Antara Nasi Goreng Teuku Umar dan Nasi Goreng Gondangdia VS Restu HRS


[PORTAL-ISLAM.ID] Pasca pertemuan Prabowo dengan Jokowi di stasiun MRT, ILC besutan Karni Ilyas belum mengangkatnya menjadi topik diskusi. Namun setelah pertemuan Megawati dengan Prabowo yang “disaingi” di hari yang sama oleh pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan, ILC tadi malam (Selasa, 30 Juli 2019), mengangkat topik diskusi bertema: "Antara Teuku Umar dan Gondangdia, 212 Hendak Kemana?"

Saya mencoba menangkap apa yang ada di benak Pak Karni sehingga menjadikan “212” sebagai entitas penting yang diposisikan di antara 2 pertemuan makan siang tersebut. Tentu saja hanya Pak Karni yang tahu tepatnya apa alasan beliau mengangkat tema itu.

Namun saya menduga, Pak Karni yang juga aktif di medsos — twitterland — menangkap kegalauan ummat, khususnya para pendukung paslon capres 02 yang juga umumnya pendukung Anies Baswedan, atas kedua pertemuan itu. Ada suasana unhappy di kalangan pendukung Prabowo ketika Prabowo seakan “rujuk” kembali dengan Megawati, mantan pasangannya di Pilpres 2009 lalu. Begitu pula ada rasa gusar ketika Surya Paloh seakan menunjukkan dukungan kepada Anies Baswedan.

Kenapa ummat galau, gusar, unhappy?! Sebab selama ini sosok Megawati yang juga Ketua Umum PDIP serta Surya Paloh yang dianggap representasi dari Metro TV sekaligus Ketua Umum Nasdem, diposisikan sebagai tokoh sekaligus politisi yang berseberangan dengan aspirasi ummat Islam, terutama dalam kasus Ahok tahun 2016 – 2017, yang sangat melukai hati ummat Islam. Hanya berselang 2 hari pasca event terakbar dalam sejarah bangsa Indonesia — yaitu Aksi Super Damai 212 — Paloh dkk menggelar aksi tandingan 412.

Sedangkan Anies disimbolkan sebagai antitesa Ahok. Santun, lembut, tidak pernah berkata kasar dan kotor. Anies juga merehabilitasi kampung-kampung yang dulu digusur Ahok, menyegel pulau reklamasi yang dulu diijinkan Ahok, menutup Alexis yang dulu dibiarkan beroperasi oleh Ahok. Maka, ketika Surya Paloh terlihat mencoba “merangkul” Anies dengan mengundangnya makan siang di kantor DPP Nasdem si Gondangdia, jelas ummat tidak suka, gusar. Mereka khawatir Anies jadi “tercemari” dan dampaknya akan jadi seperti Ridwan Kamil, yang ditinggalkan ummat ketika mulai dekat dengan Nasdem. Walaupun tentu saja beda sekali membandingkan Anies dengan RK, dan Anies tidaklah segegabah itu merespon upaya Nasdem untuk mengambil hatinya.

Begitu pula dengan Megawati, dia dianggap sebagai “biang keladi” Jokowi bisa jadi presiden. Kalau saja Mega tak mengkhianati perjanjian Batu Tulis dan tidak memberikan mandat pada Jokowi untuk jadi capres pada 2014, mungkin kondisi negara tak akan seperti sekarang ini. Jadi, wajar jika para pendukung Prabowo sangat tidak suka melihat Prabowo ber-akrab ria, sowan ke rumah Mega di Teuku Umar.

Nah, dari dua pertemuan itu, kemana alumni 212 dan para ulamanya akan berpihak?!

Mungkin kira-kira begitulah konstruksi berpikir yang hendak dibangun oleh ILC.

Mewakili FPI ada jubirnya, Munarman, yang intinya menyatakan bahwa FPI — bagian dari 212 — akan menunggu Ijtima’ Ulama yang akan digelar pada 5 Agustus pekan depan. Dulu ketika masa pencapresan, ada beberapa aspirasi yang dititipkan kepada paslon capres 02 untuk diperjuangkan, yang kemudian diwujudkan dalam Pakta Integritas. Kini, setelah paslon capres 02 “dikalahkan”, maka bagaimana upaya untuk memperjuangkan aspirasi ulama dan ummat itu. Tentu harus dicari jalan lain untuk bisa mewujudkannya.

Ustadz Haikal Hassan menyampaikan pendapatnya dengan menyebut bahwa para Nabi hakikatnya selalu menjadi OPOSISI. Nabi Ibrahim As. menjadi oposisi terhadap Raja Namrudz, Nabi Musa As. menjadi oposisi terhadap Raja Fir’aun. Nabi Muhammad S.a.w menjadi oposisi terhadap penguasa Quraisy dan setelah sekian tahun kemudian berhasil menaklukkan Mekkah, maka Nabi Muhammad menjadi “khalifah”, tidak lagi oposisi. Artinya posisi menjadi oposisi itu berhenti ketika sudah berkuasa.

Babeh Haikal juga mengingatkan kembali tentang asal muasal lahirnya Aksi 212. Bahkan Babeh Haikal juga menolak statement 2-3 nara sumber yang seolah-olah menyatakan bahwa saat ini rakyat memberikan mandat penuh kepada Pak Jokowi untuk melanjutkan pemerintahan selama 5 tahun ke depan. Ustadz Haikal meluruskan bahwa ulama dan ummat akan terus mengawasi bagaimana Jokowi menjalankan pemerintahan. Jika dalam perjalanannya ada hal-hal yang merugikan ummat, maka tentu 212 sebagai eksponen ummat dan ulama akan kembali melakukan koreksi, melakukan perlawanan.

Yang paling menarik bagi saya, lagi-lagi adalah pernyataan Rocky Gerung. Rocky menegaskan bahwa “212” TIDAK BISA DISIMPLIFIKASI-kan atau disimbolkan dengan tokoh. Tidak bisa dianggap jika si Anu dan si Fulan sudah bertemu, maka selesailah semuanya. Itu adalah kesalahan membaca “teks” gerakan 212. Sebab hakikatnya 212 itu muncul dari persoalan bangsa ini yang belum selesai sejak dulu. Dulu mungkin soal perdebatan “Piagam Jakarta”.

Rocky tidak sepakat dengan narasi: Antara nasi goreng Teuku Umar dan nasi kebuli Gondangdia, 212 akan kemana? Justru Rocky mengajak kita semua berimajinasi “liar” : ditengah 2 pertemuan tadi, lalu datanglah Habib Rizieq Shihab memberikan sesuatu kepada Sandiaga Uno, maka selesailah semuanya. Nasi goreng dan nasi kebuli akan datang sendiri, sebab yang di Teuku Umar dan di Gondangdia akan datang merapat. Nah lho, Rocky, gue suka gaya lo berimajinasi!!

“Fiksi” ala Rocky itulah yang justru paling tepat menggambarkan KEDUDUKAN ummat sebagai pemilik mandat, pemilik suara. Bukan mereka (212) yang diombang-ambingkan oleh manuver politik para elite, namun ulama dan ummat lah yang seharusnya menentukan arah politik 5 tahun ke depan: siapa yang kami mau di 2024!

Aksi 212 terjadi karena sentimen yang sama terhadap Ahok, namun 212 saat itu TIDAK untuk mendukung Anies – Sandi. Hanya saja, ketika pilgub memasuki putaran kedua, tak ada pilihan lain, ketika Anies – Sandi berhadap-hadapan dengan Ahok, maka seluruh kekuatan 212 bersatu memenangkan Anies – Sandi.

Begitu pula dalam Pilpres 2019, ketika pilihannya hanya ada Jokowi VS Prabowo, maka jelas yang memungkinkan dititipi aspirasi ulama dan ummat, alumnus 212, adalah Prabowo. Maka eksponen 212 pun all out berupaya memenangkan Prabowo.

Ketika dalam realitanya ada kecurangan, ada ketidakberesan dalam perhitungan suara, dll, ummat memang tidak punya legal standing untuk menggugat secara hukum. Sebab hak untuk menerima atau tidak menerima hasil Pilpres ada pada paslon.

Namun apakah ummat berpangku tangan?! TIDAK!! Ummat dengan caranya sendiri menunjukkan protes mereka atas kecurangan Pilpres lewat aksi 21 – 22 Mei maupun pengawalan sidang MK sejak 14 Juni sampai sidang putusan 27 Juni. Meskipun Prabowo menghimbau agar pendukungnya tak perlu turun ke jalan, namun ummat tetap turun ke jalan, menunjukkan eksistensi mereka, bahwa mereka menolak suaranya dicurangi.

Memang, aksi-aksi ummat sejak pengumuman KPU hingga putusan MK belum membuahkan hasil. Namun setidaknya ummat sudah menunjukkan bahwa merekalah pemilik hak suara yang sah, merekalah sang pemilik mandat!

Sesungguhnya energi besar alumni 212 inilah yang telah menggulirkan issu-issu besar di tanah air dalam 2 tahun belakangan ini. Sebut saja ketika Mardani Ali Sera menggagas ide yang dituangkan dalam hastag #2019GantiPresiden, dalam tempo sekejap hastag itu bak bola liar tak terbendung, lalu menjelma menjadi sebuah gerakan. Semakin dihalangi untuk deklarasi di berbagai kota, Neno Warisman dipersekusi, semakin kuat soliditas ummat. Siapa massa yang membesarkan gerakan #2019GantiPresiden? Tak lain mayoritas adalah alumni 212 yang tersebar di berbagai daerah.

Rocky benar, “212 tidak lahir di Monas”. Ya, sebab sesungguhnya gerakan 212 bukan hanya didukung oleh 7,5 juta ummat yang waktu itu sempat hadir di Monas. Namun semangatnya mengalir dalam diri semua orang yang menginginkan PERUBAHAN. Itu sebabnya reuni 212 pada Desember tahun 2018 lalu pesertanya jauh lebih banyak dari Aksi 212 di tahun 2016.

Energi itu akan terus tersimpan dan sewaktu-waktu akan “meledak” lagi menjadi kekuatan ummat untuk mengkoreksi segala bentuk ketidakadilan.

Imajinasi liar Rocky benar, untuk pertarungan di 2024 nanti masih terbuka lebar peluang bagi siapa saja, kecuali petahana yang pada 2024 nanti tidak mungkin maju lagi.

Maka, siapapun yang didukung ummat dan direstui ulama, tetap akan jadi magnet besar yang akan didekati partai politik.

Boleh saja kubu manapun menyiapkan calonnya sedari sekarang, namun jika tak sesuai aspirasi ummat, akan sulit didukung!

Maka dari itu, harapan pada ijtima’ ulama IV yang akan digelar 5 hari lagi: semoga 212 menjadi PENENTU, BUKAN PENGEKOR.

Seperti kata Ustadz Haikal Hassan, para Nabi hakikatnya selalu menjadi oposisi terhadap kekuasaan, maka para ulama yang menjadi pewaris Nabi, hendaklah menjadi pemimpin ummat untuk ber-OPOSISI. Ulama dan ummat akan bersama-sama meneriakkan #KamiOposisi !!

Percayalah bahwa ulama bersama ummat punya posisi tawar yang kuat, untuk mengkritisi sekaligus melawan segala bentuk ketidakadilan.

Bukan sebaliknya : ulama dan ummat diombang-ambingkan dalam permainan politik para elite.

(Oleh: Iramawati Oemar)

[Video - ILC]
Loading...