LINGKARAN SETAN PENEGAKKAN HUKUM, Bagaimana Mengakhirinya?


Oleh: Tere Liye | Akuntan, Penulis Novel

Pinangki Sirna Malasari, hanyalah 'sosialita' kelas ecek-ecek dibandingkan Miranda Swaray Goeltom. Kalian kenal dua nama ini?

Siapa Miranda Swaray Goeltom. Dia adalah lulusan UI, PhD dari Universitas Boston, dosen di FEUI. Wah, dia jenius, pintar dan salah-satu elit sohor di masanya. Tahun 2004 dia terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Itu posisi yang tinggi.

Masalahnya, pemilihan tersebut di DPR ternyata melibatkan suap. Ada 480 lembar cek pelawat (traveler's cheque) yang dibagikan ke anggota DPR, total senilai 24 milyar. Yang membagikannya adalah Nunun Nurbaeti (istri dari mantan Wakapolri Adang Daradjatun, yg juga politisi PKS). Miranda bilang dia tidak tahu-menahu, kok ada cek dibagi2kan. Tapi KPK tetap jalan, terus menyelidiki. Kasus ini dulu wah, penuh drama. Nunun kabur ke LN. Sama-lah kayak Harun Masiku gitu deh. Bayangkan, istri mantan Wakapolri, kabur. Dramanya ngalahin sinetron. Hingga akhirnya, Nunun dan Miranda sama-sama masuk penjara.

Kalian tahu cerita lama ini? Mungkin sudah lupa. Mungkin sama sekali tidak tahu.

Sungguh, negeri ini berpuluh tahun berlalu, berganti rezim, masih begitu2 saja. Korupsi dimana2, suap dimana2. Bayangkan, untuk jadi Deputi Gubernur Senior, butuh 24 milyar. Orang nyuap pastilah tidak mau rugi, modal sudah berapa, baliknya berapa? Nah, yang menariknya dalam kasus Miranda ini, siapa penyandang dana 24 milyar tersebut, hingga hari ini tidak jelas.


Kita hanya menyaksikan siklus ini terus berulang-berulang dan berulang. Pinangki Sirna Malasari contoh berikutnya. Entah akan seperti apa kasus ini kelak. Apakah semua terbongkar. Kok bisa jaksa pangkat rendah begini bisa 'deal-deal'-an dengan buronan kakap. Berapa uang yang sedang mereka bicarakan agar Djoko Tjandra bebas? 10 juta dollar? 140 milyar? Siapa saja jaksa yang terlibat?

Sorry, berkaca dari kasus2 lama, jangan mudah percaya hanya karena seseorang itu berpendidikan tinggi, jabatan tinggi, dsbgnya. Sekarang itu, bahkan orang yg luarnya bagai malaikat, bisa jadi korupnya ngalahin setan. Bergaya dia di medsos, eh, uangnya dari suap, mencuri, dkk.

Kenapa sih kasus begini terus terjadi? Dan seringkali melibatkan aparat hukum? Sederhana: karena selama ini 'bibit' yang masuk ke kejaksaan, polisi, hakim, memang 'bermasalah'. Sapunya kotor, kok mau membersihkan. Bahkan rekrutmen sipir penjara saja, ehem, coba dijawab jujur deh. Jika kalian jaksa, polisi, hakim, bahkan sipir penjara baca tulisan ini, cek nurani terdalam kalian, coba dijawab, dulu seleksinya bagaimana? Sekarang di lingkungan kerja kalian bagaimana? Berapa orang sih yang sungguh2 mau menegakkan hukum seperti di film2? Atau semua hanya sibuk dengan urusan masing2, yang penting karir saja naik, gaji naik, sabetan naik. Kalian tahu tidak, ehem, ada ‘sesuatu’ di sekitar kalian?

Maka lihatlah hasil dari bibit bermasalah ini, bintang satu polisi bisa dibeli oleh buronan kakap. Jaksa bisa dibeli. Dan ini baru dari yang ketahuan. Coba berapa banyak yang tidak? Di daerah2, berapa banyak kasus yang tidak ketahuan, heh? Kasus Djoko Tjandra ini tidak akan meledak jika aktivis anti korupsi, netizen, dll tidak ribut di medsos. Coba kalau semua mingkem. Bisa mulus rencananya.

Lantas bagaimana 'solutip'-nya? Mudah. Mulailah perbaiki kualitas bibit di lembaga2 penegak hukum ini. Pangkas 50% personil jaksa, polisi, hakim, ganti yg baru, bisa jadi solusi cepat. Taruh semua CCTV di setiap jengkal kantor2. Paksa semua personil mendaftarkan rekening bank, aset, dll. Sekali ada yang bohong, menyembunyikan rekening, pecat. Aktifkan pengawasan ketat, serius ke semua personel penegak hukum. Itu tuh mudah, apalagi dgn teknologi hari ini. Semua uang, aset, bisa dilacak.

Tapi itu semua membutuhkan kemauan. Kemauan siapa? Pemimpin tertinggi negeri inilah. Penegakan hukum bukan masalah politik. Kita memang butuh pemimpin yang paham masalah ini. Berani berdiri di depan 'menghunuskan pedangnya' menegakkan hukum. Reformasi lembaga penegak hukum itu tidak cuma di mulut. Kalau orangnya masih itu2 saja, masalahnya terus diwariskan. Berganti generasi, sama saja.

Ketahuilah, negeri ini sebenarnya nggak usah heboh sekali ngurus ekonomi. Cukup fokus tegakkan hukum. Sekali hukum benar2 ditegakkan, otomatis pertumbuhan ekonomi di negeri ini bisa meroket di atas dua digit.

Begitulah. Jadi kapan nin Harun Masiku ditangkap? Kok diem-diem bae. Seru loh kalau Harun ini bernyanyi.

(02/09/2020)

*Cerita Lama Pinangki Sirna Malasari, hanyalah 'sosialita' kelas ecek-ecek dibandingkan Miranda Swaray Goeltom. Kalian...
Dikirim oleh Tere Liye pada Selasa, 01 September 2020