Logika Sesat: Covid-19 Untungkan Tenaga Medis, Tim Medis Bisnis Corona?


Logika Sesat: Covid19 Untungkan Tenaga Medis, Tim Medis Bisnis Corona?

Oleh: dr. Hisnindarsyah

Baru saja selesai subuhan, beberapa WA masuk. Sebuah video keributan tentang jenazah yang akan dimakamkan karena serangan jantung dengan prosedur Covid19(?). Terjadi adu tegang di depan RS PK MND serta penjelasan yang samar samar dari pihak keluarga.

Maaf, aku pribadi kurang bisa menangkap kalimatnya. Tapi lebih tertarik dan sekaligus jengkel, karena kalimat provaktif yang ditulisnya. Tim medis bisnis Corona. Corona diperdagangkan. Lanjut kalimat dihubungkan untuk kembali ke normal life. Tanpa perlu perhatian lagi pada himbauan patuh pada protokol kesehatan. Ini sungguh proses pendunguan yang sistematik.

Ini Penjelasan Dirut RS Pancaran Kasih Terkait Tudingan ‘Uang Sogok’ Agar Jenazah Pasien Dimakankan Sesuai Protap Covid-19
https://manadopost.jawapos.com/berita-terbaru/02/06/2020/ini-penjelasan-dirut-rs-pancaran-kasih-terkait-tudingan-uang-sogok/

Buat siapapun yang menulis dan menyebar informasi tentang tim medis bisnis corona. Kalau anda  mau ujicoba taruhan nyawa, mengganti tim medis yang bekerja saat ini. Kami dengan sangat antusias menyerahkan tongkat estafet pelayanan medis ini pada anda.

Kami sangat senang jika dalam kondisi sekarang, ada yang menggantikan tugas kami. Apalagi anda bilang, Corona bisnis dashyat tenaga medis khan? Ayo, kita berganti peran. Supaya tau bagaimana "lahan bisnis" berjalan. Jangan hanya sesumbar.

Apa anda tidak melihat data? Indonesia paling tinggi angka kematian tenaga medisnya? 6 persen dari angka kematian seluruh pasien Covid19 di Indonesia. The biggest medics morbidity in the world!

Artinya apa? Pekerjaan ini taruhannya nyawa. Anda mau bekerja di tepi jurang, hanya pakai seutas tali pengaman? Terbuat dari plastik pula. Itu analogi sederhana kerja tim medis Corona.

Merekayasa data pasien Covid19? Apa untungnya? Supaya RS dan tenaga medis mendapat dana pelayanan medis Covid19?

Simak info dibawah, supaya bebal kronik tidak berkelanjutan.

Cobalah baca di media cetak, nonton tivi dan juga di media online, berapa banyak rumah sakit yang belum membayarkan jasa dan insentif bagi tenaga medisnya. Tidak perlu aku sebut Rumah Sakit mana, karena semua info, mudah di akses.


Apa penyebabnya? Pencairan dana klaim BPJS, telat. Mengapa bisa begitu? Karena verifikasi klaim dan bla bla bla, sering ada kendala. Ruwet memang kalau sudah berurusan administrasi dengan BPJS.

Bahkan setingkat Menkes saja "deadlock" saat menghadapi BPJS, dalam RDP DPR RI. Untuk membahas telat klaim bayar klaim BPJS. Telatnya itu bukan sehari atau seminggu.

Tapi bisa berbulan bulan.

Akibatnya para kepala dan direktur RS harus "berakrobat ria". Main sirkus, jumpalitan, mencari dan memutar anggaran. Supaya anggaran logistik dan material kesehatan RS terpenuhi, minimal nominal jasa medis terbayarkan dan pasien tetap terlayani. Artinya, untuk menjalankan rumah sakit secara normal saja di era BPJS ini, tidaklah mudah. Apalagi dalam kondisi wabah, yang dukungan dananya belum jelas diambilkan dari mana.

Lalu dimana untungnya tenaga medis, pada kondisi wabah kali ini? Logika tolol yang menyesatkan, jika menganggap main untung lewat wabah.

Sekarang, tentang bisnis medis Covid19?

Silahkan di-goggle lagi. Sampai tanggal 20 April 2020, ada sekitar 125 RS di Jakarta saja yang belum terbayarkan klaim Pasien Covid19. Belum lagi daerah-daerah lain.

Kemenkes baru saja membuat approval pembayaran tgl 8 Mei 2020 untuk 82 RS dan 931 pasien Covid.

Mengapa masih lambat? Karena proses verifikasi di BPJS, ribet dan ruwet. Dari jaman dahulu kala, BPJS selalu menjadi biang keterlambatan pembayaran. Karena proses verifikasi klaim, sering dilakukan okeh tenaga non medis. Sehingga sering terjadi tarik ulur pada verifikasi dan approvalnya.  Capek dan lelah jiwa kalau sudah berurusan dengan administratif.

Jadi, pada kondisi ini, rumah sakit dan puskesmas, juga  tenaga medis sudah lelah lahir bathin merawat pasien Covid19. Dengan sarana yang terbatas. Masih harus dihadapkan dengan keribetan dalam pengurusan klaim administrasinya.

Kemenkes sudah approval membayar, tapi BPJS nya belum tentu. Masih "umek" dari verifikasi diagnosis Covid yang belum tercantum, jenis terapi yang belum jelas serta bla bla bla lainnya. Intinya, belum tentu langsung cair. Covid ini harus dimasukkan kedalam sistem IT dulu, agar bisa diakses dalam klaim administrasinya. Intinya, lebih  mudah mengakses klaim penyakit yang sudah ada, dibandingkan harus memasukkan penyakit lain yang belum ada datanya.

Lalu dibilang tenaga medis bisnis corona?

Jangan  karena mabuk teori konspirasi, lalu muncul kedunguan kronik.

Sekedar tau saja.

Tenaga medis di Indonesia, tidak dibayar dengan sistem fixed salary seperti di Malaysia atau Singapura juga negara Eropa, USA.

Sistem pembayarannya, melalui pembagian jasa medis berdasarkan jumlah pasien yang dirawat.

Perhitungannya adalah gaji (yang tidak besar) ditambah jasa medis menurut jumlah pasien yang dirawat, yang dibagi secara proporsional dengan pihak RS yang memiliki sarana dan material kesehatannya.

Jadi kalau pasien banyak, ya lumayan didapat. Tapi mesti diingat, "banyak" disini artinya bahwa yang diterima juga tidak murni, karena dibagi dengan pihak RS (material kesehatan dan lain lain) sebagai penyedia sarana dan managemen.

Lalu bagaimana pada musim Covid19 seperti ini? Tenaga medis hanya melayani pasien kedaruratan/emergency saja. Selebihnya, mereka lebih banyak standby. Itupun harus dengan memakai APD mulai level 1 sampai 3.

Dan dalam kondisi wabah seperti ini, banyak tenaga spesialis seperti THT, mata, gigi atau spesialis minor, yang memilih standby. Bisa di Rumah Sakit  atau di rumah. Apalagi jika tenaga medis tersebut berusia 50 tahun ke atas, disertai penyakit seperti jantung, DM, hipertensi. Sangat riskan kelelahan, sehingga imunitas mudah menurun. Akibatnya gampang diserbu Covid19. Alhasil, penghasilan pun jadi hilang di musim Covid19 ini.

Lalu bagi yang masih berpraktek?

Yaitu tadi, mereka hanya layani pasien emergency atau urgent. Menunda konsultasi pasien elektif atau rutin. Dan ini diawasi ketat oleh kolegiun masing masing bagian. Diperkuat oleh instruksi pemerintah.

Yang bikin beban juga untuk RS adalah perlunya pengadaan ruangan isolasi bertekanan negatif. Ruang Perawatan Covid19. Termasuk alat emergency nya seperti ventilator, bed site monitor serta "uborampe" lainnya. Harus menentukan tempat yang resiko penularannya kecil. Bahkan ada yang mengosongkan banyak kamar, hanya untuk merawat beberapa orang saja pasien covid.

Dan itu tentunya  membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lalu yang menanggung siapa?

Ya pasti ditanggung Rumah Sakit yang bersangkutan. Duitnya dari mana? Pengajuan APBN tidak mungkin, karena sedang tahun berjalan. APBN hanya untuk tahun depan. Sedangkan APBD tegantung kebijakan pimpinan daerah. Itupun jumlahnya pas pasan, karena biasanya kalah dengan prioritas lainnya yang sudah terencana. Menunggu dana BPJS, cairnya masih menunggu berbulan bulan.

Mengambil hutang di bank, ada bunganya. Siapa yang menanggung? Pusing wal ruwet.

Lalu dimana untungnya pandemi covid19 ini bagi tenaga medis? Sampai ada yang bilang, tenaga medis bisnis corona?

Belum lagi phobia masyarakat terhadap RS yang merawat covid19. Kuatir tertular oleh pasien covid yang dirawat di rumah sakit tersebut. Lagi lagi efeknya membuat angka kunjungan menurun  drastis. Ujung ujungnya penghasilan RS pun jadi terjun bebas. Hampir 30 sampai 50 persen penghasilan rumah sakit, hilang karena wabah ini.

Coba bayangkan, berapa lagi anggaran ekstra yang harus dikeluarkan RS atau puskesmas untuk melengkapi dengan APD lengkap sesuai level kebutuhannya. Satu Hazmard habis pakai perorang, butuh 300 sampai dengan 500 ribu rupiah. Kalau Satu  Rumah Sakit? setidaknya 50 persen nakesnya perlu hazmart seperti itu, berapa banyak pengeluaran ekstra perhati dari RS, untuk menjamin safety tenaga medisnya?

Dan ini membuat hampir semua rumah sakit, goyah. Banyak rumah sakit yang hampir bangkrut. Tim manajemennya stress. Coba cek lagi data google, berapa banyak dokter yang mengemban amanah sebagai kadinkes dan direktur atau staf RS, yang wafat.

Mengapa? Karena mereka harus menanggung beban tanggung jawab yang tidak ringan. Akibat stress maka imunitas turun, mudah terinfeksi virus.

Ini yang disebut keuntungan bisnis corona? Asli yang mikir tampaknya daya nalarnya menumpul.

Faktanya, sampai saat ini hampir semua RS masih melakukan pelayanannya. Walau mereka nyaris kolaps. Terus berusaha tegar.

Ditengah perilaku cuek, masa bodoh, anti kepedulian dari masyarakat terhadap protokol kesehatan Covid19. Yang beresiko meningkatkan jumlah pasien Covid19 dengan dratis. Ditambah lagi dengan "men-general-kan" adanya tenaga medis bisnis dengan Covid19. Dikaitkan kaitkan dengan segala macam teori konspirasi, konsepsi, kontrasepsi. Apalah namanya. Ini fitnah tersistimatis.

Belum lagi banyak pasien yang bohong soal gejala atau riwayat perjalanan. Setelah dicek, ternyata  positif Covid19. Akibatnya  puluhan tenaga medis harus dirumahkan dan isolasi mandiri. Bikin ruwet.

Jadi dimasa wabah covid19 ini, tolong kurangi pikiran tolol berkedunguan dan bebal. Yang menganggap ada keuntungan bisnis bagi tenaga medis di balik ini. Apalagi sampai ABAI pada protokol kesehatan Covid19.

Wabah ini beresiko. Adapun Resikonya bagi nakes, lebih besar daripada keuntungannya. Bahkan tidak ada untung materi sama sekali, wabah ini bagi nakes.

Banyak yang berlogika: mengatakan bahwa menjaga, merawat, mengurus pasien adalah resiko dari nakes. Jadi, tidak ada yang istimewa. Biasa biasa saja, karena memang tanggung jawabnya seperti itu.

Ohya, memang itu sudah jadi resiko dari nakes. Tapi coba aku jelaskan melalui analogi sederhana, supaya logika sesat yang kronik, sedikit tercerahkan.

Tukang sampah itu tugasnya membersihkan sampah. SOP-nya menyapu jalan, memasukkan ke tong sampah, membuangnya ke pusat pembuangan utama. Mengggunakan gerobak hingga truk angkut sampah

Dibuat aturan dan tulisan: "jagalah kebersihan", "jangan buang sampah sembarangan", "buanglah sampah pada tempatnya". Tujuannya agar kebersihan lingkungan terjaga, tidak kebanjiran dan sehat diri serta lingkungan. Karena jika sampah berserakan semakin banyak, tidak langsung dibuang di tong sampah. Terogok dimana mana, maka tukang sampahnya juga lelah tidak sanggup terus menerus membersihkannya. Akibatnya, banjir dan wabah penyakit dimana mana. Aturan dibuat, agar meminimalisasi resiko yang dampaknya akan merugikan semua orang, bukan hanya tukang sampahnya

Lalu ada yang membuang sampah sembarangan. Diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya malah marah-marah. Menolak, ngeyel. Dan mengatakan dengan angkuhnya, itu memang kerjaanmu bersih bersih sampah. "Koq nyuruh kita buang sampah ke tong sampah, khan memang tugasmu".

Kira-kira jika ada yang melakukan seperti itu, masih bisa digolongankan manusia atau iblis kah? Apalagi menuduh tukang sampah bisnis gerobak dan tong sampah. Supaya dapat sewa dari tong sampah? Inilah logika sesat berbasis bebal dan kengeyelan kronik. Masih merasa sehat jiwa, jika berlogika seperti ini?

Jadi, jangan asbun alias asal bunyi. Kami juga ingin kumpul dengan keluarga, hidup normal. Kembali dalam suasana yang nyaman dan tenang.

Tapi, silahkan anda mau omong apa saja tentang teori konspirasi, kontrasepsi atau apa sajalah. Termasuk menuduh tenaga medis mencari untung bisnis corona. "Sakkarep Cangkemmu" kalau orang Suroboyo bilang.

Tapi jangan lakukan kebebalan terus menerus dengan ngeyel nge-mall, berkerumun, pergi sekedar jalan jalan. Apalagi menolak pakai masker dan males cuci tangan juga jaga kebersihan. Itu perilaku lebih dungu dari keledai.

Jangan teruskan perilak bebal dan ngeyel anti protokol, supaya tidak nambah yang mati konyol!!

Negeri penyengat, 02.06.2020

*Sumber: fb
Logika sesat : Covid19 untungkan tenaga medis? Oleh: DokterGeJe Baru saja selesai subuhan, beberapa WA masuk. Sebuah...
Dikirim oleh Hisnindarsyah Dokter pada Senin, 01 Juni 2020
loading...