MUNGKINKAH PERANG DUNIA KETIGA AKAN TERJADI?


MUNGKINKAH PERANG DUNIA KETIGA AKAN TERJADI?

Oleh: Anton Permana*

Sudah hampir seluruh nagara di dunia (194 negara) yang mengakui warga negaranya postif covid19. Secara jumlah manusia juga sudah lebih 2 juta jiwa positif terjangkit Covid19 dengan 168 ribu meninggal dunia versi WHO (World Health Organization) 2 Mei 2020.

Selain korban jiwa dan kepanikan, ada lagi dampak virus yang juga tak kalah dahsyatnya menghantam dunia global saat ini. Yaitu dampak ekonomi yang telah meluluh lantakkan ekonomi dunia. Kalau ekonomi sebagai salah satu sendi utama kehidupan cidera, maka secara efect domino pasti akan berdampak terhadap sendi kehidupan lainnya baik itu politik, ideologi, sosial budaya bahkan pertahanan dan stabilitas keamanan dunia.

Sudah banyak para pakar dan analis pertahanan yang sepakat, bahwa wabah covid19 ini tidaklah alami. Seorang pakar virologi asal Tokyo Jepang Profesor Tasuku juga menyatakan, secara ilmu biologi, covid19 adalah hasil rekayasa buatan manusia bukan alami.

Semua ini dikaitkan dengan konflik yang sedang terjadi antara dua raksasa dunia (Amerika Vs China) yang dalam tulisan tulisan sebelumnya sudah banyak kita bahas dan diskusikan. Lalu timbul pertanyaan, kapan perang ini akan usai ? Apa motif dan ujung dari perang ini ? Dan apakah akan berujung kepada perang secara militer alias perang dunia ketiga ? Lalu bagaimana posisi Indonesia dan dunia Islam ?

Untuk menjawab beberapa hal diatas, mari kita bersama menganalisis dan menguraikannya satu persatu.

1. Saat ini setidaknya sedang terjadi tiga peperangan secara non-militer (asymetris war) di dunia yaitu ; “trade war” (perang dagang) antara Amerika Vs China. Perang tarif minyak antara Arab Saudi dan Rusia sehingga harga minyak dunia jatuh sampai ketitik terendah sepanjang sejarah yakni di bawah 20 USD perbarel.

Akibat Arab Saudi mengguyur dan mengexplorasi sumur minyaknya 9 juta barel perhari untuk menyerang harga minyak Rusia. Dan selanjutnya “biological warfare” yaitu perang senjata biokimia berupa penyebaran virus covid19 yang kita rasakan semua danpaknya saat ini.

2. Ketiga perang ini terjadi secara simultan. Ibarat pemanasan sebelum memasuki perang yang sesungguhnya menggunakan kekuatan militer. Daya tahan nasional dan adu strategi masing poros kekuatan antara Amerika dengan sekutunya (Eropah-Australia-Jepang-India) lalu China dengan aliansi kulturalnya Rusia sebagai penantang baru sang adi kuasa sangat diuji saat sekarang ini.

3. Untuk fase “trade war” (perang dagang), China sebenarnya hampir “close the battle” melumpuhkan Amerika. Secara pengaruh ekonomi dan pengaruh distibusi perdagangan, China jauh lebih unggul dari Amerika. Nilai export China sudah melampaui nilai export Amerika dan boleh di katakan, Amerika sendiripun mulai ketergantungan dengan produk China.

Hal inilah yang sangat memukul psikologis Amerika. Tiga puluh tahun Amerika fokus konsentrasi memerangi dan menghabisi dunia Islam di Timur Tengah, telah menguras energi Amerika dan di satu disisi Amerika lengah dengan kebangkitan China yang berhasil memainkan standar gandanya yang dikenal dengan istilah ‘strategy dua wajah china’ yaitu : Wajah panda keluar negeri, wajah naga kedalam negeri. Maka jadilah China hari raksasa baru dunia yang mengancam superioritas Amerika.

4. Melihat serangan “trade war” Amerika terhadap China tidak berhasil. Maka Trump melakukan manuver dan serangan membabi buta terhadap jantung ekonomi pasar saham Shanghai di China. Seperti yang dilaporkan the Feed empat bulan yang lalu. Selama seminggu berturut-turut pasar bursa Shanghai diserang para spekulan sehingga dalam waktu seminggu 36 ribu trilyun uang di bursa Shanghai menguap. Otomatis hal ini membuat pukulan telak bagi perekonomian China. Yang diperkirakan bisa mendegradasikan pertumbuhan ekonominya minus hingga 3 persen.

Lalu barulah tiba-tiba muncul wabah Covid19 ini tepat sebelum perayaan tahun baru China Gong Xi Fat Chai yang juga bertepatan dengan perayaan tahun baru masehi. Momentum tahun baru ini yang sampai saat ini jadi pertanyaan besar bagi kita semua. Kenapa begitu tepat, di saat kunjungan turis manca negara sedang berada pada puncaknya mengunjungi China, disaat “China overseas” pulang kampung ke China, lalu tahu tahu setelah balik ke negaranya masing-masing ternyata sudah membawa virus yang menular begitu cepat dan dahsyat.

5. Saat ini secara statistik angka korban covid19 itu 75 persen berasal dari Amerika dan negara Eropah. Khusus Italy, Spanyol, Jerman, Inggris, dan Australia. Yang boleh dikatakan kelompok negara tersebut adalah negara sekutu dekat Amerika. Yaitu kelompok negara Kapitalis. Khusus Italy, adalah symbol negara spritual kaum Nasrani dengan adanya Vatikan di Roma.

Khusus Amerika, wabah covid19 ini begitu membuat negara Paman Sam itu panik dan frustasi. Kota kota besar seperti New York, Las Vegas, Chicago dan Washington DC boleh dikatakan lumpuh. Mayat-mayat korban covid19 hampir tidak terurus. Semua frustasi. Bahkan secara pertahanan militer, empat dari tujuh kapal induk kebanggaan Amerika lego jangkar karena ribuan prajuritnya positif covid19. Kondisi ini adalah kondisi terburuk yang dialami Amerika pasca menjadi pemenang perang dunia kedua.

6. Disaat Amerika dan Eropah berada pada titik puncak kepanikan, China berserta beberapa negara seperti Vietnam, Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, Turkey, Singapore, Australia justru mengumumkan negaranya selesai melakukan “lock down” dan siap memasuki tahapan recovery. Cuma tinggal Rusia yang masih mengalami ledakan puncak korban covid 19.

7. Dalam sejarah geopolitik dunia pasca perang dunia kedua. Baru saat ini Amerika babak belur menghadapi sebuah musibah. Betul kata pengamat pertahanan sebelumnya, bahwa titik krusial kelemahan Amerika itu berada di dalam negerinya sendiri.  Kalau berhasil menyerang Amerika dari dalam, maka hal itu akan berpengaruh besar terhadap stabilitas politik Amerika. Karena selama ini Amerika selalu membuat benteng pertahanan negaranya dengan menciptakan perang jauh di luar negaranya. Amerika itu sangat takut dengan rakyatnya.

Begitu juga ketika terjadi perang dunia kedua tahun 1945. Seandainya Amerika ketika itu tidak cepat mengebom Atom Nagasaki dan Hiroshima, maka sejarah akan berbeda. Karena dua kapal selam siluman angkatan laut Jepang Katana I dan Katana II sudah berada di dalam pesisir pantai Amerika, dimana di dalam kapal selam tersebut membawa dua pesawat pembom mutakhir di zaman itu. Untung saja Jepang kalah cepat dan keduluan oleh serangan bom Atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima.

8. Lalu apa motif dari ini semua ? Dalam tulisan sebelumnya sudah pernah kita jelaskan. Bahwasanya telah terjadi perselingkuhan antara kelompok elit Yahudi fundamentalis dengan petinggi partai komunis China. Dimana Yahudi ini adalah bahagian dari decision maker “the new world order” yang kecewa terhadap Amerika dalam beberapa hal salah satunya, standar ganda Amerika dalam menyikapi Palestina serta kedekatan Amerika dengan beberapa negara timur tengah khususnya Kerajaan Arab Saudi.

Kelompok elit Yahudi ini menganggap Amerika terlalu tamak, sehingga tidak setia kepada Yahudi yang telah membesarkannya. Dan kelompok Yahudi ini juga melihat bahwasanya, suatu saat Amerika pasti akan mengalami kemunduran. Akibat kerusakan sistem kapitalisme dan liberalisme yang mereka buat sendiri. Jadi untuk mempersiapkan kemunduran Amerika dan standar ganda Amerika inilah maka Yahudi fundamentalis ini jauh hari secara rahasia menyiapkan China sebagai “balance of power” dari Amerika. The next super power country in the world.

Lalu kenapa China ? Dan kenapa Yahudi mau meninggalkan Amerika ? Perlu kita tekankan bersama. Bahwa musuh abadi yang paling di takutkan Yahudi di dunia ini adalah Islam. Saat ini telah muncul raksasa baru dari belahan eropah bernama Turki. Dimana Turki boleh dikatakan sebagai representasi dari kekuatan Islam. Ditambah secara sejarah, Turki punya sejarah kegemilangan dibawah kepemimpinan imperium kekhalifahan Utsmani Ottoman yang pernah berkuasa selama 400 tahun lamanya sampai ke nusantara ini. Hampir sepertiga bumi dikuasai oleh kekhalifahan Islam dengan gemilang paripurna.

Kelompok Yahudi ini begitu ketakutan seandainya apabila Amerika runtuh, maka kepemimpinan dunia akan diambil Turki dan ini tentu sangat berbahaya bagi Yahudi. Maka dipilihlah China karena China secara genetis ideologis adalah negara komunis yang sangat anti dengan agama apalagi Islam. Artinya Yahudi menyiapkan China sebagai ‘proxy’ kedua setelah melihat Amerika yang mulai uzur dan rapuh.

9. Lalu bagaimana peran dunia Islam saat ini ? Sebenarnya posisi Islam dalam percaturan konflik hari ini sangat strategis ibarat bandul penentu kemenangan. Karena dua kubu ini pasti membutuhkan koalisi dan dukungan dunia Islam.

Namun sayangnya, negara negara Islam sendiripun terpecah belah dalam faksi kelompok yang tercerai berai. Secara ideologis, terpecah menjadi Sunni dan Syiah (walaupun sebenarnya syiah bukan Islam). Lalu terpecah lagi dengan faksi dalam tubuh OKI itu sendiri. Yaitu antara koalisi Arab Saudi dengan kelompok Iran, Yaman, dan Suriah. Selanjutnya terpecah lagi kedalam kelompok mana yang pro Amerika dan mana yang pro China.

Kalau bisa kita petakan kepada 10 negara Islam terbesar dan berpengaruh, boleh dikatakan hampir imbang mana yang pro Amerika mana yang pro China. Seperti yang pro Amerika yaitu ; Arab Saudi, UEA, Yordania, Qatar, Turki, Malaysia dan Brunei. Yang pro China yaitu ; Iran, Mesir, Pakistan, dan Indonesia. Meskipun pro dalam hal ini secara pemerintahannya bukan rakyatnya (politik aviliasi).

Namun secara kultural dan theologis, Amerika (barat) sedikit diuntungkan dari pada China terhadap dukungan negara Islam. Contohnya saat ini. Apakah ini bahagian strategi barat atau natural, sedang terjadi peningkatan tajam masyarakat eropah dan Amerika masuk Islam. Masjid dan suara azan sudah menggema di dataran Eropah dan Amerika. Seakan memberikan sinyal perdamaian antara Barat dan Islam.

Ditambah lagi secara konsep theologis, ditemukan juga hadis Nabi yang mengatakan bahwa, “Akan datang suatu masa dimana ummatku akan bersatu bersama bangsa Rum (barat) dalam memerangi kelompok manusia yanh wajahnya seperti perisai dan bermata sipit”. Selanjutnya perlakuan China terhadap komunitas muslim Uyghur yang begitu biadab, serta dukungan China terhadap Myanmar dalam kasus Rohingya, menjadi alasan ideologis kecendrungan dunia Islam bergabung dengan barat. Adapun negara Islam yang dukung China tak lebih faktor pemimpin struktural pemerintahannya saja bukan ideologis rakyatnya.

10. Lalu apakah akan berlanjut kepada perang skala militer ? Jawabannya bisa berlanjut dan bisa tidak tergantung beberapa hal. Pertama, apakah Trump akan lanjut lagi menjadi presiden Amerika pada pemilihan yang kedua ini atau tidak ? Kalau lanjut, kita bisa pastikan ada kecendrungan besar perang non fisik ini akan berlanjut kepada perang fisik. Kecuali Pilpres Amerika dimenangkan oleh Demokrat yang saat ini ‘berselingkuh’ dengan China.

Kedua, tergantung kekuatan pondasi ekonomi dan pengaruh politik China. Maksudnya adalah ; Amerika sebagai super power, pasti akan menggunakan pengaruh politik dan ekonominya melalui sanksi-sanksi tertentu untuk melumpuhkan China. Amerika punya tools dan instrumen untuk itu. Kelemahan China saat ini adalah kebutuhan pasokan energi yang 60 persen masih import. Serta kebutuhan bahan baku mineral industri yang juga import. Selanjutnya, dalam neraca perdagangan dan transaksi global, suka tidak suka dolar amerika masih menjadi komoditas utama alat bayar perdagangan dunia. Dolar Amerika menguasai 60 persen transaksi dunia, sisanya dibagi Euro, Poundsterling, Yen Jepang, baru Yuan 2 persen. Artinya, Amerika cukup membekukan seluruh cadangan dolar China di seluruh dunia bersama dukungan negara sekutunya, maka hal ini akan efektif melumpuhkan ekonomi China. Karena China butuh dolar untuk transaksi kebutuhan importnya. Sedangkan investasi China di 24 negara berkembang termasuk Indonesia belum menghasilkan dolar dan injeksi ekonomi apa-apa.

Kalau serangan sanksi ini masih dapat ditahan dan dilawan China, maka peta politik dan ekonomi dunia akan berubah. Karena sepertinya China sudah menyiapkan langkah antisipasi serangan ini dengan mengumumkan penggunaan mata uang virtual Yuan China dua bulan yang lalu. Sebagai alternatif dan pukulan balik China untuk meninggalkan transaksi menggunakan dolar Amerika.

Jawabannya akan ada pada sikap negara negara didunia. Apakah akan ikut Virtual Yuan China atau Tekanan Dolar Amerika ?

11. Lalu seandainya terjadi perang dalam skala militer siapakah pemenangnya ?

Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk kita analisis dan jawab bersama. Secara postur militer, tentu Amerika berada jauh diatas China. Baik secara kualitas, jumlah armada tempur dan pengalaman perang. Sehebat apa dan secanggih apapun China, sebanyak apapun tentara China, namun China belum mempunyai pengalaman dan jam terbang pertempuran dalam skala besar. Khususnya di fase kontemporer ini. China tercatat hanya punya pengalaman perang dengan India pada tahun 1960, terlibat setengah hati dalam perang Korea 1950, dan terakhir invansi kecil terhadap Tibet dan Turkishtan atau Xinjiang Uyghur hari ini.

Sangat berbeda dengan Amerika yang mempunyai pengalaman dan mental sebagai agresor dunia saat ini. Namun perlu dicatat, saat ini para analis pertahanan menghitung bahwa saat ini Amerika juga sedang mengalami masalah besar terhadap kemampuan pertahanannya, akibat covid19 yang juga menyasar para parjuritnya di garda terdepan.

Tercatat 6000-an pasukan Amerika positif terpapar virus. Puluhan ribu sedang isolasi diri. Dampaknya adalah, empat dari tujuh kapal induk armada tempur Amerika lumpuh alias lego jangkar. Ini sama saja menggerus 60 persen kemampuan tempur Amerika. Separoh dari 800 pangkalan militer Amerika di dunia tidak lagi siap siaga penuh.

Jadi wajar, beberapa hari belakangan ini Amerika sedikit “low response” terhadap insiden yang terjadi di selat Hormutz, Laut China Selatan, dan Alaska. Dimana insiden penerobosan oleh pesawat tempur Rusia dan kapal induk China yang sengaja menguji kesiap siagaan Amerika ditengah wabah covid19 ini.

Satu hal lagi, China tidak sendirian. Ada sekutu ideologisnya Rusia yang setia menemani. Dimana secara kekuatan militer tidak bisa dianggap remeh Amerika. Secara senjata nuklir pun, negara beruang merah reinkarnasi Uni Soviet ini lebih banyak dari pada Amerika yaitu 12 ribu hulu ledak. China juga punya penduduk terbesar dunia yang mewajibkan wajib militer. 1,4 Milyar penduduk China lebih separohnya adalah tentara. Cuma sebagai perimbangan, China juga punya bibit konflik dalam negeri yang juga bisa jadi ancaman dalam negeri. Konflik Taiwan, Hongkong, Tibet, dan Uyghur ibarat bomb waktu yang setiap saat bisa meledak dari dalam.

Tinggal sekarang dalam loyalitas para sekutu mereka. Seperti China, apakah Korea Utara, Vietnam, Pakistan, yang menjadi benteng geografis mereka akan setia atau pilih diam? Kalau sempat ada satu saja yang jebol alias main mata, maka ini akan jadi ancaman besar bagi pertahanan area China yang sangat luas. Catatan khusus Korea Utara yang kabar terbarunya, Kim Jong Un diberitakan meninggal meskipun kemudian dibantah dengan kemunculannya setelah sakit beberapa waktu yang lalu. Kalau ini terjadi, maka peluang aneksasi Korea Utara oleh Korea Selatan sangat terbuka. Ini sama halnya, beranda timur China terbuka lebar dari agresi Korea Selatan dan Jepang dimana secara kekuatan militer juga digjaya.

Begitu juga Amerika. Apakah negara Eropah dibawah NATO, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan India akan setia pada Amerika seperti perang Irak lalu ? Biar waktu yang menjawabnya. Karena kondisi ekonomi dalam negeri masing negara yang parah, pasti akan berpengaruh besar terhadap energi sekutu Amerika ini untuk ikut berkonstribusi.

12. Lalu bagaimana dengan Indonesia ?

Tidak bisa dipungkiri. Indonesia dalam peta global pemerintahannya sudah dikategorikan berada pada poros negara pro China. Baik secara politik dan ekonomi.

Peran Indonesia ini nanti akan kelihatan jelas ketika terjadi konflik terbuka di laut China selatan. Karena banyak yang memprediksi, apabila perang dunia ke tiga terjadi, akan dimulai di laut China Selatan sebagai medan laga pertempuran. Dimana itu berada tepat di beranda kedaulatan Indonesia.

Namun penulis sedikit pesimis akan ada langkah strategis yang monumental bisa dilakukan Indonesia. Alasannya, jangankan untuk urusan politik regional dan global, untuk urusan Nasional saja pemerintah Indonesia babak belur dan semrawut. TKA China saja tak kuasa pemerintah ini hambat masuk.

Secara politik, mohon maaf untung saja Polisi sebagai tulang punggung pemerintahan hari ini pasang badan secara total terhadap penguasa. Setia secara total terhadap pemerintahan hari ini.

Sehingga bisa aktif represif mengeliminir terhadap siapa saja yang dianggap ancaman bagi penguasa hari ini. Tapi sampai kapan kondisi ini akan bertahan ? Karena ada juga sebuah kekuatan lain seperti TNI, ummat Islam, dan kelompok pribumi kultural yang setiap saat bisa bersatu dan bangkit bersama melawan tirani ini. Arah kesana mulai terlihat dan mengerucut di arus bawah dan menengah.

Jadi, kalau secara geopolitik dan geostrategi secara global boleh dikatakan nasib Indonesia saat ini sangat tergantung kepada menang atau kalahnya China melawan Amerika. Kalau China menang, maka Indonesia akan mendapatkan ‘privilege’ sebagai negara IndoChina. Tapi kalau kalah ? Maka bersiap saja sesuatu hal yang terburuk akan terjadi terhadap rezim ini seperti tahun 1965 yang lalu. Minimal perang saudara antara kelompok pro China (anak PKI, syiah, non muslim radikal, TKA China yang infiltrasi) dengan kelompok nasionalis pribumi dan kekuatan Islam.

Kita semua tentu sangat berharap hal buruk itu tidak akan terjadi. Dunia akan baik-baik saja, Indonesia pun akan tetap damai. Namun semua itu akan terlaksana apabila ada kesadaran kolektif kita bersama. Ada pemahaman dan rasa kecintaan kita semua bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu. Bangsa yang bersaudara tanpa membedakan SARA. Sesuai dengan apa yang dicita-citakan para founding father kita. Apalagi kalau momentum ini bisa kita balik menjadi sebuah momentum konsolidasi nasional. Monentum kebangkitan. Seperti semangat kemerdekaan 17 agustus 1945, tak kala dunia juga diamuk perang dunia maka lahirlah Indonesia merdeka.

Tentu semua kembali kepada kita semua. Mau jadi pemenang atau pecundang. Mau jadi bangsa patriot atau jongos asing. Wallahu’alam.

*Penulis adalah Alumni Lemhannas RI PPRA LVIII Tahun 2018

Baca juga :