Salah Cetak atau Palsu? FATABAYYANU (فتبينوا) berubah menjadi FATATSABBATU (فتثبتوا)


Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat

Salah Cetak atau Palsu?

Bukan dua-duanya. Itu adalah mushaf resmi dan sah, disusun dengan dasar qiraat Al-Kisa'i, salah satu imam qiraat dari tujuh imam qiraat yang mutawatir.

Ayat tentang keharusan TABAYYUN rasanya sangat populer di tengah kita. Tidak sedikit yang hafal luar kepala. Di mushaf kita tertulis seperti ini teksnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. (QS. Al-Hujurat : 6)

Namun di mushaf yang saya foto ini, rupanya lafazh FATABAYYANU (فتبينوا) berubah menjadi FATATSABBATU (فتثبتوا).

Buat kalangan awam ilmu qiraat, tentu perubahan ini membingungkan. Bukan apa-apa, karena sejak kecil terlanjur dikenalkan bahwa Al-Quran sedunia itu sama, tidak mungkin berbeda, walaupun satu huruf sekalipun.

Sejak zaman kenabian hingga hari kiamat, tidak akan terjadi perubahan. Berbeda dengan kitab agama lain yang bisa dipalsukan dan berbeda-beda.

Doktrin yang bagus sih sebenarnya, tapi kurang presisi. Glondongannya sih begitu, tapi di bagian detailnya tidak sesederhana itu.

Sebab kita mengenal istilah sab'atu ahruf dari mulut Nabi SAW, sehingga Ibnu Mujahid (w. 324 H) mempekenalkan al-qiraatus sab'u (القراءات السبع). Dan kita kenal Imam Al-Kisa'i yang meriwayatkan bacaan berbeda dengan Ashim dan Hafsh.

Salah satunya pas di ayat ke 6 surat Al-Hujurat. Al-Kisa'i tidak membaca FATABAYYANU tapi FATATSABBATU. Tentu beliau bukan ngarang atau iseng pakai istilah lain.

Tapi Al-Kisa'i meriwayatkan secara shahih bahkan mutawatir dari Rasulullah SAW. Qiraat ini diakui keabsahannya di seluruh dunia Islam sejak masa kenabian hingga hari kiamat.

Sayangnya di zaman sekarang banyak kalangan yang sama sekali tidak pernah tersentuh ilmu agama, keculi hanya sekedar penampakan luar saja.

Apalagi kalau terpapar virus kombatan, bisa-bisa dia hunuskan pedang untuk memenggal kepala orang yang dianggapnya 'pemalsu Al-Quran'. Padahal bukan pemalsuan. Tidak ada yang palsu, yang ada justru generasi 'missing link' yang terputus dari ilmu-ilmu keislaman.

Semangat membara tanpa diimbangi ilmu, akibatnya jadi kasar dan pada akhirnya membuat orang semakin jauh dari agama Islam.

Yang dibutuhkan sebelum 'membela Islam' justru 'mempelajari Islam'. Jangan bisanya cuma membela, tapi tidak kenal apa yang dibela. Nanti jadi linglung sendiri.

Maunya bela Quran, tapi Ilmu Al-Quran malah tidak tahu. Rasanya kok janggal sekali.[]