Prabowo dan Waspada PKI


[PORTAL-ISLAM.ID] Berita pidato yang dibacakan rektor Universitas Pertahanan (Unhan) sudah beredar 2 hari. Pidato yang mengajak kita waspada tentang kebangkitan dan bahayanya PKI, juga meminta peran guru ikut aktif menceritakan bagaimana kekejaman PKI bagi negeri ini.

Sedikit kaget waktu pidato itu dari diri beliau.

Karena sejak kabinet Jokowi mulai ditetapkan, agenda yang terlihat untuk digaungkan adalah masalah Radikalisme. Mulai dari kementerian yang penuh kontroversial, kementerian agama hingga ke kementerian pendidikan menjadi satu suara dengan program radikalisme yang menjadi fokus ke depannya.

Saat pidato Prabowo muncul, pertama kali yang terlintas adalah rada keluar jalur dari apa yang sedang digaungkan Jokowi. Secara pribadi saya senang, karena PKI adalah ancaman yang nyata.

PKI bisa menyamar menjadi apa saja untuk menguatkan legitimasi mereka dan memfitnah seseorang atau kelompok dengan permainan yang mereka pentaskan.

Banyak orang memakai cadar dan cingkrang dan berlaku barbar atas busana itu untuk diskreditkan Islam. Tapi, tidak satupun kita melihat ada busana non muslim yang terhakimi karena berbuat onar. Tanya kenapa?

Bagaimana jika niat "teroris" ini bukanlah membunuh, melainkan ingin tertuduh?

Bagaimana jika keislaman mereka hanyalah topeng yang dijalankan dalam periode tertentu, agar identitas itu menjadi jejak yang menjadi bukti bahwa mereka adalah orang islam?

Jika benar, yang melakukannya adalah orang-orang yang membenci agama ini, karena dianggap sebagai lawan atas keberadaan mereka.

Siapa mereka..?

Adalah mereka yang sudah nyata menjadi lawan abadi umat muslim sejak era perjuangan dulu. Mereka yang dulu pernah mendapatkan panggung, mereka yang dulu memberontak untuk mengganti idiologi bangsa ini dan mereka yang sudah dibubarkan dan terlarang di negara ini.

Jika perwira TNI saja bisa difitnahnya, maka apa saja bisa mereka tuduh termasuk agama Islam. Yang mereka ingin jatuhkan adalah apa yang mereka anggap sebagai lawan berat.

Ketika fokus pemerintah adalah memerangi radikalisme, sosok Prabowo membelokkan setir ke arah PKI dan wajah barunya sehingga perlu diwaspadai kebangkitannya.

Kementerian Pertahanan ini diisi oleh para purnawirawan TNI yang sudah hapal dengan berbagai pergerakan yang dianggap sedang mengancam NKRI. Pengalaman mereka adalah dasar mereka dalam menilai. Ketika sudah terlontar, itulah yang mereka pikirkan.

Menhan sebelumnya, Ryamizard Ryacudu beberapa kali sering bentrok opini saat ia secara tegas mengungkapkan kekhawatirannya akan PKI. Ryamizard Ryacudu pernah berlawanan dengan Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan saat menko ini berniat menelusuri kuburan ex yang tertuduh PKI.

Kivlan Zen pun beberapa kali mengadakan forum diskusi dan mengatakan kebangkitan PKI itu nyata. Kalau dipikir, apakah keterangan KZ itu hanya halusinasi belaka? Seorang purnawirawan seperti KZ, masih memiliki loyalis yang saat ini masih aktif di kesatuan.

Dan KZ harus dibungkam dengan kasus yang saat ini menjeratnya. Informasi yang pernah ia sebarkan, saat ini hening seiring terbelenggunya kebebasan beliau.

Hanya TNI yang berbicara tentang bahaya PKI, dan hanya Kemenhan yang masih berani bicara ini. Ketika kewaspadaan ini mereka lontarkan, pasti ada pihak-pihak yang akan terbakar.

Saya percaya pidato Prabowo itu nyata, namun ada kekuatan kuat yang memintanya klarifikasi atas pemberitaan yang beredar. Sudah 2 hari beritanya ada, namun pada malam ke-2 beritanya diklarifikasi "seperti" ada yang tidak suka.

Negara ini membawa kesepakatan dengan negara lain sebagai bentuk kerjasamanya, termasuk dalam bentuk pinjaman/hutang. Kita gak tau bagaimana kesepakatan itu, karena mereka yang pasti tau. Saat PKI sudah menjadi musuh negara dari dulu, kenapa harus hati-hati berbicara atas kemunculannya?

Bisa jadi ada komitmen atas kesepakatan bersama pada negara yang telah membantu, untuk terlarang bicara PKI. Siapa negaranya?

Gak usah disebut, yang jelas negara yang getol membina kerjasama dengan negara ini dan beridiologi sama dengan PKI.

PKI itu terlarang melalui keputusan MPR, namun membicarakannya bisa jadi terlarang karena ada pihak yang merasa panas kala PKI lebih dianggap bahaya dari pada program memberantas radikalisme yang mereka dengungkan.

Justu pemberantasan radikalisme malah kerap menyasar pihak-pihak yang tertuduh tanpa proses peradilan atau ketetapan DPR/MPR. Memakai peradilan jalanan, hanya karena pakaian dan juga ajaran Alquran, mereka bisa tertuduh radikal dan terlarang secara sepihak atas aktifitas yang dilakukan. Bahkan dalam masjid pun bisa diawasi.

Dahnil Anzar jubir Menhan boleh saja klarifikasi bahwa pidato itu bukan pernyataan Prabowo. Namun orang tua saya mengajarkan...

"Kata pertama adalah kata yang jujur. Jika ada perbaikan dari kata pertama, maka perbaikan itu adalah kata yang tidak sebenarnya yang ingin ia katakan."

Prabowo akan jadi bulan-bulanan lagi, sosoknya akan dikatakan lemah dan terinvensi atas kekuatan di belakang layar. Ucapan sang macan sudah jadi kucing akan keluar untuk menertawakan. Bagi saya, bukan itu persoalan utamanya.

Yang utama saat ini, apa yang dikatakan Kivlan Zen, apa yang diingatkan oleh Menhan sebelumnya Ryamizard Ryacudu, apa yang pernah dikhawatirkan oleh Gatot Nurmantyo dengan ancaman nyata negeri ini, dan pidato jujur Prabowo kemarin adalah bukti bahwa PKI benar ada dan sedang menyusun kekuatannya kembali.

Ketika ada yang menyebut bahaya PKI, liat siapa yang merasa jengah akan hal itu. Ketika ada yang meramaikan PKI, liat siapa yang membantah akan hal itu. Mereka yang tidak ingin PKI semakin intens dibicarakan, mereka yang ingin negara ini tetap fokus pada program unggulan radikalisme yang sudah habiskan dana besar.

Sampai disini, perlukah kita waspada?

By Setiawan Budi (fb)