Konspirasi Corona: Zionis Yahudi Dalangnya? Untuk Wujudkan "The New World Order" = NEW NORMAL?


Konspirasi Corona

Oke, let us talk about conspiracy theory seputar corona 19 ini.

First of all... tak ada yang mengingkari keberadaan corona ini. Ok. Fixed ya. Corona 19 memang ada.

Second, corona memang lebih berbahaya dibanding flu biasa. Faktanya orang yang terpapar dan punya riwayat penyakit degeneratif atau penyakit bawaan, memiliki resiko kematian lebih besar ketimbang bila mereka terpapar flu biasa. Dan ini fakta.

Nah, tinggal lagi apa? Dari mana virus corona19 ini berasal? Kok bisa tiba-tiba ada, menyebar cepat keseluruh dunia dan menjadi pandemi berbahaya? Kok tiba-tiba semua kejadian nyata hari ini, mirip dalam kejadian yang ada di film-film seperti Contagion, The Flu, Train to Busan, World War Z, I am Legend, Deranged, dan lain-lain?

Kebetulan sajakah? Artinya cuma kebetulan ia terjadi secara alamiah tanpa rekayasa manusia? Atau justru ada pihak-pihak tertentu yang terinspirasi olehnya? Lalu mengembangkan virus corona19 dan menyebarkannya dengan cara-cara tertentu keseluruh dunia hingga terjadilah seperti apa yang ada dalam adegan film-film tadi?

Terus bila ini hasil rekayasa manusia yang entah katakanlah dulu sekarang ini kita tak tahu siapa mereka..... namun tujuannya apa?

Selama ini kita sering menyudutkan China sebagai asal virus corona19 ini sebelum ia menyebar keseluruh dunia. Bahkan kita punya asumsi bahwa pemerintah China ada dibalik rekayasa pengembangan virus sars varian baru tersebut.

Tapi setelah berjalan beberapa waktu, saya mulai punya second opinion.

Virus corona ini mungkin bukan produksi Wuhan. Dan China hanya kena getah dari fitnahnya.

Bagaimana bila corona ini ternyata dibuat oleh pihak Zionis melalui kelompok Iluminati-nya yang selama ini menggadang-gadang terwujudnya tatanan dunia baru atau The New World Order?

Siapa yang tak kenal kecerdasan bangsa Yahudi selama ini? Rata-rata mereka pintar dan bahkan al-Quran sendiri mengakui akan hal tersebut. Dewasa ini jaringan mereka telah masuk kesemua lini kehidupan setiap orang disetiap negara.

Contoh mudah dan sederhananya saja ya Facebook ini sajalah. Siapa dan dari keturunan mana coba Mark Zuckerberg yang merupakan pembuat, pendiri dan pemilik facebook?

Anda pikir Mark ini wong Palembang? Wong Sekayu? Wong Padang? Wong Semendo? Wong Jawo?

Bukan, dia orang Yahudi.

Lihat karyanya, kita semua seluruh dunia terjebak dalam media sosial yang ia buat hari ini. Kita sukarela mengekspos foto kita, teman kita, pendidikan kita, keluarga kita, hobbi kita, keluhan kita, aktivitas kita dan lain-lain disini. Di facebooknya ini.

Data itu mereka simpan. Bahkan bisa mereka jual pada pihak ketiga.

Sadar? Kalau ragu, silahkan kuliah S2 komputer sajalah. Nanti akan ada materi tentang Big Data dan IOT alias Internet of Thing.

Oke. Kita lanjut.

Dengan kecerdasannya itu, bukan tak mungkin bangsa Yahudi bisa saja mengembangkan virus corona19 ini lalu mengkambing hitamkan China.

Kenapa? Ya karena mau tak mau, fokus kebencian banyak negara saat ini tertuju ke China.

Disini kita tidak sedang membela China ya. Catat itu. Kita tidak akan membela negara komunis yang telah membantai saudara-saudara Muslim kita di Uighur. Belum lagi masalah hegemoni mereka di negeri kita dan penguasaan perekonomian 9 naganya disini sampai oknum-oknumnya yang menista agama kita (ingat kasus al-Maidah 51).

Tapi saya ingin kita sementara tidak melihat hal ini sejenak, sebab memang yang kita bahas disini bukan tentang Uighurnya atau tentang masalah kita dengan China di negeri kita tapi kita sedang bahas secara obyektif skandal konspirasi hadirnya covid19.

Lihat pemberitaan bulan Desember sampai Februari. Berapa banyak penduduk Cina bergelimpangan oleh corona? Betapa sibuk dan paniknya nakes-nakes disana melakukan perawatan terhadap pasien yang jumlahnya terus bertambah.

Artinya disini, China pun ikut menjadi korban. Merekapun harus menggelontorkan sejumlah uang yang tidak sedikit dalam upaya pengendalian dampak corona ini.

Sementara itu, jujurlah, berapa banyak korban yang kita baca dan ketahui dari kalangan yahudi?

Dunia sedang bermain mata saat ini. Dan mata itu adalah mata satu. Simbol dajjal yang berartikan kemunafikan, kecurangan, pemutarbalikan fakta, arogansi, kekuasaan sepihak dan konspirasi untuk membuat tatanan dunia berubah secara drastis demi ambisi satu sisi. Ambisi yang beranjak dari penguasaan dunia dan kebanggaan semua atas ras yahudinya. Dimana semua bangsa harus takluk dan tunduk kepada mereka. Termasuk China, Arab, Indonesia dan lainnya.

(By Armansyah)

***

MEMBACA YANG SAMAR DARI YANG TERSAMAR DALAM KONSTELASI GLOBAL

Kontemplasi Kecil (filsafat) Geopolitik

Ada asumsi yang terbilang baru di ranah analis geopolitik, bahwa sebuah clue atau petunjuk, kerap kali bukannya petunjuk guna mengungkap "sesuatu" agar yang samar (di masa depan) menjadi jelas serta terang benderang (di masa kini), sehingga gilirannya memudahkan untuk menyikapi atau bagaimana cara mengantisipasi.

Nah, isu pandemi bertajuk Covid-19 ini, jika beranjak dari model deception tingkat tinggi di atas ---bukan deception lazim--- sepertinya publik mulai dipaksa berselancar pada gelobang New Normal alias tatanan kehidupan baru yang serba virtual, jaga jarak fisik, hindari kerumunan dst.

Tidak ada masalah di tengah pandemi merebak. Namun jika menyelam lebih dalam, publik seperti digiring dan/atau tergiring pada sebuah agenda dimana era tersebut seakan buah penyelaraskan antara kondisi faktual saat ini (masa pandemi) dengan trend perilaku publik berbasis teknologi informasi (IT) di era revolusi industri 4.0, namun publik tak menyadari karena "dipaksa" oleh sebuah keprotokolan.

Dan bila hal itu diyakini menjadi nilai dalam praktik keseharian masyarakat justru kelak ia mampu mencabut manusia dari akar keseharian yang selama ini dilakukan selaku makluk sosial, misalnya, silahturahmi secara fisik dan budaya offline dst. Lebih jauh lagi, selain bisa mengikis (ritual) daya religi berbagai agama ---ini tengah berlangsung--- juga akan mengubah budaya yang sudah mengakar, menjadi peradaban baru yang belum melembaga. Inilah yang disebut "titik kritis" peradaban, dimana kebiasaan lama mulai ditinggalkan oleh masyarakat namun peradaban baru belum sepenuhnya melembaga. Publik dibuat panik dan gagap dalam menjalani hidup serta kehidupan.

Berbagai kajian mensinyalir, bahwa ada upaya senyap segelintir elit global guna menggeser peradaban offline menjadi virtual atau online dengan segala implikasi ( - ) dan kontribusi ( + )-nya.

Di sini mulai terbaca "hidden agenda" atas clue tersebut bahwa "New Normal" yang mulai diinternalisasi ke publik. Ia diasumsikan sebagai kelanjutan dan penebalan globalisasi, sedang konsep globalisasi itu sendiri mulai ditolak oleh publik melalui sebuah retorika, "Untuk apa dibentuk negara, jika semua ruang dan (gerak) dinamika terutama aspek ekonomi dan sosial budaya harus diseragamkan atau  distandarisasi melalui protokol globalisasi?".

Retorikanya, adakah ini ulah segelintir elit globalis yang disebut dengan istilah Non-State actor sebagaimana sinyalir geopolitik pasca Perang Dingin?

Perlahan mulai terkuak --- bahwa Covid-19 dan segala konsekuensi keprotokolan ala WHO, bukanlah clue guna membuat terang sesuatu yang samar di masa depan ---kondisi pasca pandemi--- tetapi  clue tersebut justru  menyembunyikan hal yang samar-samar. Artinya, ketika kelak terjadi perubahan secara radikal dalam tata kehidupan masyarakat global (new normal) maka hal itu dianggap logis dan wajar.

Inilah bentuk clue atau petunjuk, tetapi clue tersebut justru kian menyembunyikan hidden agenda (tujuan utama) itu sendiri.

Siapa (sektor) pemenang dalam pertarungan senyap di era new normal nantinya?

Apabila mengurai samar dari yang tersamar secara riil, seyogianya mesti dipetakan terlebih dahulu antara mana sektor punya potensial winners dan siapa potensial losers akibat isu Covid. Nah, untuk materi ini akan dibahas dalam tulisan tersendiri.

Sementara itu dulu. Terima kasih.

(By Arief Pranoto)