Habib Asad: Kita Tidak Mempersoalkan NU Sebagai Lembaga, Tapi Personal NU Yang Menyimpang


[PORTAL-ISLAM.ID]  Habib Asadullah bin Alwi Alaydrus adalah salah seorang Mustasyar PCNU Kota Malang. Ayah beliau, Habib Alwi Bin Salim Alaydrus bahkan pernah menjadi Rois Syuriah PCNU di kota yang sama.

Banyak kiai dan ustadz NU juga nyatri ke Habib Alwi. Seperti Kiai Bashori Alwi, Kiai Abdul Mannan, Kiai Masduki Mahfudz, Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Mukhtar Ghozali, Kiai Imam Hambali dan lain-lain.

Untuk lebih mengenal Habib Alwi Alaydrus, abahnya Habib Asad, silakan baca Majalah Aula edisi Oktober 2019 yang kebetulan memuat profil beliau.

Terkait kontroversi yang dilakukan Gus Muwafik, Habib Asad adalah satu di antara Habaib yang tidak melakukan hujatan dan makian kepada Gus Muwafik secara terbuka. Walau sebenarnya kesalahan Gus Muwafik di kalangan Habaib sudah dianggap terlalu melampau.

Tapi akhirnya Habib Asad menulis juga. Melalui akun Facebook miliknya dan beberapa grup WhatsApp, Habib Asad menyampaikan sikapnya. Sikap yang menurut hemat saya, sungguh sangat halus dan santun.

Beberapa pernyataan beliau saya kutip berikut ini:

“Sekali lagi pahamilah, bahwa ketika kami mempersoalkan tokoh NU karena kesalahannya, bukan berarti kami sedang mempersoalkan NU.”

“Yang kita persoalkan sekarang ini adalah seseorang secara pribadi, atas kelancangannya berani bersikap tanpa adab kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”

“Sekali lagi Bukan NU secara organisasitoris yang kita persoalkan. NU akan tetap kami jaga dan kami cintai. Dengan tidak membiarkan orang-orang yang ingin merusaknya dari luar maupun dari dalam!”

Itu pun, Habib Asad sama sekali tidak menyebut nama Gus Muwafik. Walau tentunya orang yang membaca tulisan beliau, pasti langsung bisa mengarah, bahwa yang dimaksud adalah Gus Muwafik. Sekali lagi saya katakan, tulisan Habib Asad begitu halus dan santun.

Tapi itu pun ternyata tetap dinyinyiri oleh beberapa komentator. Bahkan beberapa di antaranya tidak mempercayai ke-NU-an beliau. Menyebut Habib Asad mengaku-aku sebagai orang NU. NU abal-abal dan lain sebagainya.

Saya heran, orang seperti Habib Asad yang jelas aqidah dan amaliyahnya: Aswaja Nahdhiyyah, jelas keterlibatan diri dan orang tuanya di NU, diragugan ke-Nu-annya. Sementara Abu Janda dan sejenisnya, yang tidak jelas agama dan ibadahnya, justru dipercaya sebagai orang NU. Duh!

Jadi, kalau narasi yang dibangun bahwa orang yang mempersoalkan tokoh NU atau yang disebut tokoh NU, kemudian dianggap memusuhi NU dan tidak dianggap ke-NU-annya, apakah yang diharapkan agar semua orang membuarkan saja semua orang NU mau apa saja!

Saya kira bukan untuk itu, Mbah Hasyim mendirikan NU. Tidak juga Mbah Wahab, Mbah Bisri dan para muassis lainnya.

Ibarat NU itu adalah sumur berisi air yang sangat tawar, nyaman diminum banyak orang, kemudian ada satu dua orang yang mengaku NU atau dianggap NU menumpahkan air laut ke dalam sumur tersebut, kira-kira apa yang akan Mbah Hasyim lakukan pada orang itu?

By Ustadz Abrar Rifai
(Ponpes Babul Khairat, Malang)