Fahri & Hamzah


Fahri & Hamzah

Hamzah bin Ahmad bin Umar, ini nama ayahnya Fahri Hamzah yang dirilis terkait kewafatannya kemarin. Nama yang sangat identik Arab.

Orang Arab memang begitu namanya, sekedar Umar, Hamzah, Muhammad, Ahmad, Abu Bakar, Abdul Qadir, Anis, Musthafa dan lain-lain.

Kalau nama perempuan, biasanya Zaenab, Maryam, Fatimah, Aisyah, Hindun, Lubna, Najwa, Sofiyah dan lain-lain.

Maka kemudian seringkali orang Arab itu namanya sama. Karena memang muter di situ saja. Nah, untuk membedakan masing-masing nereka, makanya harus disebut nama ayahnya. Seperti Hasan bin Umar, Muhammad bin Soleh, Fahri bin Hamzah dan seterusnya.

Tapi karena identitas di Indonesia tidak mencantumkan 'bin', sehingga orang-orang langsung menyambungnya. Misal Muhammad Soleh, padahal aslinya Muhammad bin Soleh. Fahri bin Hamzah menjadi Fahri Hamzah dan seterusnya.

Repotnya bagi yang asli namanya Muhammad atau Ahmad, ketika digandeng dengan nama ayahnya, malah nama ayahnya yang dipanggil orang. Seperti Ustadz Muhammad Soleh Drehem. Orang-orang banyak memanggil beliau Ustadz Soleh. Padahal Soleh itu nama ayahnya.

Atau Ustadz Muhammad bin Anis Shahab, orang-orang banyak yang memanggilnya Ustadz Anis. Padahal Anis itu namanya ayahnya.

Beda dengan identitas di Malaysia yang masih mencantumkan 'bin' pada nama-nama mereka. Itu juga yang tidak memungkinkan bagi perempuan Malaysia untuk mencantumkan nama suami di belakang namanya.

Tidak sebagaimana perempuan Indonesia yang sudah bersuami. KTP ditambahi nama suami, akhirnya ketika suaminya meningal dunia atau menceraikannya, repot lagi ganti nama.

Misal dulu ada menteri yang bernama Rini Soewandi, kemudian berubah menjadi Rini Soemarno.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indra Parawansa, dua kata terakhir itu adalah nama suaminya. Sampai sekarang setelah suaminya meninggal dunia, nama tersebut tetap dipakai. Mungkin karena beliau belum menikah lagi atau karena nama tersebut sudah terlanjur melekat pada dirinya.

Adapun Fahri Hamzah, saya baru tahu kalau Hamzah itu ternyata nama ayahnya. Saya saksikan video Fahri dengan ayahnya yang menampakkan keakraban dan sekaligus kearaban.

Pada video yang beredar, saya simak Daeng Hamzah bin Hasan membacakan hadis kepada anaknya, “Laisa ghina 'an katsratil 'aradh walakinnal ghina, ghinan nafsi = Kekayaan itu bukanlah karena banyak harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati.”

Hadis di atas adalah hadis yang sangat terkenal. Hadis shohih muttafaq 'alaih. Hanya saja Daeng Hamzah tidak melafazhkannya ghina (غِنَى), yang berarti kekayaan. Tapi beliau menyebut ghani (غَنِي), yang berarti orang kaya. Mungkin beliau secara khusus menasehati anaknya, tidak penting jadi orang kaya kalau tidak punya hati dan tidak punya harga diri.

Melihat keberanian dan konsistensi Fahri menggenggam keyakinannya selama ini, memang tampak bahwa hal tersebut bukan sekedar tumbuh begitu saja pada dirinya. Ternyata benar, semua itu tak lepas karena usulnya yang memang sudah solabah. Ajaran ayahnya yang terus dia genggam.

Saya dan teman-teman mungkin hanya menyaksikan satu atau dua tiga video, bagaimana ayah Fahri berpengetahuan agama dengan baik.

Air muka dan penampilannya memang mencerminkan pembawan kiai kampung kebanyakan. Tentu selain video yang kita saksikan, selama ini Fahri memang dididik ayahnya untuk teguh berkeyakinan dan menunjukkan rasa takut hanya di hadapan Allah saja.

Sayang, saya tahunya Daeng Hamzah saat beliau sudah wafat. Beruntunglah Pak Anis Matta dan teman-teman yang lain, yang sempat berjumpa dan berbincang langsung dengan beliau.

Semoga Allah subhanahu wata'ala sentiasa merahmati Daeng Hamzah sepanjang kehidupannya di Barzakh. Meluaskan kuburannya dan menjadikannya sebagai taman dari taman-taman surga. Lahul fatehah!

Oleh: Ustadz Abrar Rusdi Rifai
(Pengasuh Ponpes Babul Khairat Malang)