Maunya Denny Siregar Membela Gibran, Kok Malah Rasis ke Anies Baswedan?



Maunya Denny Siregar Membela Gibran, Kok Malah Rasis ke Anies Baswedan?

Oleh: Saleh Abdullah *

Baru-baru ini Denny Siregar berceramah di video YouTube bertajuk “Benarkah Jokowi Membangun Dinasti Politik?” tentang pencalonan Gibran dan tudingan bahwa Jokowi sedang membangun dinasti politik. Nadanya bisa ditebak: membela Jokowi dari tudingan.

Menurut Denny, Jokowi tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk terjun ke politik. Ini didasarkan dari obrolan Denny dengan seorang (ingat ya, seorang) warga Solo yang menyatakan, sepeninggal Jokowi dari Solo, warga Solo merasakan penurunan dalam kepemimpinan. Dan ketika Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo mau dicalonkan oleh DPC PDIP Solo sebagai wali kota, warga Solo menolak karena ia sudah terlalu tua untuk memimpin. Lalu warga Solo kemudian berjuang mengusulkan pencalonan Gibran. Sebab, menurut warga Solo itu, hanya Gibranlah yang bisa membatalkan keputusan PDIP Solo.

Bukan maen dah ah. Kalah Gundala Putra Petir sama Gibran kalo gini mainnya mah.

Tampaknya klaim Denny Siregar yang hanya ngobrol dengan seorang warga Solo itu direspons politisi senior sekaligus salah satu pendiri Partai Amanat Nasional, Abdillah Toha. Dalam cuitannya, Pak Abdillah di antaranya berkata: “Saya orang Solo. Tidak benar warga Solo mendesak Gibran maju. Malah mereka awalnya menolak tapi gagal melawan maunya bos….”

Siapa nih yang benar, Pak Abdillah yang orang Solo atau Denny Siregar? Kalau saya sih, dengan melihat rekam jejak pendidikan tinggi dan sarat pengalaman politik, pendiri PAN dan jadi anggota parlemen, pernah jadi penasihat wapres bidang telaah strategi, juga pengalaman-pengalaman profesional lainnya, dibanding Denny yang cuma banyak main di media sosial, jelas lebih condong percaya Pak Abdillah Toha, lah…. Emangnya CV mau disepelekan?

Lah, Denny bilang, “Waktu main ke Solo, saya bertanya ke seorang warga Solo,” itu tadi. Kirain dia lagi mau jajak pendapat di Solo dengan metoda random sampling? Cuma “main” tuh, katanya. Lagian Denny cuma ngobrol sama seorang warga Solo. Kok bisa, warga se-Solo diklaim semua lewat satu orang yang entah siapa dia dan ditemuin di mana pulak. Bingung aing. Bisa bubar nih lembaga-lembaga konsultan politik di seluruh dunia kalo kayak gini metoda jajak pendapatnya.

Apakah Jokowi memang sedang membangun dinasti? Apakah Gibran salah menerima pencalonan dirinya?

Memang belum ada bukti kuat bahwa Jokowi sedang membangun dinasti. Juga tidak ada aturan yang bisa melarang pencalonan Gibran. Ihwal pencalonan Gibran, ya urusan internal PDIP, urusan DPP dan DPC. Bayangkan saja singa, harimau, jaguar, dan seekor kambing berbincang membicarakan apa yang bisa disantap untuk makan siang. Ada masalah nggak di situ?

Terkait Jokowi, nah, ini. Saya membayangkan, seandainya saya di posisi Presiden Jokowi yang barang tentu sebagai ayah ingin anaknya maju, tapi demi etika dan moralitas politik, saya akan bilang ke Gibran begini:

Wis tho, Le. Bapak bukannya mau membatasi cita-cita muliamu. Tapi mbok ya nanti saja nyalon walkotnya. Kan, Bapak masih njabat sebagai presiden. Kamu kan tahu sendiri, semua institusi politik termasuk institusi-institusi yang bertanggung jawab pada proses-proses elektoral berada di bawah tanggung jawab kepemimpinan Bapak sebagai presiden. Tak elok rasanya, kalau di dalam posisi itu, ada anggota keluarga, apalagi anak, yang ikut bermain dalam dinamika politik.”

“Apalagi kamu mau nyalon di wilayah yang bapak pernah mimpin. Masyarakatnya pasti masih ingat Bapak, lah. Makanya udah bener itu kamu dan adikmu bisnis kuliner yang tidak terkait politik. Bagus sekali itu. Bapak lega, karena nggak perlu perpres atau perppu untuk bisnis kayak gituan. Jadi pengusaha kuliner kan nggak ada hubungannya dengan elektabilitas politik, tho. Hehehe….”

“Bercanda bapak, Le. Gitu ya, kendalikan dulu niat bagusmu untuk nyalon di Solo. Tunggu beberapa tahun lagi sampai jabatan Bapak selesai. Sekarang ada waktu kamu belajar lebih banyak tentang politik kepemimpinan. Penting itu. Gitu, ya? Nggak enak lho Bapak ini dipantau ketat sama aktivis-aktivis SJW itu. Bapak lagi pengin konsentrasi ngurus ekonomi dampak Covid-19 ini, kan. Setuju, nggak?”

Barang tentu, sekali lagi seandainya saya bapaknya Gibran yang sedang jadi kepala negara, saya akan menjaga etika dan moralitas kepemimpinan politik saya. Saya akan berusaha ketat untuk tidak sedikit pun punya celah yang berpotensi dibicarakan rakyat. Apalagi tudingan membangun dinasti itu, aduh… berat itu. Etika ini, kan, terkait karakter moral atau prinsip moral. Dan karena itu, saya akan membuat perppu, eh, maksudnya minta ke anak saya itu, untuk menunda pencalonannya sampai tugas dan amanat negara selesai.

Gitu, Den.

Eh, terus gini. Di ceramah Denny Siregar itu, kok sempat-sempatnya Denny ngegeser fokesnya dengan menyenggol-nyenggol Anies segala? Dengan isyarat yang berkonotasi rasis pula. Simak menit ke 6:41, dia berkata: “Karena yang mengerti Solo hanya warga Solo. Bukan warga Surabaya, bukan pula warga Jakarta yang sudah puas dengan pemimpin yang katanya Jawa, ternyata asalnya Arab.”

Sudahlah, Den. Seperti yang lu bilang sendiri di jelang akhir ceramah lu itu, suka tidak suka, Anies sudah terpilih lewat pemilihan dan sudah disahkan sebagai Gubernur. Kalau lu nggak suka dengan Anies, ya terima aja. Lalu dorong dia untuk melakukan hal-hal baik dan benar bagi Jakarta. Ke Gibran yang belum tentu terpilih, lu bisa ngasih the benefit of the doubt. Lha ke Anies yang sudah jelas terpilih dan menjabat, kok, malah bawa-bawa wacana rasis? Kritik aja Anies sampai dia melakukan hal-hal yang bagus dan adil buat semua warganya.

Atau bisa juga, kalau lu memang mau politically correct, ketika si Anies ngomong soal Jawa dan Arab itu, lu kritik dah. Bilang ke dia: “Woi, ini Indonesia! Kita beragam suku, ras, dan agama. Nggak usah bawa-bawa asal-usul ras, suku, dan agama sebagai alat identifikasi diri di ranah publik yang berdampak politisasi. Konsentrasi aja pada kemanusiaan, nggak usah bawa-bawa asal-usul dan buktikan kerja-kerja bagus, lu! Emangnya enak, kalau ada yang pake teori Darwin bahwa asal-usul kita monyet?”

Kalau lu bilang kayak gitu, Den, gua kira orang malah pada lega. Kritik dan pandangan lu bisa dianggap netral.

Dynasty itu bahasa Inggris. Buat sebagian orang, Dynasty itu nasty (menjijikan -red). Buat yang lainnya yang berhasrat, itu tasty (gurih -red).[]

*Sumber: https://mojok.co/terminal/maunya-denny-siregar-membela-gibran-kok-malah-rasis-ke-anies-baswedan/

loading...