Perusahaan Minyak Arab Lebih Memilih Malaysia Ketimbang Indonesia, MENGAPA?


[PORTAL-ISLAM.ID]  PERUSAHAAN MINYAK ARAB, LEBIH MEMILIH MALAYSIA KETIMBANG INDONESIA

(1) Saudi Aramco adalah perusahaan raksasa Arab Saudi. Keuntungan yang mereka raih tahun lalu adalah US$ 111,1 miliar atau setara Rp 1.600 Triliun.

Keuntungan ini mengalahkan keuntungan raksasa perusahaan teknologi AS, Apple. Untuk laba 2018, Apple hanya mampu meraup US$ 50 miliar atau setara dengan Rp 711 triliun, setengahnya pun gak sampai dari keuntungan Saudi Aramco.

Keuntingan Saudi Aramco ini bisa di gambarkan keuntungan seluruh perusahaan minyak dunia seperti Chevron, Shell, BP, Total, Exxon dijadikan satu sekaligus.. meskipun masih di bawahnya juga.

Jadi, terbayang kan betapa raksasanya Saudi Aramco ini?

(2) Saudi Aramco sudah mengumumkan bahwa mereka akan berinvestasi keluar, dan rencana Saudi Aramco ini menarik minat pertamina bersama bapak Jokowi sebagai presidennya. Mereka berharap setetes dua tetes kucuran dana dari Aramco.

(3) Indonesia sudah mengincar kerjasama dengan Saudi Aramco sejak tahun 2014.

Tahun 2015, terjadi kesepakatan Heads of Agreement (HoA), dimana Pertamina dan Saudi Aramco akan membangun kilang bersama di Cilacap.

https://www.pertamina.com/en/viewarchive/news-release/pertamina-dan-saudi-aramco-tandatangani-hoa-upgrading-kilang-cilacap

HOA diartikan sebagai sebuah komitmen para pihak yang dituangkan dalam tulisan dan tidak dimaksudkan mengikat. Bentuknya pun lebih umum dari perjanjian dan tidak rinci, HOA hanya digunakan sebagai pembuka suatu kerja sama. Implikasinya adalah apabila salah satu pihak memutuskan untuk tidak melanjutkannya, maka pihak yang lain tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk meneruskan perjanjian selanjutnya yang dituangkan lebih rinci dalam perjanjian lain.

(4) Kemudian, pada Desember 2016 lalu, kedua entitas telah meneken Kesepakatan Kerja Sama Pengembangan Perusahaan Patungan (Joint Venture Development Agreement/JVDA).

https://www.optimativa.com/berita/tanda-tangan-perjanjian-joint-venture-pertamina-dengan-saudi-aramco

JVDA bisa di artikan bentuk kegiatan penanaman modal asing. Tujuan utama mendirikan sistem ini adalah agar perusahaan yang memberikan kekuatan ekonomi kepada perusahaan induk mendapatkan keuntungan secara bersama-sama.

Dalam kesepakatan tersebut, rencananya Pertamina akan memiliki saham 55 persen dan Saudi Aramco sebesar 45 persen. Kesepakatan ini berakhir pada 30 Juni 2019.

Namun JVDA belum bisa di artikan Saudi Aramco berminat untuk mengelola kilang minyak yang di tawarkan oleh Pertamina. JVDA hanya berupa perjanjian awal, belum memutuskan. Ada kendala mengapa Aramco terlihat lama memutuskan, alasan itu di karenakan nilai aset evaluasi dari kilang minyak yang sudah ada.

Pertamina mempunyai hitungan atas nilai valuasi aset. Namun, perusahaan Saudi ini pun akan menghitung sendiri nilai evaluasinya. Arab-arab begini, mereka juga gak mau di bego'in.

Valuasi yang dihitung Pertamina mencapai US$ 5,66 miliar. Namun, Aramco hanya menilai proyek sebesar US$ 2,8 miliar.

Hal ini yang membuat hingga masa waktu JVDA akan habis akhir Juni 2029, Saudi Aramco belum ada keputusan untuk menggarap kerjasama ini ke arah lebih lanjut. Perjuangan pemerintah Indonesia bersama Jokowi sudah luar biasa melobi agar perusahaan Arab tsb mau kerjasama dengan mereka.

(5) Dalam kunjungannya ke Saudi, Jokowi juga mencoba kembali utarakan kelanjutan kerjasama Aramco pada raja Arab, Salman. Namun belum ada jawaban pasti di sana.

https://internasional.kompas.com/read/2019/04/14/22040351/setelah-santap-siang-jokowi-dan-raja-salman-bahas-kerja-sama

(6) Kemudian, di KTT G20.

Hari kedua pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, di INTEX, Osaka, Jepang. Jokowi menggelar pertemuan bilateral dengan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman alias MBS. Bukan hanya Jokowi dan putra mahkota Arab, para menteri mereka pun sudah melakukan pertemuan juga di sana.


https://www.jpnn.com/news/bertemu-pangeran-saudi-jokowi-bahas-kerja-sama-pertamina-aramco

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati juga telah melakukan pertemuan dengan Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih di sela-sela Pertemuan Menteri Energi G20, 16 Juni 2019 lalu di Jepang.

(7) Namun hingga berakhirnya waktu JVDA, belum ada kepastian yang di katakan oleh pihak Aramco.

Pertamina panik, dan mengubah skenario cadangan jika nilai valuasi itu masih jadi kendala kerjasama di lakukan. Dan menyodorkan kilang Petrokimia selain kilang Cilacap sebagai alternatif.

Lagi-lagi, pihak Aramco bergeming. Belum ada jawaban pasti dari mereka.

(8) Sebaliknya, mereka terlihat mesra dengan Malaysia. Bulan Maret 2018, Aramco dan Petronas mengumumkan kerja sama mereka dengan membentuk dua usaha joint ventures untuk proyek pengembangan kilang dan petrokimia terpadu (Refinery and Petrochemical Integrated Development/RAPID Project).

PETRONAS, Saudi Aramco Announce Formation Of Their Two New Joint Ventures In Malaysia
https://www.petronas.com/media/press-release/petronas-saudi-aramco-announce-formation-their-two-new-joint-ventures-malaysia

Meski baru diumumkan Maret, tak perlu waktu bertahun-tahun seperti Cilacap, sampai akhirnya Petronas dan Aramco kembali mengumumkan proyek kilang berkapasitas 300 ribu barel sehari dengan investasi US$ 7 miliar dan siap beroperasi pada tahun ini.

Bahkan mereka sudah membangun kilang baru yang akan selesai November ini, untuk kemudian akan menguji kapasitasnya di bulan berikutnya (Desember).

(9) Kemesraan Malaysia dan Saudi Aramco di buktikan lagi dengan kerjasama proyek lepas laut antara perusahaan minyak Arab tersebut dan konsorsium Technip FMC Plc - Malaysia Marine and Heavy Engineering Sdn Bhd (MMHE).

MMHE, TechnipFMC meterai perjanjian bersama Saudi Aramco
https://www.bharian.com.my/bisnes/korporat/2018/12/512968/mmhe-technipfmc-meterai-perjanjian-bersama-saudi-aramco

Di kutip dari media negeri Jiran di atas, perjanjian ini memiliki durasi kontrak 6 tahun dan akan di perpanjang dengan jumlah tahun yang sama.

(10) Saat Indonesia mengharapkan setetes-dua tetes dana investasi Saudi, ternyata Malaysia sudah berenang di lautan investasi mereka tanpa menunggu waktu yang lama seperti keinginan pemerintah agar Saudi kelola kilang minyak Cilacap yang telah di mulai dari tahun 2014.

Apakah ini karma dari kebencian pada Arab yang di lakukan oleh pendukung Jokowi sendiri? Allahu alam....biarkan Tuhan yang menilai dan memutuskan semuanya.

Maaf Pak Jokowi, Saudi Aramco Pilih Malaysia Ketimbang RI

Jangan kecewa Indonesia, masih ada China yang bisa segalanya. Coba hubungi Luhut, pasti dia akan terbang dan pulang membawa berita gembira bahwa China akan mampu wujudkan segalanya.

😉

By Setiawan Budi [fb]

Loading...