Covid-19, Penyakit dengan banyak STIGMA, Berhati-hati lebih utama....


Berhati hati lebih utama....
Stay strong Indonesia....
Bismillah....

[Catatan Seorang Dokter]
Penyakit dengan banyak STIGMA

Empat malam yang lalu, seorang laki-laki dengan keluhan lemas dan tidak mau makan datang ke IGD sebuah rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan dan roentgen dada, dicurigai adanya pneumonia (infeksi paru). Karena pandemi dilakukanlah pemeriksaan rapid test (tes cepat) untuk Covid19 dan hasilnya NEGATIF.

Pagi saat kami lihat ternyata terjadi perburukan, keluarga pasien (anak-anak) dikumpulkan dan dijelaskan bahwa kemungkinan Covid19 sangat besar. Mengingat gambaran klinis dan roentgen pasien sangat mencurigakan (lihat gambar atas. sebelah kiri adalah hasil roentgen pasien tsb -red). Status pasien dijadikan PDP, tampak benar wajah kecewa keluarga pasien. Apalagi melihat hasil RAPID TEST yang NEGATIF, ditambah lagi isyu miring mengenai banyak pasien "katanya" di diagnosis covid dengan alasan menguntungkan buat nakes dan RS.

Setelah bercerita panjang lebar, terutama mengenai risiko kemungkinan terburuk berupa kematian. Dan bila tak dijadikan PDP, padahal sebenarnya covid 19 positif (hasil swab), keluarga bisa tertular. Membandingkan foto pasien normal dengan pasien Covid19 dan dengan foto pasien, barulah keluarga berkenan ayah mereka PDP. Dengan berat hati keluarga menyetujui untuk pindah ruang isolasi sambil persiapan rujuk ke RS rujukan.

Malamnya.....

Kami dapat kabar bahwa terjadi perburukan, saturasi (kadar oksigen) darah pasien menurun, dan akhirnya meninggal. Beliau dimakamkan dengan protokol Covid19 walau hasil swab belum keluar dan rapid test negatif.

Hari ini, dua hari setelah bapak itu meninggal....

Datang seorang perempuan 30an tahun, tergopoh-gopoh, cemas dan ketakutan, membawa amplop yang tak berani ia buka. Ternyata isinya hasil swab lelaki yang dua hari lalu meninggal. Dan ternyata hasil swab nya positif Covid19. Ia langsung bertanya, bagaimana saya, bagaimana adik-adik dan ibu saya....dengan suara bergetar karena sangat takut.

Perasaan kami campur antara plong dan belasungkawa. Plong karena bersyukur tim kami tak salah mengambil keputusan (menjadikan pasien PDP -red), belasungkawa karena pasien kami meninggal. Perasaan yang sulit dicerna oleh orang yang tak kerja di dunia kesehatan saat pandemi....trust me.

Pernahkah menemukan PDP meninggal sebelum swab keluar, sementara saat swab keluar hasilnya negatif? Jawabnya pernah....

Mau tau rasanya buat kami nakes? SANGAT TIDAK NYAMAN.....😔😔😔😔😔😔

Seandainya keluarga si bapak tak mau orangtuanya PDP dan dimakamkan dengan prosedur covid. Tak terbayang berapa orang yang akan kontak intens saat si bapak sakaratul maut dan sesaat setelah wafat. Dengan risiko tertular tentunya.....

Akhirnya kami berpesan, semua yang tinggal serumah dan kontak erat dengan almarhum untuk swab.

Sebagai tambahan......

Insya Allah, tak ada keuntungan apapun seandainya nakes dan RS merawat pasien covid19. Insentif buat kami-kami yang merawat covid19? Kami sudah biasa kena "prank" jadi sebagian kami sudah tak mempan di PHP. Hanya semangat menolong, yang membuat perawat sebagai mitra kami dan sejawat dokter untuk tetap mau merawat Covid19.

Cukup doakan kami semua (bila berkenan) untuk tetap diluruskan niat. Jangan puji kami dengan sebutan PAHLAWAN GARDA DEPAN, karena itu hanya akan melenakan dan merusak niat kami.

Izinkan kerja ikhlas teman-teman kami dibayar SEMPURNA oleh ALLAH ta'ala......aamiin.

#Covid19
#Coronavirus

5 Juni 2020

(dr. Syahrizal)
Penyakit dengan banyak STIGMA Empat malam yang lalu, seorang laki-laki dengan keluhan lemas dan tidak mau makan datang...
Dikirim oleh Syahrizal Babenya Fari Risi pada Jumat, 05 Juni 2020
loading...