Beda Antara Penjajahan Barat dan Penaklukan Islam


Beda Antara Penjajahan Barat dan Penaklukan Islam

Tanpa malu para pendengki Islam menyudutkan Islam sebagai agama yang membawa kecendrungan menjajah. Menurut mereka faktanya Islam menjajah dan Barat menjajah, dan Barat jauh lebih baik dalam menjajah karena hasil dari penjajahannya terlihat sampai sekarang berupa peradaban maju di negara asal penjajah.

Saya katakan penaklukan yang dilakukan Islam sama sekali tidak membawa misi keduniaan. Penaklukan yang dilakukan semata untuk membuka pintu dakwah ke daerah tersebut. Menghalangi manusia untuk mendapatkan hidayah adalah sebuah kezaliman yang luar biasa. Apalagi kezaliman itu benar-benar terwujud di bawah pemerintahan yang sewenang-wenang menindas rakyatnya.

Ketika umat Islam berhasil menaklukkan sebuah daerah yang pertama mereka kirim adalah para ulama juru dakwah. Yang pertama mereka bawa ke sana adalah ilmu. Yang pertama mereka tegakkan adalah keadilan. Yang pertama mereka hormati adalah kebebasan. Yang pertama mereka junjung adalah kesetaraan.

"Kami datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan dunia kepada cahaya Islam, kami datang untuk membawa manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat, dan kami datang untuk mengeluarkan manusia dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam."

Karena itulah daerah yang ditaklukkan kaum muslimin yang datang dari Arab berubah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan bagi dunia. Dari rahim pribuminya lahir tokoh-tokoh besar dan ulama-ulama besar. Sebut saja hampir semua pakar keilmuan Islam ternama bukanlah orang Arab!

Setelah penaklukan Mesir, Amru bin Ash sebagai gubernur pernah memaksa seorang Yahudi menjual tanahnya untuk pelebaran masjid. Si Yahudi tidak terima dan pergi jauh-jauh melapor kepada Khalifah Umar (presiden saat itu) di Madinah. Ketika ditemui ternyata Khalifah hanyalah seseorang yang berpakaian lusuh yang duduk-duduk bersandar ke batang korma. Bukan seorang raja yang duduk di singgasana seperti bayangannya. Ketika dia melaporkan urusannya dengan gubernur Mesir, sang Khalifah hanya memberinya tulang yang diberi garis lurus di tengahnya menggunakan pedang. Tapi ketika tulang itu diberikan kepada gubernur Mesir seluruh tubuhnya bergetar dan keringat dingin membasahi bajunya. Dengan segera ia mengembalikan hak si Yahudi dan bergegas menghadap Khalifah di Madinah.

Setelah perjalanan yang sangat jauh yang dia dapatkan hanyalah hardikan keras dari Khalifah Umar: "Sejak kapan kamu memperbudak manusia, sedangkan mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka?"

Benar sekali wahai Umar, semua manusia pada dasarnya merdeka. Tidak ada manusia yang berhak memperbudak sesamanya. Mereka sama di hadapan Tuhannya. Tapi bukankah Amru bin Ash tidak memperbudak rakyat Mesir? Benar, tapi dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya. Bagi seorang pemimpin tindakan ini sama dengan memperbudak!

Sekarang mari kita lihat bagaimana dunia Barat melakukan penjajahan. Semua yang di atas bumi dan di dalamnya mereka rampok dan boyong ke daerah mereka. Semua hasil pertanian dan perkebunan untuk mereka. Semua hasil tambang yang dikeruk dengan darah pribumi untuk mereka. Dikenal adanya kerja paksa dan tanam paksa. Pribumi menjadi budak di atas tanah yang mereka miliki. Bahkan tanah pun mereka angkut untuk mendam laut demi memperluas daratan daerah asal mereka.

Sekarang mereka mendiskreditkan Islam karena tidak melarang adanya perbudakan. Padahal mereka baru saja melakukan perbudakan terkeji yang pernah ada dalam sejarah panjang manusia. Kalau dulu penjajahan hanya terjadi pada individu-individu manusia, pada masa penjajahan Barat perbudakan terjadi atas bangsa-bangsa di dunia. Setelah bangsa-bangsa itu merdeka, mereka tetap saja mencengkramkan kuku mereka di atas kepala para pemegang kebijakannya. Sehingga segala keuntungan daerah bekas jajahan tetap selalu mendatangkan hasil bagi mereka, dan pribuminya tetap terus bekerja untuk kepentingan mereka.

Dengan segala kemunafikan mereka merestui penjajahan Israel atas tanah Palestina. Pribuminya diusir dari rumah mereka, tanah mereka, sawah ladang mereka. Pribuminya hidup di kamp-kamp penampungan. Hidup terlunta-lunta. Sedangkan tanah mereka telah dibangun kembali menjadi tempat tinggal baru bagi komunitas asing yang didatangkan dari seluruh dunia.

(Yahya Ibrahim)