guinea setelah pemimpin Muslim Guinea "Sékou Touré" memutuskan untuk meninggalkan koloni Prancis dan membawa negaranya menuju kemerdekaan penuh. Kemudian Guinea dijarah dan dihukum.

18. Presiden Republik Togo Sylvanus Olympio memutuskan untuk meninggalkan CFA dan mencetak uangnya sendiri. Setelah itu dia dibunuh pada tahun 1963, tiga hari setelah dia mencetak uang negaranya. Prancis tidak mengizinkannya. Dengan membunuh Olympio, Prancis juga ingin mengancam negara lain. Mereka berkata “Nasib kalian akan berujung seperti ini.”

19. Presiden Republik Mali Modibo Keita memutuskan untuk menarik diri dari CFA. Lalu dia diturunkan dan dibunuh pada 1968 oleh kudeta militer pro-Prancis. Prancis tidak pernah mengizinkan negara-negara itu keluar dari sistem moneternya sendiri, CFA. Setiap perlawanan akan dicegah dengan kudeta, teror dan pembunuhan.

20. Dalam 50 tahun terakhir, telah terjadi 67 kudeta di 26 negara di Afrika yang kebanyakan bekas jajahan Prancis. Dengan ancaman kudeta dan pembunuhan ini, Prancis terus menjajah dan mengeksploitasi negara-negara tersebut. Setiap kali memerintahkan kudeta kepada orang-orang yang mereka rekrut, mereka juga akan menempatkan orang-orang yang mereka rekrut ke kekuasaan. Prancis telah melakukan kudeta terparah di Aljazair.

21. Ketika umat Islam anti-Prancis mendirikan sebuah partai bernama FIS (Front Keselamatan Islam) di Aljazair pada 1992 dan memenangkan pemilu dengan selisih suara yang besar, Prancis memerintahkan komandan Aljazair yang sudah mereka rekrut melakukan kudeta dan membantai 200 ribu orang di Aljazair. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1992-1995. Pimpinan FIS Prof Abbas Mine ditangkap dan dua tahun kemudian teman dekatnya di Turki mantan perdana menteri Turki Necmettin Erbakan dikudeta pada 1997.

22. KEMERDEKAAN adalah ilusi, kawan. Prancis mendirikan pendidikan, ekonomi, dan sistem hukum di negara-negara ini, mengangkat pemerintahan boneka kemudian pergi. Mereka mengenali bendera, lagu kebangsaan, perbatasan-perbatasan. Mereka memperkenalkan kepada negara-negara Afrika perayaan hari kemerdekaan (!) Itu adalah ilusi yang lengkap, ajaib! Apa yang terjadi pada akhirnya? Prancis masih terus mengeksploitasi, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Mereka telah mengubah metode penjajahan dan penguasaan. Mari sekarang kita jelaskan inti permasalahan kebencian Prancis terhadap Turki.

23. Turki saat ini mendirikan pangkalan di Libya mulai membuka diri ke Afrika. Libya disebut sebagai "pintu ke Afrika" pada periode Ottoman. Prancis menggunakan Yunani untuk menjauhkan Turki dari Afrika. Ini bukan tentang Yunani, bangunlah kawan! Ini tentang koloni Prancis di Afrika dan Mediterania.


(Sumber: Anadolu Agency)