Anies Baswedan Menjawab Politif Akomodatif Surya Paloh


Anies Baswedan Menjawab Politif Akomodatif Surya Paloh

Oleh: Dr. Nursobah
Pengamat Kebijakan Publik

Saat mentari belum tinggi di langit Jakarta. Banyak orang sibuk dengan rencana Mega - Prabowo yang sekarang akan meet up. Tapi sedikit orang bicara Paloh yang melompat bagai tupai dengan lincah cerdik meski terkadang licik. Itu dulu... Namun pasca kedekatan beliau dengan beberapa tokoh 212. Stigma Paloh sosialis sedikit berkurang meski belum hilang dan bersih.

Paloh bukan politisi kemaren sore. Sejak gagal dalam kontestasi capres bersama Prabowo. Ia seperti tersadar bahwa Akbar Tanjunglah politisi kawakan saat 2004 lalu. Dan sejak saat itu "Pak Brewok", demikian sebagian koleganya memanggilnya, mulai merasa dikadalin para politisi Golkar. Yah...itu pembelajaran yang sangat mahal. Dimana Akbar Tanjung yang lebih 30 tahun sebagai politisi Golkar saat itu menjadi sang maestro dan penakluk banyak tokoh nasional. Termasuk kepiawaiannya dalam menaklukkan sikap kompromistis Amien Rais dan Gusdur yang harus mengambil langkah realistis juga Megawati yang harus menerima pilihan pahit sebagai wapres. Padahal Megawati ketua partai pemenang Pileg 1999.

Konvensi Partai Golkar 2004 menjadi sekolah politik bagi Surya Paloh yang juga ikut serta dalam kontestasi bersama Prabowo dan Wiranto. Ide Akbar Tanjung kala itu seakan menjadi celah baru bagi politik Indonesia. Inilah narasi yang tidak dan belum dimiliki para tokoh Islam saat itu dalam menjawab kebuntuan sekaligus wadah adu gagasan yang memadai. Euforia politik yang terbuka saat itu menjadikan semua tokoh seakan berkaliber nasional bahkan internasional. Padahal the real is blank.

Celah sejarah lain yang muncul adalah hadirnya lembaga survey LSI sebagai institusi survey yang kuat. Bersama Qodari dan Saiful Mujani, Deny JA membangun branding bahwa takkan bisa menang kecuali anda sudah disurvey. Begitu kira-kira slogan yang ingin ditularkan LSI. Pecahnya lembaga survey ini menjadi beberapa bagian karena beda kepentingan dan 'hujan' yang kurang merata. Sehingga muncul banyak lembaga survey pasca 2004. Khususnya pasca Pilpres.

Kembali tentang Paloh yang menantang Anies Baswedan dengan rayuan kandidat pemimpin bangsa. Sebenarnya ini berita basi. Paloh yang sudah merubah gaya politiknya yang egois menjadi humoris akomodatif. Telah banyak belajar bagaimana politik harus selalu terbuka, akomodatif dan konstruktif. Gayanya yang ingin meniru Soekarno dalam pidato dan semangat. Telah berhasil merubah sedikit tampilannya sebagai orator handal. Meski masih banyak yang harus di make up.

Umpan Paloh untuk Anies masih sebatas penjajakan. Bukan tawaran final. Begitu juga Anies. Menjawab tawarannya dengan terbuka. Siapa Anies dan donaturnya, siapa Paloh dan donaturnya. Tentu sedang mencari kecocokan transaksi kepemimpinan sekaligus memberi pesan Megawati bahwa 'Your leader is the end, Now this is the next leader'. Sikap ini memang tergolong sukses meski menang tipis saat RK (Ridwan Kamil) dimunculkan. Namun pilihannya kala itu cukup tepat hingga RK naik.

Bagaimana kelanjutan lingkar pengaruh yang akan dimainkan? Meski Surya Paloh bukan 'deep state', tapi beliau adalah satu dari yang dibekingi 9 'naga'. Dan kini 9 menjadi 3 cluster besar, tentu membuang Indonesia tak mungkin. Karena lebih dari 5.000 trilyun 'kue' bangsa ini terlalu sayang jika tak masuk dalam pusaran kuasa merah putih.

Adapun Anies, betapapun idola baru yang sukses men-scale up diri dari lingkar Jokowi sebelumnya hingga 'stand alone' saat ini. Paling tidak 100 trilyun APBD DKI dibawah kendalinya. Inilah salah satu cerdas finansialnya Anies disamping cerdas kata yang sangat lihai juga kokoh jika bertutur.

Akankah terjadi ejakulasi dini pertemuan yang masih terlalu pagi ini atau justru itu akan mengalami penguatan yang saling mendukung untuk 2024? Akankah Anies mampu manjadikan 2022 (Pilkada DKI) sebagai warming up 2024? Atau justru shut down? Kita akan lihat info dan berita menariknya pasca 2020.

Jakarta memilih pasti akan lebih semarak jika nama Anis yang lain muncul sebagai play maker Indonesia dengan ikut sertanya dalam gelanggang terbuka Batavia. Bisa jadi Anies akan gaet Anis Matta. Atau keduanya bersatu dalam isu Betawi (Pilkada 2022) dan berpisah dalam isu ke Indonesiaan (Pilpres 2024).

Atau Surya Paloh (SP) yang akan menjadi garda bargaining bagi Anies untuk masuk lebih dalam menjadi penyela sejarah Indonesia. Dari wong Jowo keturunan Arab sebagai penyelamat bangsa sebagaimana kakeknya telah memulai sebagai pahlawan nasional juga tanah kelahiran SP sebagai kontributor bangsa.

Apakah ini titik temu SP dan Anies? Bisa jadi. Sejarah akan menggiring soliditas mereka dalam pertemuan pertemuan meet up mereka yang akan intens. Khususnya pasca alotnya Gerindra menyerahkan wagub ke PKS. Dan Nasdem dibawah Paloh berminat untuk menaikkan kelas partai birunya menjadi salah satu yang memaksa semua partai harus berhitung dan wajib menghitung. Bahwa Parta Nasional Demokrat.. jangan pernah diremehkan oleh PDIP sekalipun Prabowo yang digandeng. Dan kini saatnya semua harus terbuka dan open mind. Karena politik bukan matematika biasa. Tapi matematika penuh misteri yang selalu asik untuk dipecahkan atau dinikmati.

End.

Baca juga :