Karhutla: Cerita Usang


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jadi bencana rutin (hampir) tiap tahun. Asap sebagai hasilnya bikin sengsara jutaan orang baik di Indonesia maupun negeri jiran.

Ini bukan cerita baru. Kalau dari pendapat pribadi saya, ini tentang dua soal saja: kemampuan ‘membina’ perusahaan-perusahaan itu (menang-menangan kekuasaan) dan kemampuan mencegah serta menindak. Jadi kalau karhutla masih masif, ya tinggal cek yang dua faktor itu.

Tahun 1999 saya mewakili Majalah Mingguan GAMMA diajak Sekjen Departemen Kehutanan waktu itu, Soeripto, sidak (inspeksi mendadak) ke Riau soal kebakaran yang terjadi, juga illegal logging. Awalnya cuma saya sendiri yang diajak, tak ada media lain. Tapi tau-tau menjelang berangkat, Majalah Tempo bergabung. Saya lupa siapa, yang jelas nama rekan tersebut Arif (ada beberapa Arif di sana, waktu itu).

Kami naik heli Super Puma, keliling udara Riau. Staf Dephut sibuk menunjukkan titik-titik panas dimana asap dan api timbul. Rata-rata terjadinya di lahan yang mau dibuka perusahaan (nah!). Ada juga memang pembakaran lahan oleh penduduk, secara terpisah-pisah. “Cara membakar ini ya paling efisien dan efektif utk membuka dan menyiapkan lahan,” kata mereka, mengakui.

Setelah ke beberapa tempat, kami mendarat di komplek perusahaan, sebut saja PT ANU, yang punya lahan luas untuk tanaman penghasil kayu buat bahan kertas. Kedatangan mendadak Pak Ripto disambut tergopoh-gopoh oleh para petinggi perusahaan. Presentasi tentang kegiatan usaha sehari-hari PT Anu dilakukan seorang direktur.

Saya ingat Pak Ripto mengajukan sejumlah pertanyaan kritis dan sering tak puas dengan penjelasan perusahaan. Suaranya meninggi di beberapa kesempatan. Saya bisa melihat wajah para petinggi itu gugup, nggak nyaman.

Yang paling konyol seusai sesi, saat kami menuju heli, saya dikejar-kejar seseorang yang ternyata petugas Humas PT ANU. Saya ingat dia ini sebenarnya juga wartawan lokal. Yang jelas dia mepetin saya lalu menyerahkan ampop tebal (ya, tebal banget) berisi uang. Entah apa motifnya, tapi saya pahamlah, ini uang tutup mulut, atau kalaupun ntar menulis ya artikelnya santun.

Saya tolak dengan wajah masam (bayangin, udahlah muka segini-gininya, bermuka masam pula). Saya bilang saya bertugas meliput, bukan menerima amplop. Pucat si Humas ini. Kami pun terbang balik ke Pekanbaru. Pak Ripto curhat dalam heli (dan di pesawat Garuda) soal temuan yang ia dapati selama 2 hari (Kami, misalnya, menangkap basah truk illegal logging yang beraksi hanya 100 meter dari kantor Inhutani).

Jadi, balik ke karhutla, kalau begini saja terus, tak ada niat menunjukkan ‘who’s the boss’ pada para pelaku usaha jahat itu, juga pada sekelompok masyarakat yang sengaja membakar lahan sehingga kabut asap muncul, maka tak ada yang patut diharapkan. Terus saja akan begini. Kecuali jika ada keberanian menyudahi ini semua.

Penulis: Ahmad Husein
Loading...